Pejabat polisi dan media kerap terlibat memopulerkan istilah-istilah membingungkan. 

Kedua kelompok ini kerap tanpa dosa memopulerkan istilah-istilah ‘tidak jelas’ apa maksud maupun pengertiannya. Jika istilah tersebut diurai seringkali bertentangan dengan akal sehat dan menabrak logika bahasa.

Entah bermula dari statement pejabat polisi kolot (yang tak pernah nongkrong di warung kopi) ataupun wartawan/redaktur pemula (yang kurang piknik). 

Sehingga mereka kompak melakukan pembodohan publik melalui media karena terlibat dalam mengaburkan makna.

1. Diamankan

Tentu sampeyan sering mendengar, melihat, ataupun membaca istilah ‘diamankan’. Misalnya: “Tersangka sudah diamankan.” atau “Barang bukti sudah diamankan.” dan seterusnya. Saya sendiri gagal paham, apa yang dimaksud dengan “diamankan”? Barang bukti kok diamankan (jangan-jangan dibawa pulang untuk dijual di tempat pengepul rongsokan tuh). 

Ada banyak makna dalam kata “diamankan” dan cenderung sumir alias tidak jelas. Beda hal kalau mereka memilih, “ditangkap”, ” ditahan”, “disita”, tentu akan memiliki arti jelas. 

Istilah hukum sudah semestinya harus jelas dan tidak ambigu. 

2. Terduga

Pejabat polisi yang dengan enteng mengucapkan istilah ” terduga” bejibun banyaknya. Terutama dalam penanganan kasus terorisme. Padahal ‘anak kecil’ aja tahu, bahwa istilah “terduga” ini tidak dikenal di Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHP). 

Lha mosok Pak Polisi yang konon penegak hukum, tidak paham. Kan nggak lucu. Lha mosok wartawan yang konon mencerahkan masyarakat bisa salah kaprah menyampaikan ingpormasi. Kan nggak lucu. 

Tapi saya yakin, mereka semuanya orang pinter. Sebenarnya mereka mengetahui bahwa di kitab KUHP hanya mengenal istilah “tersangka”, “terdakwa” dan “terpidana”. Tidak ada istilah “terduga”. Begitupun tidak ada istilah “terperiksa”. Kalau ada orang diperiksa oleh penyidik polisi, maka statusnya ‘saksi’, tentunya bukan “terperiksa”. Nanti ada terduga pacar, terduga mantan, jinguk. 

Paling celaka dalam kasus terorisme. Kepolisian sering dengan enteng menyebut “terduga pelaku”. Hanya dengan diberi status “terduga” banyak orang sering ditembak mati tanpa proses peradilan. Lucu ya hukum kita.

3. Anarkis 

Pertama, orang yang paling sering mengucapkan kata “Anarkis” siapa lagi kalau bukan pejabat polisi? Kedua, wartawan mengutipnya ke dalam berita. Istilah “Anarkis” di Indonesia justru melenceng dari makna sebenarnya. 

Anarkis malah memiliki makna negatif karena digunakan untuk mewakili tindakan kekerasan, perusakan, tawuran, perkelahian, maupun bentuk-bentuk perilaku yang mengakibatkan kekacauan dan seterusnya. 

Mau tahu apa arti ‘Anarki’? Cari dong….enak aja maunya terima instan 🙂 (Jabal Nur)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here