Menenggelamkan pamor Si Komo ternyata tak membuat trafik jalan raya menjadi lancar. Si Komo mau lewat atau tidak, tetap saja jalanan macet. Di kota yang sibuk, termasuk Semarang, orang-orang kerap mudah stres.

“Berjanji tidak macet saja, aku sungguh tidak berani, sayang…” Begitu pemuda itu kepada kekasihnya.

Belum lagi berapa banyak nyawa yang melayang di jalanan. Sadis memang. Itulah sebab Bangjo berupaya membuat analisa sederhana. Setiap kota perlu merancang Detail Engineering Design (DED) kota masa depan.

Begini, kemacetan terjadi bukan karena ada niat. Waspadalah! (eh, ini kata Bang Napi, ding). Salah satunya, kemacetan disebabkan karena populasi mobil dan brongpit membludak.

Tapi rasanya pemerintah enggak bakalan mau menggagas ‘program KB’ khusus kendaraan bermotor, alias pembatasan jumlah kendaraan yang terus bertambah. Lhawong pajak kendaraan bermotor itu menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) nomer wahid, kok. Mereka tentu tak mau kehilangan duit pajak.

Pasalnya, pemerintah lebih memilih melakukan rekayasa lalu-lintas di jalanan. Diterapkanlah sebagian lajur protokol menggunakan sistem satu jalur atau satu arah. Sementara, arus lalu-lintas di titik tertentu memang lancar. Tapi di awal penerapan, banyak pengguna jalan jadi bego, karena kesasar di kotanya sendiri. Mau ke sana-sani, kudu tanya Google Map. Cari jalan terdekat biar gak terseret arus jalan memutar yang cukup jauh. Dampaknya bensin boros dan seterusnya.

Trik cespleng mengatasi kemacetan jalan, enggak perlu mengusir Si Komo. Enggak perlu bikin jalan searah. Intinya adalah, mengimbangi keterbatasan infrastruktur jalan dan membludaknya jumlah populasi kendaraan bermotor yang tidak terkendali.

Gampang! Pemerintah wajib hukumnya melibatkan arsitek-arsitek yang kreatif dan inovatif. Pakar-pakar transportasi agar jangan hanya asal pesta komentar. Tetapi perlu adanya sinergi. Mereka harus diberi tanggung jawab mendesain kota masa depan anti kemacetan. Kuncinya, lebar jalan harus sama dengan panjang jalan. Dijamin, pasti tidak bakal macet hingga seribu tahun lagi. Piye perasaanmu? (Dirdjo Soekotot/bangjo.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here