Cewek Panggilan (4)

Begitupun EN, 23, mahasiswi asal Kudus, juga mempunyai aktivitas sebagai LS. Dia lebih memilih tempat kos di daerah Jrakah, lumayah jauh dari kampusnya di daerah Sampangan Semarang.

Kepada teman-teman kosnya, EN beralasan ingin ketenangan dengan memisahkan diri dari teman kuliah. Tempat kosnya cukup elit, terdapat pintu pagar besi dan dikelilingi tembok rapat. Jadi memang aman, dan nyaman untuk menyendiri.

Menurut seseorang yang pernah tinggal satu kos bersama EN, yakni IN, mengatakan bahwa sosok EN di mata teman-teman kos sangat baik. Bahkan EN dikenal sebagai wanita yang suka mentraktir teman-teman kosnya. “Hampir seminggu sekali, dia mengajak jalan-jalan bareng dan mentraktir makan di kafe,” katanya.

Hal mencurigakan bagi teman yang lain adalah bahwa EN setiap hari pulang malam atau dinihari, yakni sekitar pukul 02.00. “Hobi-nya belanja,” kata IN.

Pada suatu ketika, IN kaget. Kala itu, IN sedang mendatangi sebuah kegiatan sosial yang dimotori oleh komunitas Teater Lingkar di lokalisasi Gambilangu Mangkang. Nah, di tempat itu, IN kaget karena bertemu dengan EN teman satu kosnya itu.

Mungkin karena panik dan kebingungan, EN kemudian bercerita jujur kepada IN. Bahwa selama ini, dia bekerja sebagai pemandu karaoke di lokasi tersebut. Tentu saya juga memiliki sampingan sebagai wanita panggilan. Rata-rata pelanggannya adalah tamu hotel.

Tio adalah sosok pria di balik bisnis wanita panggilan tersebut. Bahkan dia diduga memang khusus menyediakan “pesanan” dengan klasifikasi khusus mahasiswi. Diperoleh informasi, kisaran banderol harganya mulai Rp 2 juta hingga Rp 5 juta.

EN sendiri hanya melayani orang-orang yang “dikenal” saja. Artinya, dikenal latarbelakangnya, semisal pengusaha ini. Kemudian ia baru berani melayaninya. Pemesannya kebanyakan pengusaha, atau bos-bos dari Jakarta yang singgah di Semarang. (Bangjoco-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here