Makhluk bernama kesedihan itu tak pernah mengenal waktu dan alamat. 

Tanpa melihat harkat, martabat, derajat dan pangkat. Ia bisa saja singgah dan menyelinap masuk di relung hati preman, pengusaha, karyawan, seniman, mahasiswa hingga pengangguran. 

Ya, kesedihan memang bagian dari rasa yang misterius tanpa diketahui kapan tiba dan kapan pergi. Tidak ada orang di dunia ini yang bisa menghindari dari kesedihan, kecuali kalau dia berhati batu.  

Setiap saat, saya selalu membaca doa warisan nenek moyang agar bahagia dunia akhirat, eh kesedihan tetap saja datang. Kurang ajar betul itu kesedihan, batinku. 

Macam-macam sabab musabab sehingga kesedihan itu terjadi. Andai saja kesedihan itu datang dengan menampakkan wujudnya, pasti sudah kuajak duel secara lelaki. Tapi rupanya dia makhluk halus yang tidak gentleman untuk sekadar menunjukkan wujudnya.

Kesedihan cenderung ditandai perubahan emosi yang seolah-olah membuat perasaan tidak beruntung, kehilangan, kerusakan, ketidakadilan, apa-apa tak sesuai harapan, maupun ketidakberdayaan. Kadang, menangis adalah salah satu indikasi kesedihan.

Misalnya cewek idaman tak kunjung paham atas perasaan yang paling dalam. Udah ngebet pengin gandengan tangan, eh dianya malah kencan sama orang hutan. Duh, kasihan. Hape kesayangan hilang, daftar lamaran pekerjaan tak kunjung dapat panggilan dan seterusnya. Kecewa berat rasanya. 

Apa boleh buat, karena sudah terlanjur sedih, bisanya cuma menikmati kesedihan itu sendiri. Mengelus-elus kesedihan itu, lalu meninjunya keras-keras.

Tapi sedih juga bisa menyehatkan sendi-sendi kebatinan. Kalau tidak bisa bersedih, justru patut curiga jangan-jangan ini Arca Candi Borobudur. Kalau sedih itu sehat, tentu menangis itu boleh. Namun kiranya perlu dibedakan antara “menangis karena sedih” dan “menangis karena cengeng”. Yang haram itu kalau kamu “menangis karena cengeng”. Dikit-dikit nangis, dikit nangis. Diputusin pacar nangis, itu mah cengeng namanya. 

Dalam konteks lain, menangis itu perlu. Saya pernah sedih karena gagal menangis. Waktu itu, ibu saya di kampung telepon untuk mengabarkan kondisi sakit. Terpaksa saya tidak bisa pulang karena suatu sebab. Sedih sekali rasanya, tapi saya gagal meneteskan airmata karena sedang pakai kostum metal. Kondisi mau naik panggung konser, malu dong sama teman-teman.

Mungkin memang begitulah di antara cara kesedihan datang. Di lain waktu, kesedihan itu datang menjelma harga kuota internet mahal. Waduh….

Celaka, belakangan kesedihan itu malah menjadi-jadi menjelma apapun. Ia juga menjelma acara-acara televisi yang hanya didominasi talkshow abal-abal. Saya sedih karena disuguhi tontonan para penonton bayaran. Berbagai program ajang pencari bakat yang lebay dan host-host yang cerewet hingga sinetron-sinetron melelahkan. 

Televisi juga dominan menjadi corong politik bagi pihak-pihak berkepentingan. Apalagi kalau pemiliknya politikus. Sulit rasanya menemukan televisi yang netral. Karena televisi telah menjadi bagian industri dan mesin uang. Semua bisa dibeli. Program-program televisi hanya menjadi alat framing berkedok dialog dan diskusi. Alat politik yang paling strategis untuk propaganda isu.

Masih ada memang program acara televisi yang bermutu. Tapi tidak banyak. 

Adanya malah memertontonkan kesedihan orang kecil. Orang-orang itu sengaja diundang untuk menghibur penonton dengan menceritakan cerita pilunya. Apalagi “Reality Show Katakan Putus” duh, kasihan anak Indonesia dijejali kebodohan-kebodohan. Saya seringkali emosi sendiri ingin membenturkan kepala ke tembok, tapi kasihan temboknya. 

Saya bertanya-tanya, apa mereka itu tidak punya tontonan yang lebih bermutu? Atau setidaknya menginspirasi publik untuk berkarya, atau mencintai tradisi budaya. Boro-boro menginspirasi, mereka malah memertontonkan adegan memeras air mata orang kecil.

Sedih rasanya, melihat program televisi telah direbut politikus. Sisanya dikuasai host-host yang berbusa-busa dan ribuan episode sinetron. Sedih rasanya, Indonesia kehilangan lagu anak-anak. (Robic Quick)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here