“Tingkat keberadaban sebuah bangsa dapat dilihat dari perilaku para narapidananya,” kata Thomas Jefferson, mantan Presiden Amerika.

Perilaku para narapidana merupakan miniatur perilaku saudara mereka sebangsa. Orang mengalami “normalisasi” dan “disiplin” di penjara, namun media menceritakan terjadinya ketidakadilan di penjara: transaksi narkoba, pengurangan jatah makan, dan pembedaan fasilitas.

Itu sebabnya kita perlu melihat peradaban pada sisi yang lebih kecil, dari simulator yang lebih melebar: lampu merah atau traffic light adalah miniatur keberadaban. Bagaimana melihat peradaban sebuah kota dari aktivitas masyarakat yang terjadi di lampu merah?

Saya mengenal arti warna dasar merah, kuning, hijau dari lampu merah. Merah berarti berhenti, hijau berarti jalan, sedangkan kuning artinya: persiapan atau hati-hati.

Di Indonesia, sekarang “kuning” bukan hati-hati, melainkan: tancap gas.

Pelanggaran lalu lintas sering terjadi di lampu merah, seperti: menunggu melebihi garis batas, pejalan menyeberangi zebra cross tanpa menunggu lampu merah, atau pedagang bekerja saat lampu merah.

Malam hari adalah waktu pelanggaran yang paling sering terjadi, mengingat Indonesia belum banyak menerapkan sistem intai di lampu merah dengan teknologi CCTV. Kesadaran berlalu-lintas berhadapan dengan desakan waktu.

Kemacetan juga terjadi ketika fungsi beberapa lampu merah, misalnya di perempatan, terganggu. Bisa juga lampu merah lancar, namun arus kendaraan terlalu padat. Tetap saja jalan akan macet. Kondisi lampu merah seperti ini, membuat para pengendara “berkenalan” dengan rute alternatif.

Tidak jarang, terdapat peringatan seperti: “Hindari Persimpangan Kali Banteng”. Pemakaian rute alternatif yang tak terkontrol, sampai memasuki gang-gang kecil, akhirnya membuat pengendara berkenalan dengan aturan untuk “orang asing”, dengan bunyi: “Anda Sopan Kami Segan”. Adapula peringatan paling garang: “Ngebut, Benjut!”, atau yang lebih humoris: “Hati-hati, Banyak Anak Artis”.

Misalnya tulisan “Anda Sopan Kami Segan” memperlihatkan adanya penguasaan, sekat wilayah (walaupun pada dasarnya sebuah jalan adalah jalan umum), dan bisa ditutup sewaktu-waktu jika warga sedang ada hajat.

Lampu merah juga menjadi medan iklan, penyebaran gagasan lalu lintas, tempat efisien untuk penjaja dagangan hingga tempat mangkal “polisi cepek”. Apa saja sekarang dijajakan di lampu merah. Ada orang menjual koran, sehingga tanpa banyak membaca beritapun kita sudah pasti dapat membaca judul-judul headline berita hari ini.

Ada orang mengamen dengan banyak cara. Mengapa kethek ogleng dan reog dengan instrumen sederhana berubah menjadi penghuni lampu merah untuk recehan? Mengapa penikmatan sambil-lalu ini ditempuh untuk sebuah sajian? Karena lampu merah, tempat ribuan orang berhenti sesaat, memandang dan mengulurkan recehan, atau membawa kabar paling cepat.

Penyebaran gagasan ini pula, yang membuat acara happening art (saat memperingati momentum nasional atau peristiwa tertentu) maupun demonstrasi protes politik sering terjadi di sekitar lampu merah.

Tidak ada etalase yang paling efisien dalam memajang sebuah performance selain di lampu merah. Peraturan berlalu-lintas juga menjadi content waralaba yang sering disuarakan di lampu merah jalan-jalan protokol, biasanya disponsori dealer, sekolah, hingga kampus.

Pada saat sedang menunggu lampu hijau, orang mendapatkan “ceramah gratis” yang mengingatkan pentingnya memakai helm, melengkapi surat-surat berkendara, hingga nasihat tertib membayar pajak, mirip speaker di kawasan konsentrasi zaman Nazi Jerman untuk melemahkan mental para serdadu Amerika.

Content yang diiklankan di lampu merah, tidak sederhana, mulai dari jasa sulap ulang tahun, les privat, bisa tertempel di sana. Atau kertas-kertas selebaran yang tercecer, serta sisa asap knalpot yang pekat, mungkin bisa terlihat dari jauh sebagai gumpalan hitam. Namun kadang orang tidak banyak menyadarinya.

Saat pulang atau sampai di kantor, mereka baru mengingatnya, kembali menjadi diri-sendiri. Pada saat berkendara, mereka menjadi orang yang berburu dengan waktu, melaju dengan kecepatan tinggi. Sebab jalanan memintanya segera berjalan. Tidak melaju kencang berarti memacetkan jalan. Ngebut berarti melancarkan urusan orang lain, tidak hanya diri-sendiri.

Suatu kali, saya mengajak seorang teman mengendarai motor pada jam makan siang, antara pukul 12:00 hingga 13:00, hanya untuk melihat apa yang dilakukan orang-orang di sekitar lampu merah. Ada perempuan pegawai kantor yang boncengan bertiga dengan pembantunya, ada kesibukan menelepon sambil berkendara, ada yang melanggar marka, ada yang memilih tancap gas saat lampu kuning, ada pula yang asyik sesaat menikmati “pertunjukan” di tepi jalan.

Semuanya terjadi di balik helm dan kaca mobil, semuanya mengeluarkan deru, dan berburu dengan waktu. Apa yang sedang terjadi di lampu merah kotamu? (d)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here