SEMARANGAN – Bisnis selangkangan di Kota Semarang kian blak-blakan. Para pelaku menjajakan ‘dagangan’ cewek-cewek mungil melalui akun jejaring sosial. Baik facebook, twitter, path hingga instagram. Di Semarang, tarif boking gadis belia Rp 1 Juta.

Buat para pembisnis selangkangan perlu waspada, sebab geliat maraknya prostitusi online telah terendus oleh pihak kepolisian. Belakangan, dua mucikari, masing-masing wanita dan laki-laki berinisial R dan P telah diciduk oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng. Keduanya ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus prostitusi online tersebut.

Sedangkan korbannya berjumlah empat orang. Semuanya merupakan anak wanita yang masih di berusia bawah umur. Para gadis belia tersebut dijual dengan tarif boking short time Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta. Saat ini, proses hukum kasus tersebut ditangani oleh Sub Direktorat IV Remaja Anak-Anak dan Wanita (Renakta) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Jateng.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah Kombes Pol Gagas Nugraha membenarkan kasus prostitusi online ini ditangani oleh pihaknya. “Sudah ada tersangka, semua korbannya anak wanita di bawah umur,” kata Gagas.

Pihaknya mengaku masih terus melakukan pengembangan penyelidikan terhadap kasus prostitusi online ini. Mengenai modusnya, kata Gagas, praktik prostitusi online ini dilakukan oleh tersangka dengan menggunakan jejaring media sosial facebook di internet. “Melalui jejaring media sosial (facebook),” ujarnya.

Terpisah, Kepala Subdit IV Remaja, Anak dan Wanita (Renakta) Dit Reskrimum Polda Jateng AKBP Sri Susilowati menambahkan, kedua tersangka telah ditahan di Polda Jateng. “Inisial R dan P, laki-laki dan perempuan, sudah ditahan dua-duanya. Ini dua kasus berbeda (terpisah). Masing-masing tersangka ada dua korban. Jadi, total korban ada empat orang. Semua korban masih di bawah umur,” terang Susilowati, Minggu (22/11/2015).

Dijelaskannya, dalam kasus prostitusi online ini, kedua tersangka memiliki modus yang sama yakni menggunakan media jejaring sosial facebook. Oleh tersangka, lanjut Susilowati, para gadis belia tersebut dijual dengan tarif per-jam antara Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta. “Pelaku menggunakan akun facebook pribadi,” katanya.

Saat ini, pihaknya masih terus melakukan pengembangan penyelidikan dan melengkapi berkas kedua tersangka. Para tersangka dijerat Undang-Undang nomor 21 tahun 2007 tentang
Pemberantasan Terhadap Tindak Pidana Perdagangan Orang (Human Trafficking), Pasal 2 jo Pasal 17 dan UU nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak Pasal 76 huruf (i).

Kasus ini terbongkar salah satunya pada Rabu (30/9/2015) dini hari lalu, di salah satu hotel di Kawasan Gombel, Kota Semarang. Korban setelah diboking pelanggan kemudian menggunakan tempat di salah satu kamar hotel tersebut.

Saat ini, para anak di bawah umur yang menjadi korban prostitusi online tersebut mendapat pendampingan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Jawa Tengah.

Aktivis Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) BP3AKB Provinsi Jawa Tengah, Tri Putranti Novitasari, mengatakan sejauh ini permohonan pendampingan yang diajukan ke pihaknya baru ada tiga korban. “Kalau permohonan ke PPT Provinsi Jateng ada tiga korban,” katanya.

Dari tiga korban yang diajukan tersebut, baru dua yang telah dilakukan pendampingan. Kedua korban yang telah didampingi merupakan kasus di Gombel, yakni berinisial ELS dan VER. Mereka masih berusia belia, yakni 17 tahun. “Keduanya punya latar belakang kehidupan berbeda. VER dari keluarga broken home. Sedangkan ELS dari keluarga mampu, tapi karena pengaruh lingkungan (pergaulan bebas),” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan Novita, ELS dan VER keduanya sudah tidak sekolah semua. “Sudah tidak sekolah semua. Drop out. Kalau ELS karena dia lebih suka main dan jarang masuk sekolah. Sedangkan VER karena hamil dulu, kemudian dia keluar sendiri dari sekolahnya,” imbuhnya.

Sementara berdasarkan data BP3AKB Provinsi Jawa Tengah, kasus kekerasan anak di Jawa Tengah masih terbilang tinggi dan terus terjadi dari tahun ke tahun. Sedikitnya pada tahun 2011 dilaporkan ada 1084 kasus, tahun 2012 ada 1.352 kasus, tahun 2013 terdapat 1.035 kasus, tahun 2014 terdapat 1.114 kasus, hingga bulan September 2015 terjadi 1.046 kasus kekerasan anak. Jenis kekerasan terbanyak adalah kekerasan seksual.
“Tidak hanya anak di bawah umur sebagai korban, sebagai pelaku pun juga tetap harus mendapat pendampingan,” kata Kepala BP3AKB Provinsi Jawa Tengah, Sri Kusuma Astuti. (bangjoco-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here