Pungutan liar (pungli) di sejumlah instansi pemerintahan lagi jadi pusat perhatian. Tiap hari nongol di tipi, koran, online, sampai radio. Setiap kepala daerah seolah-olah ingin tampil bak pahlawan kesiangan. Menggelar operasi tangkap tangan (OTT) sana sini.

Padahal, mereka sudah tahu jauh-jauh tahun sebelumnya, kalau di situ biasa ada oknum pungli. Wong sudah jadi rahasia umum kalau titik-titik instansi tersebut kerap nodong warga yang lagi butuh pelayanan buat ngurus ini itu.

Jangan wali kota maupun gubernur, Pak RT pun sudah tahu kalau banyak oknum pungli. Banyak sekali hingga ngalahin jumlah jomblo di Indonesia. Lucunya, mereka ada di tempat-tempat pelayanan yang sebenarnya tidak dibutuhin warga.

Ngurus Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau bayar pajak kendaraan, misalnya. Itu sebenarnya negara yang butuh. Sebenarnya sih warga enggak butuh-butuh amat punya KTP. Malah kalok perlu enggak usah ada KTP. Biar enggak ketahuan statusnya sudah kawin atau belum. Itu mempermudah peluang untuk mencari gebetan. Toh punya KTP tidak menjamin bisa masuk surga. Tapi sebagai warga negara yang taat administrasi dan taat hukum, maka sebaiknya punya KTP. Apalagi buat kamu-kamu yang hobi ngutang duit bank. Tentu KTP itu wajib.

Demi keutuhan NKRI, mari berikan aplause buat Pak Jokowi, gubernur, wali kota, pak camat, pak lurah, bu lurah, yang akhir-akhir ini perhatian terhadap pungli ini. Mereka getol inspeksi mendadak (sidak) untuk menangkap tikus kantor yang doyan duit recehan itu. Biasanya, lembaran uang nylempit di stop map, atau laci petugas pelayanan.

Di layar tipi, wajah petugas yang tepergok pungli ini tiba-tiba mengkeret kayak bandit terserang TBC. Wajah petugas pungli mendadak memerah seperti nahan mencret. Bagaimana tidak, dia malak warga di depan hidung atasannya. Sekali dua kali, ini pemandangan yang menarik bagi warga.

Akan tetapi, saking tiap harinya ditampilkan di layar tipi, aksi OTT itu menjadi kisah yang sangat membosankan. Bagaimana tidak, banyak pejabat seperti latah untuk ikut-ikutan sidak pungli. Anehnya, pejabat sidak pungli ini sengaja mengajak wartawan. Tak lama kemudian, tersebarlah berita pejabat A diberitakan membabat praktek pungli. Tentu saja, yang terkesan adalah tren pencitraan konvensional yang tidak kreatif. Mungkin takut kalok dianggep enggak kerja atau pigimane saiya enggak tahu. Yang jelas, bupati, wali kota, gubernur hingga pimpinan polisi kompak sidak pungli. Pertanyaannya adalah, selama ini tidur panjang ya Om? 🙂

Pimpinan polisi ada yang punya kreativitas akting kayak film india. Belio menyamar sebagai pengendara sipil dan sengaja menerobos marka dan lampu Bangjo. Sang perwira disemprit dan digelandang ke pos polisi. Lantas ia ditilang oleh anak buahnya sendiri. Pimpinan polisi tenang meski ditilang. Ia kemudian memancing untuk negosiasi. Celakanya, petugas polisi yang menilang malah meminta uang damai. Tanpa Babibu, sang perwira yang lagi ‘hunting’ ini berbunga-bunga dalam hati, karena jebakannya berhasil. “Butuh uang segar?” Enak aja! Gelang borgol udah di depan mata. Polisi pungli yang bernasib sial ini kontan digelandang. Wah, wah, wah…jeruk makan jeruk dong.

Itupun baru jeruk nipis. Coba kalau ada jeruk bangkok bertemu jeruk bangkok. Pasti kemungkinan ada dua; pertama, jadi berita viral yang menghebohkan jagad maya. Kedua, diam seribu bahasa dan bekerjasama saling menguntungkan.

Kembali ke pungli, prinsipnya saya setuju kalau praktek pungli betul diberantas secara jujur. Saya mendukung sidak pejabat manapun demi menghabisi bandit-bandit kantor yang digaji pakai APBN/APBD itu. Tapi mereka suka mengeruk keuntungan di balik kewenangannya. “Jangankan Ratusan Juta, Pungli Rp 10 Ribu Akan Saya Urus!” begitu Pak Jokowi bilang.

Mudah-mudahan mantan juragan mebel yang meroket ke istana merdeka itu benar-benar serius. Agar tetanggamu, saudaramu, temanmu, tidak perlu menjual sepetak tanah untuk menjadi seorang polisi maupun tentara. Tidak perlu menjual sawah untuk sekadar menyogok cita-cita menjadi PNS. Kalok cita-cita saya mah ingin masuk surga saja. Tapi insyaallah “tidak ada uang pelicin” melalui jalur orang dalam. (Dirdjo Soekotot)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here