SEMARANG – Seringkali sekelompok aktivis anti rokok ‘mati-matian’ kampanye anti rokok dengan dalih kesehatan. Konon, asap rokok menjadi sumber racun malapetaka yang menghancurkan generasi muda.

Konon juga, di balik tameng logika ‘kesehatan’ itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang tembakau.
Masih tetap konon, kemudian terjadilah konspirasi global dengan kekuatan Internasional, muncullah ampanye “ROKOK MEMBUNUHMU”. Tetap konon katanya, kampanye itu disponsori oleh Bloomberg Initiative, sebuah lembaga berkedudukan di Amerika Serikat untuk membayar ilmuwan dan lembaga penelitian, termasuk, menyeponsori lembaga keagamaan, agar membuat fatwa haram atas rokok. Sebuah pertarungan politik bisnis internasional agar Indonesia kehilangan kekayaan negeri sendiri.

Tapi banyak fakta menyebut bahwa menjadi tembakau adalah hasil bumi yang menjadi penyumbang terbesar di negeri khatulistiwa ini.
Di Kota Semarang, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean A Semarang, mencatat bahwa Cukai Hasil Tembakau (HT) mencapai realisasi Rp 651.708.708.993.470. Angka itu melejit melampaui angka yang ditargetkan yakni Rp 463.122.720.480, atau mengalami kenaikan menjadi 140,72 persen. Itu penerimaan selama 2015 lalu.

Berikutnya disusul cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA), mencapai Rp 418.041.344.920. Sektor ini tidak mencapai angka yang ditargetkan yakni Rp 602.123.572.000. Sedangkan cukai Pabean, yang merupakan bea masuk (impor) dan bea keluar (ekspor), baik melalui darat, laut, maupun melalui udara, menyumbang Rp 13.150.981.000, mengalami kenaikan dari target Rp 10.289.916.600.

Namun demikian, secara keseluruhan, Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean A Semarang melampaui target yang ditentukan. “Kami melampaui target yang ditentukan. Secara keseluruhan ada peningkatan kurang lebih 1 persen,” kata Kepala Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean A Semarang, Iman Prayitno, Senin (18/1/2016).

Target awal yakni Rp 1.075.536.209.080, sedangkan realisasi penerimaan secara total mencapai Rp 1.082.901.319.390, atau kurang lebih mengalami peningkatan menjadi 100,68 persen.

Dikatakannya, Bea dan Cukai sebagai unsur pelaksana tugas pokok dan fungsi Departemen Keuangan Republik Indonesia di bidang kepabeanan dan cukai, terkait segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan lalu lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea masuk dan bea keluar, menjadi penyumbang terbesar setelah pemerintah provinsi.

“Sesuai motto kantor kami, Lebih Fokus Lebih Baik, maka kami selalu berusaha melakukan yang terbaik. Selalu fokus melayani para pengguna jasa,” terang Iman.

Dia mengaku akan terus meningkatkan pelayanan guna mempermudah proses bisnis antara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan para stake holder. Di antaranya dengan diberlakukannya aplikasi Cukai Online. Iman berharap, dengan adanya Cukai Online, pelayanan di bidang cukai pihak perusahaan tidak perlu datang ke kantor Bea Cukai. “Cukup mengajukan permohonan secara online dari perusahaan yang bersangkutan,” ujarnya. (bangjoco-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here