Tempat itu diberi nama “Kios Kejujuran”. Tampak beraneka ragam barang dagangan kebutuhan sehari-hari, tanpa dijaga. Pembeli dipersilakan mengambil dan membayar sesuai harga.

Fenomena unik dan menarik tampak di Kampung Bergota RT 3 RW 6 Kelurahan Randusari, Semarang Selatan. Di tengah perkampungan padat penduduk itu berdiri sebuah toko kelontong yang diberi nama “Kios Kejujuran”. Toko tersebut menempati sebuah ruangan seluas kurang lebih 6 X 4 meter per-segi, bagian depan rumah cukup mewah. Di bagian belakang digunakan untuk rumah kos yang rata-rata dihuni mahasiswi kedokteran.

Berbagai macam dagangan barang kebutuhan sehari-hari, seperti sabun mandi, sabun cuci, shampoo, pasta gigi, minuman dingin, hingga pulsa isi ulang, dan aneka barang yang lain, terpasang di etalase kios lengkap dengan banderol masing-masing barang.

Terpampang jelas di atas rolling door bagian depan sebuah tulisan “Kios Kejujuran”. Sejumlah slogan-slogan bermuatan pendidikan kejujuran menghiasi dinding kios, di antaranya “Ambil dan Bayar Sesuai Harga”, “Tidak Jujur Dicacat Malaikat”, “Ojo Ngapusi, Ayo Hidup Jujur”, dan “Jujur, Murah dan Nikmat”. Tertempel peringatan “Awas!!! Setan senantiasa menggoda, bagi siapa yang lemah imamnya, mau berbuat yang tidak semestinya, ujungnya diajak masuk neraka”.

Manajemen kios tersebut memang sengaja dikonsep dan didesain untuk melatih serta berpesan kepada masyarakat untuk selalu bersikap jujur. Pemiliknya seperti hendak menunjukkan bahwa “di sini” tempat belanja orang jujur.

“Iya, toko ini sengaja didirikan untuk melatih masyarakat bersikap jujur. Setiap hari tidak pernah dijaga. Kalau mau beli ya tinggal ambil aja, pakai uang pas. Lalu uangnya dimasukkan ke kotak yang telah disediakan,” kata Nyonya Suroto, warga setempat, yang dipasrahi merawat Toko Kejujuran tersebut, Minggu (3/1/2016).

Saat ditanya siapa pemilik Kios Kejujuran tersebut? Nyonya Suroto menjelaskan, bahwa kios tersebut adalah milik salah seorang pejabat tinggi kejaksaan yang saat ini bertugas di Jakarta. Namun demikian, Nyoya Suroto enggan menjelaskan lebih detail tentang pemilik kios tersebut.

“Pemiliknya jarang ke sini. Saya hanya dipasrahi untuk merawat saja. Kalau pagi tugas saya membuka kios mulai pukul 08.00, tutupnya pukul 18.00.” ujarnya.

Menurut Nyonya Suroto, ide dari kios kejujuran tersebut memang dari pemilik rumah tersebut, yang saat ini tinggal di Jakarta. “Awalnya disedikan untuk anak-anak kos di belakang supaya kalau beli perlengkapan kebutuhan sehari-hari tidak harus keluar jauh. Tapi ternyata masyarakat tertarik mau ikut beli, akhirnya diperbolehkan untuk umum,” terangnya.

Nyonya Suroto sendiri semula juga merasa heran saat mendengar konsep manajemen kios kejujuran tersebut. “Saya pertama kali juga heran. Ya bagaimana enggak khawatir, buka kios kok enggak dijaga, lha nanti kalau ada yang mengambil barang bagaimana,” ujarnya.

Namun setelah menerima penjelasan dari pihak pemilik, Nyonya Suroto memahaminya bahwa dibukanya kios tersebut bukan semata-mata bisnis. “Secara otomatis mengajak dan mendidik masyarakat untuk melatih budaya tentang kejujuran,” katanya.

Kendati demikian, lanjut Nyonya Suroto, selama kurang lebih lima bulan lalu kios tersebut dibuka, tak jarang mengalami kerugian. “Pernah suatu ketika, saya sudah menata rapi, paginya kulkas diisi banyak minuman, sore harinya sudah habis. Sedangkan hitungan uang di kotak kok sedikit. Anak-anak kecil banyak yang datang untuk membeli jajan makanan ringan,” katanya.

Kondisi seperti itu dilaporkan kepada pemilik. Namun sang pemilik hanya bilang tidak apa-apa. “Sering rugi ya tidak apa-apa, Gusti Allah yang tahu. Semua dicatat malaikat,” tegasnya.

Secara teknis, lanjut Nyonya Suroto, kios kejujuran tersebut dilakukan kulakan barang setiap seminggu sekali. “Uang hasil penjualan nanti dipakai kulakan lagi. Biasanya kulakan setiap seminggu sekali. Ada yang bertugas untuk kulakan sendiri,” imbuhnya.

Seorang warga, Aditya, 23, mengaku heran sekaligus senang melihat kios kejujuran tersebut. “Jangankan CCTV, penjaga toko saja tidak ada. Kiosnya unik dan menarik. Mungkin, kios kejujuran ini satu-satunya di Semarang. Ini sangat bagus untuk melatih budaya jujur. Tentu asyik banget, berada di tengah masyarakat yang jujur,” ujarnya saat mampir di kios tersebut. (bangjoco-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here