Sampeyan yang pernah muda di era 1980-an di Kota Semarang, barangkali masih ada yang ingat bus tingkat. Sayangnya, angkutan massal berlantai dua yang fenomenal di jalanan Kota Lumpia ini kini tinggal kenangan.

Memang, sekarang ada Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang. Tetapi bisa dijamin, romantisme bus tingkat tetap lebih berkesan sepanjang masa. Bus antik ini sebenarnya memiliki nama keren Double Decker Bus. Tetapi wong Semarang sering menyebutnya ‘bus kawin’ karena terdiri atas dua lantai yang posisinya bertumpuk.

Dulu, angkutan massal yang dikelola oleh Perusahaan Umum (Perum) Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (Damri) ini menjadi transportasi andalan bagi masyarakat Kota Semarang.

Orang-orang yang sempat menikmati uniknya bus tingkat sekarang sudah menjadi bapak-bapak dan kakek-kakek. Sebagian telah sibuk melawan uban. Sebagian lagi sibuk melawan kenangan. 🙂

‘Semeh’ dan ‘Sebeh’ saya menjadi salah satu saksi mata sejarah bus tingkat. Bahkan saya menjadi bagian jejak kisah di sudut bus tingkat. Sebab, di bus tingkat itu (konon) Semeh dan Sebeh pertama kali bertemu pandang.

Kala itu, Semeh dan Sebeh masih duduk di bangku SMA. Adik dan kakak kelas, meski berbeda sekolah. Setiap pagi buta, keduanya selalu berangkat sekolah secara tepat waktu. Sebab, jika terlambat jam, tentu bakal ketinggalan bus langganan tersebut. Selain biar tidak terlambat sekolah, tentu saja agar bisa bertemu sang pujaan hati yang bikin deg-degan. “Paling suka naik di lantai dua,” kata Semeh.

Dulu, kata Semeh, bus tingkat itu memiliki terminal induk sentral di daerah Bubakan Kota Semarang. Paling ujung barat, bus tersebut berhenti di daerah Taman Lele Tugurejo. “Tarifnya menggunakan sistem abonemen. Caranya mendaftar menggunakan kartu OSIS, Rp 15 ribu kalau enggak salah. Ya asyik banget, untuk jalan-jalan. Dulu, saya sering banget naik bersama teman-teman sekolah” katanya.

Apalagi hari libur, biasanya anak-anak muda jeng-jeng menggunakan transportasi massal tersebut. “Ada yang sekedar mencari kenalan, hingga kencan bersama pacar. Tujuannya nonton bioskop. Dulu juga masih banyak bioskop,” katanya.

Di Semarang, berbagai sumber menyebut kemunculan bus tingkat di Indonesia tak terlepas dari peran mantan Presiden Soeharto, pada tahun 1983. Kala itu, Pemerintah Indonesia mendapatkan hibah bus tingkat dari pemerintah Inggris dan Swedia. Ada dua merek yakni Volvo dan Leyland. Semarang mendapat jatah bus tingkat bermerek Leyland Atlanteans with Duple-Metsec Bodies.

Gubernur Jawa Tengah kala itu masih dijabat Soepardjo Rustam (almarhum). Ada 15 unit bus, kemudian ditentukan jurusan utama Ngaliyan-Simpang Lima-Johar, dan Pelabuhan-Jatingaleh.

“Pelajar yang telah mendaftar, kemudian mendapat jatah 2 tiket setiap harinya. Yakni digunakan untuk berangkat dan pulang sekolah (Pulang-Pergi). Ada ribuan yang menjadi pelanggan tetap. Bus tingkat bukan hanya sebagai sarana transportasi, tapi juga wisata kota yang menyenangkan,” katanya.

Dulu, jalanan belum banyak sepeda motor. Belum ada angkot kecil maupun taksi. Apalagi Go-Jek. 1990-an, peradaban zaman berubah, bus tingkat pelan-pelan tersisih atas datangnya angkot dan taksi. Era memasuki zaman modern, kendaraan-kendaraan seperti angkot dan taksi dinalai gesit ketimbang bus tingkat.

Menjadi pendengar kisah itu, saya menjadi rindu dan membayangkan bus tingkat itu hidup kembali. Nanti rutenya mulai Bonbin Mangkang, Goa Kreo, Sam Poo Kong, Kota Lama, Masjid Agung Jawa Tengah dan seterusnya. Saya akan menjadi pelanggan pertama. Mimpi. (Jabal/bangjo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here