​Kawan saya punya hobi karaoke. Mau mabuk, ngambung, dan teriak bebas? Karaoke jawabnya. 

Kalau punya sedikit “duit lanang” (istilah untuk uang suami yang nggak masuk ke kantong istri) dia ngajak karaoke.

Tidak ada tempat karaoke yang paling dia sukai. Yang penting oke karaoke. Kelas lesehan tanpa fasilitas kedap suara, hanya bisa memangku pemandu karaoke (PM), dan player masih terbatas VCD, dia suka.

Karaoke kelas studio yang bebas olah-vokal (teriak), sampai 3 oktaf, dengan player lagu koleksi lengkap dan boleh eksekusi PK di tempat, dia lebih suka.

Masalahnya, pagi ini, ada pesan BBM dari isteri kawan saya, yang cukup genting, “Mas, Bojoku opname di RSUP dr Karidi. Mau bengi bar mabuk.”. 

Sebagai kawan, saya forward pesan BBM itu kepada kawan lain: Kak Ito, Roy, dan Jabal. Pasukan karaoke berkumpul.

Saya baru nyadar, kalau pengalaman dia malang melintang di dunia karaoke, sudah menularkan kebiasaan itu kepada kawan-kawan lain. Kak Ito dulu pria musholla, yang pendiam, kalau sisiran “piyak pinggir”. 

Sejak kenal karaoke, Kak Ito memperlakukan karaoke sebagai “terapi psikologis”. Mumet? Karaoke sik. Kepingin hiburan yang mengkombinasikan: mabuk, ngambung, dan bebas teriak? Karaoke jawabannya.

Roy yang nggak pernah gelisah di malam hari kalau isterinya buka BBM dia, akhir-akhir ini harus pakai trik “hapus obrolan sebelum pulang”, agar tidak ketahuan kalau dia sering karaoke.

Sebenarnya, no problem. Orang punya pilihan menghibur-diri. Sayangnya, kawan saya nggak tahu kalau saat dia masuk dunia karaoke, pelan-pelan ada nilai tambah di balik karaoke.

Jabal Nur yang dulu suka ngaransemen lagu rock, akhir-akhir ini musiknya terlalu banyak terkontaminasi unsur dangdut koplo.

Selain uang, dia harus “Rela” (ini judul lagu dangdut) dipeluk PK, mau “mimik jahat” alias mabuk, dan keluar duit tambahan. Tidak jarang, dia karaoke karena diajak “bosse” (terlalu banyak orang yang dia panggil “Boss”, lagi trending topic). Merasa hutang-budi. Atau nyari utangan, sesuk disaur.

Bukannya menakut-nakuti, ini fakta. Minuman keras KW itu berbahaya. Pabrik Vodka di Indonesia itu sebelah mana? Vodka itu import, dan kebanyakan yang diminum di tempat karaoke itu bajakan. Nggak sehat. Tidak teruji secara klinis.

Kak Ito menyarankan, mendingan ngoplos dewe. Minuman tradisional yang sehat. Atau biasakan nggak mendem minuman KW.

Kalau sudah “kena” seperti kawan saya, kasihan fisiknya, waktunya, dan tolong.. “Jangan bilang isteri saya. Salam buat Mami Vera, Santi, dan Ningrum. Aku absen sik. Prei karaoke. Ganti pijet ae,” 

Ndan, tolong peredaran miras diawasi benar-benar, biar yang masuk ke karaoke benar-benar berlabel Depkes asli, bukan KW. (-d-)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here