Dikisahkan, ada seorang pemuda dengan lantang memamerkan prestasinya yang luar binasa. “Prestasi saya adalah tiga kali gagal ujian CPNS!” kelakarnya percaya diri.

Sejak kegagalannya itu, ia justru seperti orang yang bahagia dini. Bahagia sebelum ia benar-benar sukses. “Saya bersyukur. Sebab, cita-cita saya adalah punya uang dan bisa bangun siang!” kata dia di hadapan teman-temannya di sebuah warung kopi.

Hanya itu saja, harapan lelaki itu sepanjang hidupnya. Ia sudah manteb kalau ‘punya uang dan bisa bangun siang’ itu menjadi cita-cita paling mulia. Tentu saja, di mata keluarga besarnya, hal itu dianggap cita-cita konyol yang tidak berdasar.

Sebab, di mata keluarga besarnya bahwa seseorang tidaklah sukses jika tidak bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bagi keluarganya, PNS merupakan pekerjaan luhur yang harus dipikul duwur dan dipendem jero. Ajaran nenek moyang yang tidak boleh dibantah. Sekali membantah bisa kuwalat dan kena azab mati dikerubuti belatung. Nah lho..medeni kan?

Pokoknya hanya PNS saja yang disebut pekerjaan, lainnya tidak! Hal yang sampai kini masih diyakini adalah tidak ada mantu yang patut diajeni, kecuali mantu yang menyandang gelar PNS. Kata pendahulunya, yang dimaksud “dadi wong” dalam istilah Jawa itu ya dadi PNS itu. Lainnya tidak!

Maka segala macam cara bisa ditempuh. Lobi pejabat BKD kabupaten misalnya, ketua partai, anggota dewan, kepala dinas pendidikan, hingga rela menjual sebidang sawah untuk ngrojog apa itu yang sering dikenal uang pelicin.

Semua itu hanya agar anak keturunannya memperoleh pekerjaan menjadi PNS. Dengan cara jadi PNS itulah satu-satunya jalan agar berwibawa di mata mertua! Sebab, pekerjaan di dunia ini ya hanya satu itu saja.

Doktrin itu kemudian membuat para pengikutnya bermanuver kreatif untuk merekayasa nasib. Bila jalur depan tak bisa kan masih ada jalur belakang. Bila jalur belakang tak bisa, kan masih ada jalur samping. Pokoknya masih banyak jalan menuju Roma. Nggak ada istilah gang buntu. Apalagi jalan tikus, lhawong jalan bayi saja ada.

Kenapa harus jadi PNS? Pemuda itu melanjutkan, karena nenek moyangmu masih mempercayai dan terhegemoni doktrin aristokrat, golongan priyayi! Makanya semua anak cucu harus jadi pejabat negara.

Pemuda itu masih terus nerocos sakarepe dewe, konon sejak penjajahan Belanda, doktrin itu sengaja dibentuk, bahwa pekerjaan mulia itu adalah menjadi abdi pemerintah. Orang-orang pribumi sengaja dibentuk untuk dijadikan kaum priyayi seperti mangkubumi, patih, maupun Hulubalang, yang mengabdikan sepanjang hidupnya untuk kepentingan pemerintahan (kala itu Belanda). “Ndak boleh ada pribumi yang coba-coba mendirikan usaha. Haram!” katanya.

Celaka, jejak doktrin priyayi itu hingga kini mengakar dalam keyakinan sebagian masyarakat, yakni menjelma pegawai negeri sipil. Atas hal itulah, pemuda itu lahir menjadi pemberontak atas doktrin idealisme keluarganya. Dia trauma dan menjadi pemuda yang benci PNS. Dia sempat berdebat dengan keluarganya. “PNS itu doktrin dari kolonial Belanda,” katanya lantang. Tapi oleh kata-kata itu pula membuat dia malah diusir dari rumahnya.

Sejumlah temannya tampak tertarik menyimak cerita itu. Lantas sesekali melemparkan pertanyaan-pertanyaan iseng; terus apa tugas PNS? Dijelaskan bahwa tugas PNS adalah melayani rakyat. “Pelayan, yang bayar adalah rakyat. Bosnya adalah rakyat. Jadi, akan lebih tepat kalau istilah PNS itu diganti dengan sebutan pelayan rakyat saja,” terangnya. Sejumlah temannya manggut-manggut.

Dasarnya memang masih darah muda. Emosinya masih berapi-api. Nada bicaranya kian meninggi, hawa-nya seperti masa revolusi. “Partai-partai yang kerap mencetak para pejabat negara itu tugasnya hanya ngrepoti rakyat saja!”

Negeri ini dipenuhi orang-orang cerdas yang bertabiat bebal! Dengan segala macam cara, yang ada di benak dan otaknya hanyalah bagaimana agar hidup enak, makan, berak, beranak dan kawin saja, kelakarnya. Syuk!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here