SEMARANGAN – Selain dikenal dengan kuliner khas Lunpia, Semarang memiliki minuman khas yang fenomenal di kalangan masyarakat ‘garis keras’. Tak lain dan tak bukan, adalah minuman yang dikenal dengan sebutan congyang.

Memang, ini varian minuman beralkohol kandungan 19,63 persen dengan beraroma kopi moka. Komposisinya merupakan hasil fermentasi beras putih, gula pasir, spirit, aroma, pewarna makanan Karmoisin CI No 14720, Tartrazin CI No 19140 serta Brilliant Blue CI No. 42090.

Meski jarang sekali dipublikasikan, minuman yang aslinya tertulis merek Cap Tiga Orang ini cukup terkenal. Tidak hanya untuk anak muda, kalangan dewasa pun banyak menggemarinya.

Masyarakat Semarang lebih akrab menyebutnya ‘Congyang’ ketimbang Cap Tiga Orang, merek aslinya. Belum diketahui siapa, atau sejak kapan, istilah minuman Congyang tersebut mulai beredar. Diperkirakan memang telah beredar sejak puluhan tahun silam. Para penjual botol ecerannya tak jarang harus kucing-kucingan dengan polisi agar lolos dari razia miras. Meski saat di luar tugas, banyak polisi tak segan mencicipi hangatnya congyang. #cleguk

Minuman ini memang diedarkan sebagai ‘jamu’ penghangat tubuh dengan dosis tinggi. Tertulis peringatan, usia di bawah 21 tahun dan wanita hamil dilarang mengonsumsi minuman kemasan botol ini.

Konon, meminum Congyang ini bisa membuat otot-otot dan saraf jadi kendur, hingga mengakibatkan peminumnya terasa lepas, bebas dan “melayang-layang”. Namun jika berlebihan bisa memabukkan hingga hilang ingatan. Bahkan jika overdosis ataupun dioplos (dicampur) dengan minuman lain bisa membahayakan nyawa.

Khas rasanya yang menghantam ini justru membuat para peminumnya ketagihan. Kesan bila Congyang hanyalah minuman tukang ojek, preman terminal, maupun kalangan proletar, lambat laun menghilang, Congyang mulai digemari semua kalangan. Bahkan wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang di Semarang kerap hunting minuman yang hanya bisa didapatkan Semarang dan sekitarnya ini.

Sebagian masyarakat termasuk kepolisian menilai minuman Congyang menjadi pemicu utama terjadi aksi krimalitas. Namun bagi petualang miras, jalan-jalan di Semarang tidak afdhol kalau belum mencicipinya. Tak jarang, Congyang dijadikan oleh-oleh para lelaki. Kios remang-remang seperti melambaikan tangan, sembari menyambut; Selamat Datang di Kota Congyang. (bangjoco-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here