Fenomena latah informasi sepertinya menjadi budaya baru. Nyaris semua orang gampang latah. Sadar atau tidak, kamu juga latah. Kamu, iya kamu..

Latah itu terbagi menjadi beberapa tipe. Ada latah omongan, kelakuan, hingga latah tren. Latah bisa dibilang kagetan. Respons kaget itu sering kali berupa ikut-ikutan. 

Masih mendingan karena cuma latah omongan. Yang parah itu kalau latah kelakuan sama latah tren. Kalau ada temen yang suka rokok elektrik, ikutan ngrokok elektrik. Ada yang suka pasang foto gaya ala di Medsos, langsung ikut-ikutan. Jadi korban broadcast kok bangga. 

Ada yang kirim meme, cerita nggambus, atau info yang gak jelas alias hoax, langsung ambisi pengen cepat-cepat jadi sosok yang nge-share pertama di grup WA. Masyarakat saat ini masih banyak yang sering menjadi korban broadcast. Tanda-tanda masyarakat masih Gaptek alias gagap teknologi. 

Di luar sana, orang-orang berlomba-lomba inovasi aplikasi. Lhah, banyak masyarakat di sini masih sibuk belajar jadi pengguna teknologi. Makanya dapat brotkes aja nafsu banget pengin ikut-ikutan nyebarin informasi. 

Kadang nggak salah memang. Tapi budaya latah ini bisa berbahaya. Kalau nggak ati-ati, bisa rugi sendiri. Jadi sasaran empuk buat menjalankan propaganda. Ditunggangi atasnama tren demi kepentingan segelintir orang. Digataki tapi rak kroso nek digataki. 

Orang latah, biasanya mudah dialihkan perhatiannya. Ini jelas menguntungkan bagi oknum-oknum yang hobi mengalihkan isu. Isu untuk meneror massa. 

Misalnya isu penculikan anak untuk diambil organnya. Itu cukup bikin was-was orang tua. Kalau sejenak saja kita nggak latah, berpikir jernih tanpa dibumbui kepanikan, pasti bisa berpikir logis. Masak iya, jual beli organ manusia semudah itu. Wong orang mau operasi bedah saja rumitnya minta ampun. Butuh persetujuan keluarga, tanda tangan ini itu dari pihak keluarga, dan sederet syarat lain.

Meski jual beli bagian tubuh anak memang gampang, berarti yang diperangi jangan penculiknya. Justru dokternya yang harus dipertanyakan profesionalitasnya. Kok ya mau-maunya melanggar etika kedokteran semudah itu.

Oke lah, alangkah lebih baik menjadi orang yang selalu selow kendow di tengah zaman medsos. Santai saat menanggapi gempuran propaganda hoax dengan leyeh-leyeh. Kalau perlu tetap udud sama kopi biar hidupmu makin woles. Tidak panik dan mudah latah. Hidup tidak usah ngoyo. (Dirdjo Soekotot)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here