Selamat siang Lur, sudah Lunch? Jangan lupa makan siang dulu, biar kuat menghadapi kenyataan. Tak ada salahnya, mari berkirim kabar walau sekadar lewat surat elektronik. Dunia saat ini memang berisik, maka jangan lupa berpikir jernih dan mencerahkan. Pastikan akal sehat selalu ‘on’ agar sampeyan “mendeles” dan mampu membaca “berita di balik berita”. Sebab, kita berada di tengah-tengah parade tipu muslihat. Zamannya tikus mengaku macan. Zamannya kadal mengaku komodo. Zamannya buaya darat mengaku jomblo. Hati-hati di jalan …Yuk belajar membaca…..:)

——-
Apa Kabar Mas Gunretno, Sehat?

Oleh. Ken Swari

Ada baiknya kita menelaah bersama, apa sebenarnya yang membentuk konflik #semenIndonesia dengan #Gunretno dan JMPPK Rembang.

Ada banyak faktor, namun dalam kesempatan ini, akan saya bahas bagaimana #logika yang dipakai #Gunretno dan JMPPK Rembang dalam melawan Semen Indonesia.

Anggapan bahwa Semen Indonesia itu kapitalis, karena berupa industri, pabrik, membutuhkan lahan pertanian, dan tidak menyerap banyak tenaga kerja.

Logika berpikir ini, masih menganggap “negara” dan “pabrik” sebagai sesuatu yang jahat _jika_ menggeser pertanian dan tidak menyerap tenaga kerja.

Ada kekhawatiran dan kecemasan, yang lebih dominan, daripada optimisme terhadap perubahan.

Saya pernah mendengar pernyataan Mbah Dalang, yang rumahnya dekat tapal batas Desa Tegaldowo, yang usianya lebih tua dari Gunretno, mengatakan begini, “Tanah saya ini #milik negara, kalau diminta negara, tentu akan saya serahkan.”

Dengan catatan begini: tidak mungkin negara mengambil begitu saja, tentu ada ganti-rugi dan alasan mengapa negara melirik prospek seratus tahun ke depan, bernama Semen Indonesia.

Mengapa Mbah Dalang bersedia menyerahkan rumah dan tanahnya, jika diminta negara?

Dia tahu, ada baik ada buruk. Dia bersedia membuka mata dan berbicara. Dia punya sikap tegas, bukan sikap keras.

Mbah Dalang lebih tua dari Gunretno. Dia nguri-uri “kabudayan Jawi” (kebudayaan Jawa), menyukai wayang. Dia melakukan apa saja, demi anak-cucu, bukan sekadar demi menghormati budaya warisan leluhur.

Lebih dari itu, Mbah Dalang punya nasionalisme.

Berkali-kali beliau bilang, “Iki nggek’e negara, nek dijaluk ya tak kekna”, yang artinya: “Ini milik negara, jika diminta (untuk kepentingan) negara, tentu saya berikan.”.

Rasanya tidak fair kalau saya membandingkan Mbah Dalang dengan Gunretno.

Dari sisi apa mau dibandingkan? Cara pandang Mbah Dalang sudah berbeda dengan Gunretno.

Mbah Dalang punya perspektif “masa depan yang lebih baik”, sedangkan Gunretno berkali-kali menyatakan, bahwa orang-orang (di sekitar pabrik semen) itu tidak butuh semen, butuhnya bertani.

Harap maklum, setahu saya sebagai penonton YouTube dan pembaca berita, saya tahu betul kalau Gunretno sering salah ingat.

*) Nggak enak lah kalau menyebut dia itu pembohong.

Gunretno bilang, Abetnego Tarigan tidak ikut dialog dengan presiden, waktu ditanya Ganjar Pranowo, padahal kenyataannya: Abetnego Tarigan ikut di sana. Dan dalam dialog dengan Presiden, tidak ada pembahasan tutup-menutup pabrik semen. Memang, dalam dialog, tidak ada pembahasan tutup-menutup pabrik semen. Gunretno lupa itu, lalu berkoar-koar, “Pabrik harus dihentikan..” dst.

Mbah Dalang senang ketika berbicara tentang wayang dengan saya, bagaimana saya mengamati ukiran Begawan Ciptoning, mengamati lukisan Baladewa, dan cerita beliau tentang hujan yang tak kunjung reda. Mbah Dalang tidak memaksakan orang lain menyukai pilihannya.

Berbeda dengan Gunretno.

Maaf, saya harus tekankan. Ini tentang sekolah.

Gunretno berada di zona nyaman, namun itu zona nyaman menurut dirinya sendiri.

Zona nyaman berupa: tidak perlu sekolah, tidak perlu berubah, tidak perlu pergi terlalu jauh, secara fisik maupun pikiran. Dia tidak ingin ada pergeseran. Biarkan hidup seperti (dan tetap harus seperti) nenek moyang dulu.

Dia sering menyatakan itu.

Penampilannya (dengan iket, penutup kepala dan baju hitam) mengesankan, dia orang samin tulen, nggak butuh pendidikan tinggi dan menjunjung tinggi adat.

Halo? Adat yang mana?

Sudahlah, Gunretno, ini era Facebook, era medsos. Kita semua tahu, betapa cepatnya informasi bekerja, termasuk hoax yang kamu bikin. Saya capek mengikuti logika berpikirmu.

Sudah bukan rahasia lagi:

Para tetua Samin (yang berkunjung ke Ganjar Pranowo, ataupun yang didatangi wartawan dan peneliti), sering bilang, “Jangan kaitkan Samin dengan Semen.”. Samin tidak mengajarkan “iri, srei, drengki”. Iri hati, permusuhan, dan kedengkian, tidak ada dalam ajaran Samin.

Para tetua Samin dari Sukolilo Pati, mengajarkan: “Nulis tanpa papan, papan tanpa tinulisan.” Menulis tanpa tempat (media), dan tempat tanpa bertuliskan apa-apa. Budaya tulis memang tidak ada dalam ajaran Samin, tetapi sekarang anak-anak sudah beregeser. Mereka ikut Senenan, istilah lain untuk kelas “membaca dan menulis” di hari Senin, di mana anak-anak diajari Samin tua, di rumahnya.

Sayangnya, Gunretno sudah tidak mungkin bicara banyak dengan para tetua Samin, mereka sudah tidak mau dipakai namanya untuk gerakan “tolak semen” ini.

Gunretno sudah ngeboss (kata orang-orang di sekitarnya). Dia punya usaha, bahkan sudah tidak perlu di-handle sendiri. Ada adiknya yang kirim hasil tambang ke Kaliyoso Kudus (dari Kedungwinong, Pati). Dia supplier yang mengerti apa itu “ngirim” dan “ngesup”, peristilahan yang akrab di kalangan para kontraktor.

Sekalipun menurut Kartu KK Gunretno nggak lulus SD, dia pegang laptop dan memakai hape Oppo. Rumahnya di Sukolilo bagus, harganya milyaran, satu di antara rumah dia yang lain.

Dia menjadi ketua JMPPK Rembang, sampai-sampai orang Jakarta nggak mengerti kalau sebenarnya dia bukan orang Rembang, kalau sebenarnya Semen Indonesia itu di Rembang.

Berhubung LSM ini nggak ada bendahara, soal keuangan Gunretno sendiri yang pegang aliran dana.

Secara psikologis, Gunretno selalu ingin menjadi “nomor satu”. Kawan-kawan lama gerakan “tolak semen”, banyak yang dia tinggalkan karena informasi dan dana harus melalui Kang Gun.

Saya kok nggak yakin, Gunretno bisa membedakan antara ornop (organisasi non-pemerintah dan LSM. Kalau LSM, bisa bentukan pemerintah, sedangkan ornop (atau disebut NGO, non-governmental organization) itu selalu bukan bentukan pemerintah. Dananya, bisa dari “Hamba Allah”, namun kebanyakan dari luar negeri. Contohnya, yang ada di belakang Gunretno dan JMPPK Rembang.

Saya nggak membenci orang yang tidak lulus SD, hanya saja, saya lebih suka melihat orang berhasil sekolah tinggi. Kalau memaksa “sudah, begini saja, pendidikan itu tidak penting.” itu soal lain.

Saya bisa memaklumi, betapa sulitnya memahami cara berpikir Gunretno. Sepertinya, Gunretno tidak sadar, walaupun ijazah itu (menurutnya) tidak penting, sebaiknya mengertilah orang yang Anda ajak bicara itu minimal lulusan SMA. Jadi, cobalah beradaptasi, sesuaikan-diri. Jangan memaksa orang lain menghormati prinsipmu untuk nggak mau sekolah.

Terus, bagaimana saya bisa percaya kalau dia pakai istilah kapitalisme, izin operasi, efisiensi, dll.?

Izinkan saya meragukan itu.

Dia saja nggak nyadar kalau menjadi penambang sekaligus menolak tambang itu sesuatu yang bertentangan. Dia juga nggak nyadar kalau aliran dana asing (negara kapitalis) itu menjadi bagian dari aksinya. *) Kalau dia menyadari ini, sebagai orang yang sama-sama pernah mengenyam kelas 4 SD, tentu saya bersedih.

Anda tahu siapa saja yang ikut demo di belakang Gunretno dan JMPPK Rembang? Abaikan akun pribadi atau orang-orang yang mau terkenal. Kalau mau terkenal itu gampang: tolak semen. Perhatikan saja, apa ornop dan LSM yang tergabung di sana. Pertanyaan saya sangat mudah, “Dari mana aliran dana ornop dan LSM ini berasal?”

Sudah ketemu? Okay, baiklah. Cari saja keyword terkait nama-nama 13 ornop dan LSM itu, juga website mereka sendiri. Nanti akan ketemu, dana mereka berasal dari mana.

Selamat datang, Yogyakarta. Selamat datang, Jakarta. Selamat datang, Paman Sam Amerika.

Bayangkan satu hal saja: apa yang terjadi jika Semen Indonesia #mendadak langsung beroperasi, semulus izin untuk Indocement dan semen asing lainnya?

Tentu Gunretno, Sukinah, para artis medsos dan ornop di balik demo protes tolak semen akan kehilangan ikan besar. Nggak dapat “moment” bersejarah.

Tentu kita ingat, bagaimana Gunretno dulu memprotes pembangunan PLTN Muria. Waktu itu, dia belum sering pakai iket. Twitter, Facebook, dan hape Oppo belum ada di dunia.

Gunretno itu bukan sekadar “pemain”. Dia sangat pintar.

Berbangga hatilah punya orang selicin Gunretno yang bisa membuat Yogyakarta dan Jakarta bersatu, ngukrik-ukrik Rembang dan pekerjaan negara. Berbangga hatilah punya tetangga yang membangun pencitraan bahwa seolah-olah orang-orang menolak pendirian pabrik Semen Indonesia di Rembang.

Betapa pintar mereka berkilah, ketika tanda tangan ultraman dan power rangers dimenangkan, mereka bilang, “Pokoknya kami menang. Jalankan sesuai keputusan!”.

Mereka diprotes-balik oleh orang-orang di medsos, Gunretno cs. merasa ditindas. Malah mau kriminalisasi. Padahal Gunretno itu yang kriminal. Dia yang mandegani (memimpin) gerakan “tolak semen” sekarang, dengan memakai Ultraman dan Power Rangers di dalam 2501 tanda tangan.

Dia tipe cowok yang menyukai kepalsuan itu.

Kok bisa ya, perbuatan kriminal ini mereka rayakan? Kok ya kolu mangan, nglakoni perbuatan kriminal di tingkat hukum begini? Jawamu endi? Indonesiamu endi, Kang Gun?

Kok bisa ya, orang “tolak semen” itu mengulang-ulang (di medsos) tentang bahaya industrialisasi semen, tapi ngumpet kalau ditantang adu data?

Ke mana orang-orang Rembang sebenarnya? Mengapa mereka rela aset 5 trilyun dipakai main-main oleh segelintir orang luar Rembang? Bahkan mengaku-aku sebagai “Kartini Kendeng”? Lha kok penak men. Begitu mudahkah menjadi Kartini hanya karena merasa ditindas dan mengecor kaki dengan semen di depan istana negara?

Kamu tahu Facebook, kan? 50.000 server Facebook itu ditangani 1 orang. Ini namanya efisiensi. Kalau pabrik selalu diartikan padat-karya, itu revolusi Industri awal, bukan zaman sekarang. Sudah dari awal dibilang kalau Semen Indonesia itu BUMN milik negara kok protesnya “Petani dapat apa?”.

Makanya, kalau nggak mau sekolah, baca-baca sedikit lah. Biar tahu, bagaimana rakyat bisa dapat aliran uang. Ornop saja bisa dapat uang dari Amerika, mosok rakyat Indonesia nggak dapat dana pembangunan?

Kalau Semen Indonesia harus mengkaryakan ribuan orang, itu logika anak kecil yang belum lulus SD. Kalau mintanya yang bekerja harus orang lokal, ya sekolah dulu lah. Mosok ngeyel minta “Harus bekerja semua, menyerap banyak tenaga kerja”, besok usir saja orang luar.

Jadi jangan marah, kalau sekarang orang-orang Rembang mulai akan mengusirmu.

Bukan Gunretno yang berhak mengatur orang Rembang. Gunretno hanya berhak mengelabui orang di media sosial, namun dia tidak berhak marah kalau orang-orang Rembang segera usut-tuntas siapa sebenarnya Gunretno dan orang-orang di baliknya.

Jangan marah kalau orang Rembang sudah memilih, bagaimana akan memperlakukan Gunretno. Di Tegaldowo maupun di media sosial. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here