DALANG muda Ki Catur Wahyu Nugroho berinovasi memadukan dua jenis wayang, yakni wayang kulit dan wayang wong menjadi satu kesatuan dalam panggung pertunjukan. Selain itu ia juga merampingkan durasi pertunjukan tanpa mengurangi isi cerita wayang pakem.

Kreativitas pertunjukan wayang terus mengalami inovasi disesuaikan dengan kondisi perkembangan zaman. Hingga kini telah 12 tahun, wayang ditetapkan UNESCO sebagai warisan mahakarya dunia sebagai media seni bertutur. Maka sudah semestinya wayang dijaga kelestariannya dengan membuat inovasi-inovasi baru.

Ki Catur Wahyu Nugroho adalah salah satu generasi dalang muda asal Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, yang memiliki potensi kreativitas berbasis modern. Namun tanpa meninggalkan unsur wayang pakem.

Ia memadukan dua jenis wayang, yakni wayang kulit dan wayang wong menjadi satu kesatuan dalam panggung pertunjukan. Cerita panjang dalam pewayangan yang tak jarang memeras energi ingatan penonton, disiasati dengan meringkas durasi pertunjukan. Tentu saja hal itu diupayakan tidak mengurasi nilai-nilai ataupun isi cerita dalam pertunjukan wayang tersebut.

Inovasi wayang yang ia gagas diberi nama Wayang Kulit-Wong Kelir. Kelir atau tirai persegi panjang, berwarna putih yang menghasilkan efek bayangan siluet itu menjadi penyatu identitas dalam dua jenis wayang tersebut. Baik untuk wayang kulit maupun wayang wong yang memuat unsur teater tradisional jawa.

“Ide awalnya dari kelir. Baik dari wayang kulit dan wayang wong, keduanya menggunakan kelir. Nah, akhirnya saya gabungkan menjadi satu pertunjukan,” kata Ki Catur Wahyu Nugroho saat berbincang dengan BangJoco, belum lama ini.

Inovasi itu diharapkan mampu membuat kejutan-kejutan baru yang dimunculkan di atas panggung pertunjukan. Sehingga pertunjukan wayang tidak monoton dengan visual panggung yang itu-itu saja.
Ia juga meringkas adegan dalam pertunjukan dengan cara membuang adegan-adegan yang dinilai tidak penting.

Dalam pertunjukan wayang lakon ”Srikandi Sang Senopati” yang dihelat di gedung Serbaguna Taman Budaya Raden Saleh Semarang (TBRS) Minggu (7/11/2015) lalu, pergelaran Wayang Kulit Wong Kelir ini cukup berdurasi singkat yakni kurang lebih 45 menit.

“Saya mengambil bagian-bagian penting saja dari pakem alur yang panjang. Mulai babak pambuka, babak Pathet Sanga (inti permasalahan), babak pathet manyura (penyelesaian), dan babak penutup,” terang seniman yang mengaku dalang adalah cita-citanya sejak kecil.

Selain Ki Catur yang mengendalikan wayang kulit, sedikitnya ada 11 orang yang sebagai aktor dalam wayang wong. Sedangkan tim ilustrasi melibatkan kurang lebih 15 orang termasuk penabuh gamelan.
Menurut Catur, sudah selayaknya bahwa pertunjukan wayang disajikan dan dengan memiliki konsep kreatif dan inovatif. Artinya, lanjutnya, mampu menciiptakan hal-hal baru yang dapat diterima oleh masyarakat. “Dalang harus mampu berkompetisi di era globalisasi seperti sekarang ini,” imbuhnya.

Kreatif dalam hal ini, lanjutnya, mencakup unsur-unsur garap pakeliran yakni, sabet, catur dan karawitan pedalangan. Sedangkan Inovatif, artinya mampu menyusun karya pertunjukan wayang. Sehingga mampu memunculkan inovasi-inovasi baru dalam pementasannya. “Baik dalam bentuk, konsep, maupun sajian pertunjukan wayang itu sendiri,” bebernya.

Sementara kreativitas dalam iringan atau karawitan pedalangan, meliputi sulukan, dan gendhing. Secara pakem, lanjutnya, jejer Astina menggunakan iringan gendhing Kabor. Namun untuk menggambarkan keadaan Negara Astina dalam keadaan sedih tentu gendhing Kabor kurang sesuai dengan suasana, karena gendhing Kabor memiliki suasana Agung, maka untuk memberikan kesan sedih gendhing yang digunakan adalah gendhing Tlutur yang susunan gendhingnya membentuk suasana sedih.

“Sehingga mampu membangun suasana sedih akan lebih berkesan dalam hati sanubari penonton,” terangnya.

Menurutnya, pertunjukan wayang tidak harus menambahkan unsur-unsur seperti penyanyi dangdut, musik dangdut, musik pop, pelawak dan sebagainya, selama hal itu merusak cara pandang masyarakat terhadap pertunjukan wayang. Sebab hal-hal tersebut memiliki wilayah berbeda. “Sebenarnya seorang dalang cukup mengandalkan daya kreativitasnya dalam mengolah dan menyusun karyanya sesuai dengan suasana yang diinginkan, upaya tersebut sekiranya telah mampu diterima dan diminati masyarakat pendukung pertunjukan wayang kulit,” imbuhnya.

Dalam pertunjukan wayang, terang Catur, bagi dalang kreatif tentu perlu dipertimbangkan lagi. Ia menyebut, jika pertunjukan wayang disajikan selama semalam suntuk atau kurang lebih tujuh jam, misalnya mulai pukul 21:00hingga pukul 04:00, tentu akan sangat berat untuk masyarakat umum saat ini.

“Tak jarang, penonton meninggalkan pertunjukan wayang. Padahal pertunjukan tersebut belum selesai. Hal ini mengakibatkan penonton tidak mengetahui atau paham jalannya cerita secara keseluruhan. Maka hal itu perlu disiasati,” katanya.

Misalnya pertunjukan wayang full hanya disajikan selama empat atau lima jam saja, yakni pukul 21:00 hingga01:00. Untuk mengurangi durasi pertunjukan wayang tersebut bisa dilakukan dengan cara ‘membuang’ adegan-adegan yang tidak penting. “Misalnya adegan babak unjal, gapuran, kedhatonan serta mengurangi eksistensi sisi hiburannya, sebagai contoh adegan limbukan dan goro-goro tidak perlu menghabiskan waktu sampai berjam-jam, sehingga pertunjukan tidak terkesan untuk senang-senang saja,” katanya.

Jika durasi lebih efisien dan efektif, maka ia yakin penonton akan lebih betah untuk menikmati sajian pertunjukan wayang tersebut. “Misalnya pertunjukan di TBRS yang rutin dilakukan setiap malam Jumat Kliwon. Pakelirannya hanya disajikan hanya kurang lebih empat sampai lima jam, terbukti penonton masih begitu banyak hingga pertunjukann wayang selesai,” katanya.

Ia sepakat, setiap dalang melakukan inovasi atau pembaharuan terhadap pertunjukan wayang kulitnya. “Hal ini sangat perlu dilakukan sebagai salah satu cara menghadapi tantangan global. Kenyataannya, masyarakat dewasa ini lebih cenderung menyukai hal-hal baru dan serba instan atau siap saji. Hal ini, menunjukan bahwa masyarakat dewasa ini tidak mau berpikir rumit,” ujarnya. (bangjoco-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here