Musisi asal Semarang sebenarnya sering mampu menembus pasar permusikan nasional. Sebut saja Power Slaves dan Blue Savana. Namun entah kenapa, berkali ulang musisi Semarang tumbang. Hanya dalam waktu singkat, mereka tenggelam hilang entah di mana.

Kali ini, sebanyak 10 band indie asal Kota Semarang disiapkan untuk bersaing di kancah permusikan nasional. Tentu saja, 10 band tersebut bukan asal mencuat, akan tetapi lahir setelah melakukan ‘onani’ selama 1 tahun.

Bagaimana tidak, mereka telah melewati proses lomba karya cipta lagu sejak setahun lalu. 10 band tersebut terpilih setelah diseleksi dari sebanyak 60 band yang turut bertanding. Kemudian mereka digembleng oleh para dedengkot musik yang telah malang melintang di dunia musik.

Setelah proses seleksi, mereka melakukan proses rekaman dan pembuatan video klip. Genap setahun, di penghujung tahun 2015, para musisi muda asal Semarang itu siap meroket untuk diproyeksikan bisa menembus bursa musik nasional. Ke-10 band tersebut telah bertengger dalam album bertajuk Kompolasi Musikini Volume 1.

Latar belakang lahirnya kreativitas yang mengangkat musik Indie Semarang tersebut tak terlepas dari dua tokoh senior, pemerhati musik asal Semarang yang tinggal di Jakarta.

Kedua tokoh senior asal Semarang tersebut adalah Ausie Kurnia Kawoco dan Djoko Moernantyo. Ausi bekerja sebagai seorang auditor di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sedangkan Djoko adalah seorang wartawan yang telah 20 tahun malang melintang di majalah musik ternama di ibu kota Jakarta.

Mereka mengaku diliputi rasa gelisah, jengkel sekaligus geram saat melihat kondisi musik di Indonesia. Tak satupun musisi Semarang yang tampil di layar televisi nasional. Hal itu membuat mereka gelisah, dan diteror pertanyaan; anak-anak Semarang tidur di mana ya?

“Tiap kali nonton televisi, hati saya sakit. Kenapa yang muncul itu itu saja? Sheila On 7, Dewa 19, Noah dan lain-lain. Musisi Semarang ke mana? Jujur, saya sering misuh-misuh sendiri,” kata Ausie Kurnia Kawoco, belum lama ini.

Kegelisahan itu menggumpal selama bertahun-tahun. Hingga Ausie akhirnya bertemu kawan lamanya yang dulu duduk sebangku di SD Cakra Srondol Wetan Semarang. Dia adalah Djoko Moernantyo.
Sebuah warung kopi menjadi saksi bisu munculnya ide pembuatan kompilasi musik Indie Semarang tersebut. Gayung bersambut, Djoko dengan senang hati meresponnya. Mereka kemudian saling menghubungi sejumlah teman lama yang bergerak di bidang musik, seperti Hari Djoko, pentolan grup Congrock 17 asal Semarang. Termasuk meminta support seorang music director ternama di Jakarta, yakni Ully Dalimunthe.

Ully sendiri telah lama berkecimpung di dunia musik. Termasuk pernah menangani sejumlah artis ternama sebut saja; Dewi Sandra, Ari Lasso, BIP, dan D’Gank. Gayung bersambut, lahirnya ide project pembuatan album kompolasi band Indie yang menampilkan 10 band tersebut.
“Mas Ully ini adalah musik director album kompiliasi ini. Setelah ketemu, visi-misi kami ternyata sama,” kata Ausie.

Mereka akhirnya menyusun langkah untuk mengerjakan project tersebut. Selain itu, kata dia, project ini tidak ada satupun sponsor yang mendanai. Setelah rencana matang, akhirnya mereka membuat publikasi tentang lomba karya cipta lagu band Indie Semarang. “Ternyata pendaftar atau pengirimnya kurang lebih 60 band. Sungguh luar biasa, saya tidak menyangka bisa sebanyak itu. Proses awalnya sejak Januari 2015 lalu, kemudian dilakukan audisi selama 3 bulan,” katanya.

Selama proses seleksi tersebut, mereka melibatkan sebanyak empat dewan juri dari luar Semarang. Mereka mengaku terhenyak melihat produk musik kiriman para kawula muda Semarang tersebut. “Setelah kami dengarkan secara seksama, ternyata band-band ini bagus-bagus. Saya berpikir, selama ini tidur di mana ya?” katanya.

Keempat dewan juri akhirnya memilih sepuluh lagu terbaik dengan berbagai macam genre. Mulai rock, metal, rap, post modern rock, hingga dangdut. Mereka yang terpilih telah melewati seleksi ketat, baik kualitas vokal, arransemen, serta harmonisasi bunyi. “Mereka yang terpilih juga harus pekerja keras. Siap jadi artis, teknis maupun mental. Tidak gampang kena syndrom,” terangnya.

Menurut Ausie, hampir semuanya memiliki daya tarik yang kuat. Mereka berhasil mengeksplore musik secara kreatif dan tidak mainstream. “Semua memang butuh ide ‘gila’, keberanian yang lebih total. Kami berharap nantinya bisa mewarnai musik nasional. Ayo bareng-bareng membesarkan Semarang,” tegasnya.

Setelah terpilih 10 band, selanjutnya adalah proses rekam ulang dan pembuatan video klip. Proses rekaman dilakukan di studio Strato Semarang, para musisi muda asal Semarang yang telah teruji telentanya itu menjalani dengan lancar.

Djoko Moernantyo menegaskan, bahwa dirinya hanya ingin menjadi cambuk bagi para musisi Semarang. “Kenapa tidak bangun, ayo bangun. Tidak memandang genre apa. Awalnya banyak musisi sombong, yang metal ya metal, yang punk ya punk. Tapi sekarang harus guyub bersama-sama. Yang metal bantuin dangdut. Ini bukan untuk saya, bukan untuk siapa-siapa, melainkan ini untuk Kota Semarang,” bebernya.

Sepuluh band yang mengisi Kompilasi Musikini Volume 1 tersebut masing-masing; New Face New Wave ‘Noda Hitam’, The Jaka Plus ‘Yovie’, D’Jawir ‘Janda 2X’, Adam Soraja ‘Kusuka’, Rentdo ‘Dari Sahabat untuk Sahabat’, Sunday Sad Story ‘Confession’, Bello ‘Takkan Kumiliki’, 2ND Clan ‘Cewek Manja’, Distorsi Akustik ‘A Man Who Called Eve’, dan Giga Of Spirit ‘Parampa’.

Manajeman album ini digarap tidak main-main, distribusi penjualan CD dan DVD album kompilasi ini beredar di kota-kota besar di Indonesia. Bahkan, juga didistribusikan ke pasar musik di Malaysia. (bangjoco-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here