Beberapa tahun belakangan ini, fenomena “Meme” mewabah di jagat maya dan media sosial. Meme yang beredar di Indonesia kerap membuat orang terpingkal-pingkal hingga jungkir balik di kasur. Mending kalau banyak teman, lha ini cekikikan sendirian akibat melihat gambar Meme kreatif, inspiratif, lucu, konyol, dan usil. “Sing penting yakin!”

Mungkin sudah ribuan Meme berseliweran. Saking banyaknya Meme beredar, lama kelamaan Meme-meme itu banyak yang tidak bermutu dan membosankan. Semakin banyak orang yang berlatih melucu, ternyata malah tidak lucu. Semakin banyak orang yang berusaha konyol semakin membuat sulit tertawa.
Fenomena Meme sebenarnya unik dan menarik, kita mungkin tidak sadar betapa melalui temuan konsep sesederhana “Meme” itu mampu memengaruhi publik secara massal.  Faktanya, Meme menjadi fenomena viral. Tak salah, kesempatan emas ini dicuri oleh pemain politik. Jadilah Meme menjadi alat kampanye politik untuk memengaruhi publik, sekaligus bisa membunuh karakter lawan.

“Meme” sebetulnya bukan istilah baru, kata “Meme” telah muncul di buku berjudul The Selfiesh Gene 1976 karya Richard Dawkins. Penulis buku inilah yang konon disebut-sebut pertama kali mencetuskan istilah “Meme”. Ia menyebut Meme sebagai sebuah kreativitas manusia.
Sayangnya, fenomena Meme ini kerap menjadi tidak sehat akibat ulah orang-orang yang kadang malah sama sekali tidak “tidak lucu”. Meme menjadi ajang strategi “viral marketing” yang membosankan.

Ada beberapa motif dalam fenomena Meme.

1) Motif Politik dan Pembunuhan Karakter

Meme menjadi parodi politik yang kadang tidak cerdas hingga foto-foto tokoh penting dijadikan bahan tertawaan dan olok-olokan. Mulai SBY, Jokowi, Prabowo, Megawati, Ahok, dan tokoh-tokoh lain-lain. Berikut ini contoh Meme-meme yang beredar di internet dan disebarkan netizen di media sosial.

2) Motif Pencitraan

Meme seringkali dijadikan sebagai pencitraan yang ‘seolah-olah’ bijak dan harus diamini oleh pembaca, romantis, dan menyejukkan. Banyak contoh Meme-meme jenis ini. Saya, dulu, ngefans berat sama tokoh fenomenal, Bos Mario Teguh. Sayangnya, karier tokoh sejuta kata-kata ini harus tumbang karena mencuatnya kisah pribadi. Ujung-ujungnya, belio malah ‘dibully’ oleh warga netizen yang frontal itu. Padahal Meme-Memenya menyejukkan kayak AC dua pintu lho….:D

3) Motif Harga Diri

Banyak Meme yang menampilkan kampanye harga diri. Mulai lingkup harga diri secara pribadi, hingga lingkup nasional. Maka Meme itu berpola “menguatkan”, dalam hal “cinta” misalnya, Meme memuat penguatan harga diri di hadapan mantan. Sok kuat. Kenyataannya mah nggak begitu-begitu amat. Lingkup nasional, harga diri sebagai warga negara yang mengeklaim diri paling NKRI, paling Bhineka, dan paling Pancasila. Itu hanya klaim. Sebab, bukan hanya dia saja yang paling NKRI, paling Bhineka dan paling Pancasila. Tapi seolah-olah yang tidak pasang Meme itu tidak cinta NKRI. Mungkin lho…

4) Motif Marketing

Meme menjadi ajang strategi “viral marketing” sebuah produk. Biasanya mereka menggunakan pola “plesetan” lucu. Sehingga orang yang membacanya terpancing untuk menyebarkan Meme tersebut. Hal yang tidak disadari publik adalah brand produk yang dimaksud melekat di ingatan publik.

5) Motif Menghibur

Melalui gambar disertai tulisan menyampaikan pesan yang menghibur. Penggabungan bahasa verbal, ekspresi, unik dan tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata. Tentu ini menjadi hal yang bikin ’emosi’, konyol, dan bikin terpingkal.

Aku terlanjur serius, enggak bisa tertawa blas, kecuali terpaksa. (Jabal Nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here