Budaya nongkrong, kumpul-kumpul, memang membuat kecanduan. Mulai geng anak muda di perkampungan, bapak-bapak kesepian, aktivis masjid, mahasiswa galau skripsi, pekerja resah gaji, enggak lelaki enggak perempuan, perawan, maupun janda seksi, tak melewatkan moment harian bernama nongkrong. Selain asyik, nongkrong juga menyehatkan pikiran ketimbang menjadi generasi murung yang ketakutan akibat masa depannya suram.

Berbagai macam tema diskusi spontanitas tak jarang berseliweran. Ngalor-ngidul, mulai nggosip koalisi para jomblo ditikung teman, stres akibat mbribik adik-adik semester dua tak kunjung berhasil, isu tolak gerakan ayo mondok, konyolnya hari santri, busuknya di balik pendidikan, jual beli ijazah sarjana, hingga bagaimana menyusun rencana revolusi yang sadis.

Berbagai macam tempat nongkrong bisa jadi pilihan. Mulai kedai kopi paling serius, kafe remang-remang, lesehan trotoar, warung kopi tradisional, hingga teras kos-kosan. Serasa hidup bebas di negeri yang benar-benar sudah merdeka. Kalau sudah begini mah enggak perduli di luar sana ribut berlomba mendirikan partai, cicak-buaya tetap menjadi musuh bebuyutan yang saling memendam dendam. Sementara koruptor asyik berebut duit APBN maupun APBD.

Bagi saya, bagi saya lho, angkringan (sego kucing alias kucingan, istilah di Semarang, Red) adalah republik tanpa konsep yang dihuni orang-orang bahagia. Rasane hmmm,,, mung Dek Dewi sing ngerti perasaanku mbengi iki. #eh

Sego Kucing seperti republik kecil yang terletak di tepi gapura surga. Sungguh damai sepanjang masa, tak ada tuding-menuding dan lempar-melempar kesalahan, tak ada yang sok paling beragama. Adanya jamaah jomblo kesepian yang saling berbagi kepahitan. Paling-paling petugas Satpol PP bawa pentungan yang nyari setoran #ups…keceplosan.

Intinya, nongkrong di kucingan memang mengasyikkan, meski stabilitas isi dompet nyaris blong-blongan. Kalau Mahasiswa masuk Starbucks Coffe ya keren juga sih. Duduk dengan gaya orang kaya, tenang dan tampil elegan. Namun sesampai kamar kos kepalanya pusing–siapa karena lagi mikir siapa target sasaran utangan berikutnya. Wah, kalau faktanya begitu jangan bilang kalau kamu mahasiswa UIN Walisongo Semarang lho. Apalagi bilang aslinya Kepil Wonosobo. Duh, betapa tercorengnya muka dunia persilatan.

Oh tidak, mestinya kita tidak perlu terpengaruh status maupun situasi kekacauan apapun bentuknya. Mau miskin, mau kaya, mau DO, mau sarjana, mau jomblo mau sok punya pasangan, mau lulus semester empat belas atau dibilang enggak cerdas babar blas, ah itu enggak urusan. Yang paling penting dalam hidup ini adalah: mari ciptakan inspirasi-inspirasi. Jadilah republik ini diisi oleh generasi muda yang ceria, generasi yang anggup hidup bahagia meski harus pontang-panting di abad kekacauan. Sebab dengan begitu, negeri ini menjadi memiliki power yang maha dahsyat. Semua rakyat bisa tertawa bahagia tanpa harus gila untuk menjadi PNS yang dengan bangga nyusu kepada negara.

Bagi saya, itulah hakikat revolusi yang sesungguhnya. Hha mbok yao kalau mau revolusi itu ya ndak hanya dema-demo thok, itu melelahkan dan cenderung enggak cerdas. Semangat revolusi kok hanya bisa menggonggong di depan halaman kantor DPRD, ha yo mesti rak mempan. Revolusi itu ya yang ekstrim! Elegan dan berwibawa. Biar pemerintah ketakutan, semua pejabat negara gemetaran. Maka perlu bisa merevolusi dengan cara bikin tragedi yang fenomenal, sehingga bisa dikenang dan tercatat dalam sejarah peradaban manusia di dunia sepanjang masa. Santet massal misalnya, atau sekalian bunuh diri nasional (Itu kata Cak Nun).

Salam…. (Robic Quick/bangjo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here