Ketika mengetik tulisan ini, posisi saya sedang duduk manis di teras kios kelontong di sebuah pasar tradisional. Saya mengetik tulisan yang sedang Anda baca ini menggunakan handphone. Pemandangan di depan saya adalah lalu lalang orang-orang, kurang lebih pukul sepuluh siang.

Ini murni curhat. Curhat soal mantan #eh. Bukan, bukan, maksudku ini curhat soal anti kemapanan. Kebetulan, saya saat ini berstatus belum mapan. Bagaimana tidak, lhawong sampai saat ini status saya masih mahasiswa (yang tak kunjung nikah #ups wisuda maksud saya). Tapi belum semester 14 kug, jalan masihlah panjang untuk ditempuh. Jadi teringat, tagline pembelaan yang barangkali pas untuk kamu-kamu yang bernasib serupa dengan saya–adalah “hindari wisuda usia dini!” kwkwkw….

Tapi jangan salah. Bukan berarti saya adalah orang yang malas berpikir. Bukan, sumpah bukan. Justru saya adalah orang yang mudah tertarik melakukan penelitian. Bahkan, apa-apa yang terjadi di sekeliling saya, langsung saya tangkap (kecuali calon mertua #eh). Soal validitasnya bagaimana, metode ilmiahnya bagaimana, teknik pengumpulan datanya bagaimana, itu mah terserah bapakmu mau menerima saya lagi atau tidak #halah…

Misalnya, aktivitas apa yang dilakukan mahasiswa saat pertama kali bangun dari tidur? Ternyata jawabannya adalah memegang handphone. Sudah saya renungkan di bawah pohon kresen dalam kesunyian yang sempurna. Termasuk melakukan survey terhadap 10 mahasiswa. Hasilnya, sebanyak 9 dari 10 mahasiswa tersebut membenarkan bahwa aktivitas kali pertama saat bangun dari tidur adalah memegang handphone. 1 orang mengaku memegang Anu. Duh…

Kenapa memegang handphone? Apakah memantau berita terkini pagi ini, update twitter, facebook, path, instagram, atau apa? Oh, ternyata tidak semuanya. Hal pertama yang dicek adalah pesan masuk. Menurut 9 dari 10 orang yang saya teliti, alasan mengecek pesan masuk baik di SMS maupun BBM adalah mengecek apakah ada ucapan selamat pagi dari cewek gebetan, atau tidak.

Celakanya, 9 orang yang menjawab demikian, 90 persen di antaranya menahan kecewa mendalam. Sebab, pesan dari kekasih pujaan hati seperti yang diharapkan ya tinggal harapan palsu sepalsu-palsunya. Pesan yang nongol justru SMS dari operator telekomunikasi.

“Plg Yth, paket BlackBerry Anda telah berakhir. Selanjutnya akan dikenakan tarif normal. Aktifkan kembali paket Flash Anda di *363#.” Bedebah kuadrat to kui jenenge..

Karena seringnya melakukan penelitian seperti itulah, saya kemudian diuji untuk tidak segera menyelesaikan skripsi.

Daripada mumet mikir kamu (eh maksudku menyelesaikan skripsi), mending mengantar ibu saya belanja di pasar tradisional. Mben terkesan ono aktivitas. Ibu saya memang sering bengong saat melihat saya cengar-cengir sendiri, kebal-kebul sendiri, berlagak seperti Robert Downey Jr ketika berperan sebagai detektif Sherlock Holmes yang bersenjatakan cerutu. Sembari lantang berkata; jangan sebut saya lelaki sejati jika harus mati berkalang skripsi! (Robingul Ahsan/bangjo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here