Cinta memang selalu menyimpan misteri. Duka, lara, sekaligus bahagia seringkali datang sambut menyambut. Kadang sulit diterima akal sehat. Seperti halnya kisah yang dituangkan di dalam syair lagu “Ada dan Tiada” milik Cultural Band asal Semarang ini.

Mereka berusaha merekonstruksi kisah cinta dua insan yang berbeda alam. Dikemas ke dalam musik bernuansa Gothic Rock, Cultural cukup berhasil meramu musik unik.

Baik arransemen maupun lirik menuangkan efek kisah epic yang misterius. Gitaris Cultural sekaligus pencipta lagu, Cahyo Sulistiyo, mengeklaim inspirasi dalam lagu ‘Ada dan Tiada’ merupakan kisah nyata. “Kisah seseorang yang ditinggalkan oleh kekasihnya untuk selama-lamanya. Tetapi meski ruang dan waktu telah berbeda. Mereka tetap menjalin cerita,” katanya.

Percaya atau tidak, dunia gaib sangat dekat di tengah sibuknya aktivitas sehari-hari. Sebagai seorang arranger musik, Cahyo berusaha menangkap ide atas setiap peristiwa menarik untuk dituangkan ke dalam lagu. “Terutama berkaitan dengan kisah cinta yang unik,” katanya.

Cultural, kata dia, sengaja memilih jalur Gothic Rock, dengan menuangkan cerita-cerita yang cenderung mistis. Tetapi, Cultural membalut dengan kisah cinta. “Sebenarnya ini perpaduan, antara liriknya bertema cinta, sedangkan musiknya Gothic Rock yang terkesan garang, tapi enak didengar dan dinikmati kisahnya,” kata dia.

Kisah tersebut dikemas ke dalam bentuk sastra puisi. Album “Ada dan Tiada” merupakan album ketiga sejak didirikan pada 2003 silam. Di bawah komando Cahyo Sulistiyo, Cultural Band didukung Michelle, vokalis cewek yang masih duduk di bangku SMA. Gitar II dipegang Anthony, Sanwar pembetot bass, Wahyu penggebuk drum), dan Irwan membantu mengisi keyboard.

“Tema-tema yang kami angkat seputar cinta dan kehidupan. Tetapi bukan kisah cinta cengeng. Maka distorsi kental mewarnai alur musik kami,” katanya.

Sedikitnya ada lima lagu baru yang saat ini ia geber. Di antaranya berjudul Ada dan Tiada, Selamanya, Sadness, Hidup tak Selamanya Indah, dan Kau yang telah Pergi. Ia mengaku menggarap album tersebut secara maraton selama dua bulan. Mulai proses mengarang lagu, mengarransemen, hingga proses produksi. Bahkan mereka seringkali tidak tidur untuk sekadar menemukan arransemen yang tepat.

Menurutnya, mengarransemen Gothic Rock dengan lirik pop seperti di album ini merupakan tantangan sulit. Bahkan, kata dia, lebih sulit ketimbang mengarransemen musik rock murni, ataupun pop murni. “Karena kalau salah memilih instrumen terlalu keras akan cenderung ke arah metal. Sebaliknya jika terlalu lembut akan terjebak ke arah pop. Jadi, kami sangat hati-hati memilih instrumen agar tidak meleset dari konsep,” kata pria yang juga pemilik lembaga kursus musik Larissa Art Course Centre (LACC) Semarang ini.

Cahyo selain aktif berkarya melahirkan lagu-lagu melalui Cultural juga sekaligus mengajar musik di lembaga kursus musik tersebut. Dia mengakui, warna musik Cultural Band terinspirasi dari Within Temptation dan Evanescence. Tetapi Cultural Band tetap saja memiliki ciri khasnya tersendiri. Baik dari karakteristik arransemen, lirik, maupun pemilihan sound.

“Saat ini, kami sedang menyiapkan tour keliling lintas kota. Di antaranya di Jakarta, Purbalingga, Kendal, Semarang, dan Surabaya. Album ini telah resmi dilounching 18 Desember 2016 lalu di Grand Charly Semarang,” imbuhnya. (SN/bangjo.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here