Bicara ‘Germo’, yang terlintas di otak cenderung langsung mengarah kepada prostitusi. Tetapi lain hal, ‘Germo’ di sini justru menjadi sentra panggung sastra.

Barangkali kedua istilah ini memang memiliki peran sama, yakni sama-sama menjadi sentra. Istilah ‘Germo’ dalam makna sesungguhnya, berperan sebagai induk semang dalam praktik prostitusi atau pelacuran. Sedangkan ‘Germo’ di sini berupaya menjadi sentra komunitas sastra melalui panggung pertunjukan puisi-teaterikal.

Para pelaku seni sastra ini melabeli komunitasnya sebagai Gerakan Rakyat Miskin Kota (GeRMO) Semarang. Sesuai dengan segmen kerakyatan yang ia pilih, mereka memiliki aktivitas sastra dari kampung ke kampung. Bisa dibilang mereka ‘meninggalkan’ gedung pertunjukan yang megah, tetapi intens membuat pertunjukan sastra rakyat di gang-gang permukiman.

Mereka mengenalkan sastra terutama di kawasan kumuh padat penduduk, pasar tradisional, sarang preman, kaum marjinal hingga lokasi-lokasi pelacuran. Bisa saja hadir di pos kampling, halaman masjid, gereja, kelenteng, ataupun bekas pasar terbakar. Banyak tokoh dihadirkan tak memandang apa agamanya, kiai, ustad, ulama, budayawan, sastrawan, preman, intelektual, hingga seniman.

Mereka mengajak masyarakat mengupas segala hal polemik kemanusiaan, kerakyatan, politik kekuasan, kerakusan, keadilan, kebijaksanaan, hingga ketuhanan. Memantik pengembaraan alam imajinasi berpikir melangit sekaligus menembus bumi. Mengajak masyarakat untuk terbang tinggi seperti burung menggunakan cara pandang luas, sekaligus belajar turun ke bumi untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia.

Di setiap aktivitas GeRMO terjadi interaksi publik untuk berpikir logis. Merestart alam berpikir setelah setiap hari masyarakat dijejali berbagai persoalan melelahkan. Dari atas panggung, mereka menertawakan lelucon konflik beragama yang mengada-ada, menertawakan diri sendiri yang terlibat hidup di tengah kokonyolan, dan tertawa menjadi juru penghibur di negeri yang sakit.

Setidaknya, keberadaan GerMO menjadi penyegar dan penyeimbang dari berisiknya kehidupan. Ketika orang-orang senang ‘berlatih berbicara’, maka perlu juga ‘berlatih diam’ dengan perenungan. Ketika media pesta kata-kata bertabur kekasaran, maka melalui sastra lah belajar melawan dengan kelembutan.

Keberadaan GeRMO tak terlepas dari peran pemikiran sastrawan muda di Semarang, bernama Lukni Maulana. Pria kelahiran Semarang, 24 Juli 1984 itu mengaku hanya ingin mengajak masyarakat menumbuhkan kembali tradisi budaya berkumpul dalam suasana santai, segar, tapi berisi. Ia bersama teman-teman seperjuangannya, masing-masing; Basa Basuki, Tri Budiyanto, dan Goenoeng Percussion, menjadi motor penggerak komunitas ini.

“GeRMO dibentuk atas buah kegelisahan dan kesamaan visi-misi. Sastra menyatukan elemen-elemen berbeda. Banyak hal sederhana yang selama ini tak tersentuh. Melalui hal paling sederhana sehari-hari, kami mengajak berinteraksi, komunikasi, berpikir dalam suasana segar dan menyenangkan,” kata Lukni, belum lama ini.

Kenapa memilih istilah GeRMO? Lukni mengaku hanya berupaya lebih mendekatkan diri dengan unsur kerakyatan. Selama ini, kata dia, istilah ‘Germo’ cenderung mengarah kepada hal negatif. “Nah, kami ingin mengubah citra kata ‘Germo’ yang selama ini negatif dengan arti induk semang bagi pelacur. Sangat negatif dan jelek. Kami berempat memiliki pendapat sama. Ingin mengubah citra itu. Sebagai bentuk perlawanan, GeRMO di sini mengubah cara berpikir, baik menggunakan logika maupun hati,” katanya.

Sastra, kata dia, merupakan ruang kecil yang bisa digunakan sebagai sudut pandang secara luas tentang seluk beluk kehidupan. Selain berdiskusi berbagai tema, mereka selalu mementaskan kemasan puisi dengan teaterikal yang kemudian dikenal sebagai sastra pertunjukan. “Selain sebagai sentra sastra, kami berusaha mengajak masyarakat membudayakan tradisi berkumpul,” kata pria jebolan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur dan lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang (sekarang UIN Walisongo Semarang) ini.

Aktivitas berkesenian itu tak terlepas dari latar belakang Lukni yang selama kuliah aktif di
Kelompok Pekerja Teater (KPT) Beta UIN Walisongo Semarang. Kesehariannya, Lukni dikenal orang sekitarnya sebagai sosok yang selalu gelisah dan enggan berdiam diri. Mulai aktif dan pernah menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid Ar-Rosyid Banjardowo Genuk Semarang dan Pengurus GP Ansor.

Di kediamannya, ia juga mendirikan taman baca Pondokbanjar Semarang dan Rumah Pendidikan Sciena Madani sebuah komunitas yang bergerak dalam dunia pendidikan dan maiyah kehidupan. Keuletannya memang tak terlepas dari sederet pengalamannya berorganisasi, mulai pernah menjabat sebagai Pimpinan Redaksi di Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Cabang Semarang dan pernah menjadi Dosen pengampu Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Akademi Keuangan Perbankan (AKP) Widya Buana Semarang.

Memiliki kegemaran menulis sejak mahasiswa, hingga kini, nama Lukni Maulana tak asing di berbagai kolom esai dan opini di sejumlah media cetak. Begitupun kegiatan literasinya terus terasah. “Menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan sebuah hiburan untuk keabadian. Maka kami selalu mengajak masyarakat untuk menulis,” imbuh suami Ninik Ambarwati ini

Di antara karya-karyanya dalam bidang tulis menulis dituangkan ke dalam terbitan buku. Sedikitnya ia hingga kini telah menerbitkan tiga buku yakni Antologi Puisi Ajari Aku Jadi Orang Indonesia (Oase Qolbu/2012) dan Cinta; Penderitaan dan Ketaatan (Yabawande/2015), dan kumpulan cerpen Sang Morvious (Lembah Manah/2013). Karya-karyanya juga dimuat di puluhan Antologi Puisi Bersama seperti Kumpulan Puisi untuk Gus Dur; Dari Dam Sengon ke Jembatan, Jalan Remang Kesaksian, Kata Cookies Pada Musim untuk Endang Kalimasada, Puisi Menolak Korupsi, Memo untuk Presiden, dan Memo untuk Wakil Rakyat.

Sastrawan senior asal Tegal, Eko Tunas menyebut keberadaan GeRMO mewarnai perkembangan sastra di Indonesia dengan berjenis sastra pertunjukan. Dikatakannya, ‘sastra pertunjukan’ memiliki deskripsi antara sastra dan pertunjukan tampil sama-sama kuat. “Sastra ditampilkan, pertunjukannya pun ditampilkan. Rendra pada 1970-an datang dari Amerika membawa poetry reading. Sampai sekarang, kebanyakan pembacaan puisi itu cenderung seperti Rendra. Berikutnya ada Sutardji Calzoum Bachri yang membawa konsep berbeda. Ia membaca puisi seperti mantra. Darmanto Jatman dengan puisi multilingualisme. Melalui GeRMO, pembacaan puisi tidak seperti Rendra, Sutardji, maupun Darmanto Jatman. Jenisnya sastra pertunjukan,” kata Eko. (Jabal Nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here