Merokok di wilayah terlarang bisa terancam dijebloskan penjara maksimal 3 bulan dan denda Rp 50 juta.

Diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) Kota Semarang Nomor 3 tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR), menjadi kabar buruk bagi perokok. Perokok yang mencoba kebal-kebul di wilayah KTR akan langsung ditangkap tanpa pandang bulu oleh petugas Satpol PP.

Nasib sial itu seperti yang menimpa 15 orang perokok di kompleks Balai Kota Semarang, Selasa (28/2/2017). Awalnya mereka lagi nyantai sambil mengisap rokok di kompleks Balai Kota Semarang. Seperti prinsip fenomenal orang Jawa, apapun urusannya, yang penting udut dulu.

Perokok adalah orang paling tenang yang tidak buru-buru. Tidak takut ketinggalan kereta, tidak takut terlambat kerja, termasuk tidak takut terlambat nikah #eh. Apapun itu, prinsipnya ‘sak udutan sik’.

Nah, para PNS dan pengunjung di pendopo Balai Kota Semarang itu juga begitu. Mereka dengan hati rileks menikmati rokok dulu sebelum melanjutkan aktivitas selanjutnya. Tapi celaka, tim gabungan penegak Perda Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang, menangkapnya.

Mereka dianggap melanggar aturan karena merokok di Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Bukannya takut, hanya saja para perokok itu tak percaya. “Lho, kok ditangkap….”

Petugas kemudian menjelaskan, tentang aturan Perda kawasan tanpa rokok tersebut. 15 orang itupun akhirnya digelandang ke lobi untuk menandatangani surat pernyataan dan diberikan sanksi administrasi. Beberapa di antaranya melongo saat disodori aturan Perda. Sebab, Perda Nomor 3 tahun 2013 tentang kawasan tanpa rokok itu menyebut pelanggar bisa dipindana penjara 3 bulan dan atau denda Rp 50 juta. Busyet, duit kabeh kui?

Tentu saja hal itu membuat mata perokok itu melotot. Bagaimana mungkin, perokok membeli rokok secara sah dan legal. Rokok dijual bebas dan halal. Berkat jasa perokok, negera memiliki pendapatan pajak terbesar. Lantas mengapa perokok diperlakukan tidak manusiawi sebagaimana musuh negara?

Sebagai perokok sejati, pria yang disapa Antoni protes. “Saya bukan menolak Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok itu. Tapi saya hanya memertanyakan, kenapa harus melarang merokok melalui perda? Kalau memang maunya negara ini tanpa rokok, tutup saja pabriknya,” kata dia.

Negara yang sehat, kata dia, masyarakatnya harus menghargai pendapat orang yang tidak merokok. Tapi juga sebaliknya, hargailah orang yang merokok. “Itu kalau negara yang penghuninya sehat jasmani dan rohani lho. Nah, kalau sudah enggak waras dan irit nalar, itu beda lagi,” katanya.

Salah satu tamu yang tertangkap basah sedang asyik merokok, Jun, mengaku tak mempermasalahkan Perda tersebut. Tapi kalau mau akting sok disiplin, semuanya harus ditata. “Jangan hanya bisa membuat stiker larangan merokok saja. Silakan menegakkan Perda. Tapi sebelum melarang, harus bisa disediakan tempat khusus untuk merokok bagi perokok. Itu baru adil,” katanya.

Kepala Seksi Penegakan Perda Satpol PP Kota Semarang, Agus Satata, mengatakan mereka tertangkap tamgan sedang merokok di areal KTR. Dijelaskannya, area KTR sesuai Perda Nomor 3 Tahun 2013 tentang kawasan tanpa rokok, meliputi tempat umum (publik area), tempat kerja (kantor), tempat ibadah, tempat bermain anak-anak, angkutan umum, tempat belajar mengajar dan sarana kesehatan.

Maka orang yang merokok di wilayah KTR bisa dikenai sanksi pidana. “Sanksi pidananya berupa kurungan penjara paling lama 3 bulan dan atau denda paling banyak Rp 50 juta,” kata dia.

Namun demikian, saat ini masih tahap soaialisasi. Para perokok yang dinyatakan melanggar Perda No 3 tahun 2013 hanya diberikan sanksi administrasi dengan membuat surat pernyataan. “Tapi kalau sudah pernah surat pernyataan, ternyata ditangkap melakukan pelanggaran lagi, maka pelanggar tersebut akan kami bawa ke pengadilan untuk disidangkan,” katanya.

Dia mengakui, saat ini masih banyak masyarakat yang belum menjalankan aturan perda ini. Misalnya masih banyak ditemui pegawai merokok di wilayah terlarang. “Ini ironis, karena para pegawai pemerintah seharusnya memberi contoh untuk penegakkan Perda KTR ini. Sebab, sosialisasi sudah dilakukan sejak 3 tahun lalu. Kami juga sudah memberi rambu maupun stiker larangan merokok di tempat KTR,” katanya. (Jabal Nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here