Enaknya cerita surga, konon mau apa saja tersedia. Lantas apa jadinya bila dunia saja sudah mirip di surga?

Namanya saja orang kaya. Tentu, apa-apa ada. Makanya disebut kaum berada. Barangkali, orang kaya tak butuh lagi apa yang namanya surga. Lhawong sekarang saja sudah terbiasa menikmati fasilitas surga. Hidup dikelilingi fasilitas. Mobil, rumah, dan apa-apa serba mewah berlimpah. Soal istri tetap satu (yang resmi). Mungkin…

Olah raga orang kaya biasanya pilih Golf. Jarang bahkan enggak ada orang kaya yang milih olah raga kasti. Kalau ada, mungkin dia orang kaya yang kualitasnya KW. Beda sama gondes-gondes kere koyo kowe, usai futsal saja sombongnya selangit. Bayarnya aja bantingan. Itupun selesai main futsal ada yang mlipir ke kamar mandi, berharap lolos tarikan bantingan.

Beda sama orang kaya. Jangankan cuma bayarin futsal, Semarang kalau dijual saya beli. Orang kayaaa coy. Pokoknya harus mahal. Malu kalau beli yang harganya murah, harus yang termahal. Kalau gondes-gondes fakir miskol koyo kowe, maunya yang harganya murah. Matanya jelalatan kalau jeng-jeng di mal lihat tulisan ‘banjir diskon’ #jindul…

Orang kaya, duit ratusan juta dibuang hanya untuk merawat kucing ras. Tak terpengaruh tanggal tua, dia tetap asyik kejar-kejaran sama hewan peliharaan di rumput hijau halaman rumah. Gondes-gondes tanggal tua ngumpet takut dikejar debt collector.

Biar terkesan nggaya, motor Bravo dimodifikasi jadi Ninja. Orang Italy jugak mumet mikir #kelakuanmu, lhawong vespa Italy disambung-sambung kayak odong-odong. Tapi bagaimanapun itu hobi dan imajinasi liar kaum rak gablek duit.

Beda hal, hobi elit para petinggi berduit. Karena sudah bosen naik mobil, sukanya melihara Motor Gede (Moge). Mereka rela merogoh kocek ratusan juta untuk ngrumati satu motor tunggangannya. Rata-rata mereka diklasifikasikan ‘orang kaya’ alias banyak duit.

Ada yang berlatar belakang pengusaha, pengacara, pejabat negara, hingga polisi. Yang jelas, mereka golongan kaum ‘berduit’. Mereka memiliki komunitas yang cukup kuat di setiap perkotaan. Penampilannya khas, dengan Moge Harley Davidson. Tentu saja tak ketinggalan kaca mata hitam, jaket hitam, sepatu koboi, dan suara knalpot double mirip suara helikopter.

Mungkin, mereka terinspirasi sosok Rolenzo Lamaz, aktor keren di film Renegade di tahun 1990- an silam. Sezaman dengan itu sosok kece bernama Ari Sihasale yang membintangi film fenomenal Ali Topan Anak Jalanan kerap ditiru penampilannya.

Perwira polisi yang pernah menjabat sebagai Kapolsek di Semarang yang gemar mengoleksi Moge sempat berbincang dengan bangjo.co. Dia mengaku komunitasnya di Semarang menjadi tempat berkumpul para pecinta Moge. Hampir semua anggota merupakan orang-orang ternama di Semarang. Baik pengusaha, pengacara, pejabat negara, bos media, hingga pejabat polisi di Polda Jateng. “Hobi saja sih, buat hiburan,” katanya.

Hiburan miliknya itu melahap uang tak sedikit. Sebab, harga motor gede di komunitasnya paling murah Rp 379 juta, paling mahal berkisar Rp 1,3 miliar. “Spare part-nya aja harus pesan di Amrik (Amerika Serikat). Kalau soal pawai itu mah cuman hobi aja. Prinsipnya, semua anggota Moge itu taat hukum. Bahkan banyak kegiatan sosial yang tidak diketahui publik, menyambangi warga miskin di daerah terpencil misalnya,” kata dia. (jbl/bangjo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here