Kamis 3 Agustus 2017 sekitar pukul 02.30 WIB dini hari, HP Detektif swasta BangJo berdering sambil keluar getarnya. Spontan, detektif yang lagi bobok nyenyak kuaget nganti bantal gulinge mencelat.

Saat dilihat, di layar LCD tidak keluar nama, hanya nomor tak dikenal. Begitu diangkat, juga mati.
Tanpa diduga, nomor itu muncul di pesan WhatsApp (WA), dimana berisi pesan video. Tapi karena ngantuk berat, BangJo harus melanjutkan tidur yang lama. 10 menit kemudian BangJo akhirnya bangun dan melihat video di WA dari nomor tak dikenal tadi.
Isi videonya cukup mengerikan. Seorang pria dengan kepala botak dan brewok memegang samurai dan menggores-gorekan samurainya itu ke beberapa bagian tubuhnya seperti tangan, kaki, leher dan perut. Tapi anehnya, tubuh yang digores samurai itu tak keluar darahnya. BangJo pun bergumam “sangar men ki wong iki”.
Merasa penasaran, BangJo mencoba menyelidiki dengan menghubungi nomor WA pengirim video tersebut. Tapi sayang, pulsane BangJo entek dan terpaksa harus menunggu kios pulsa tetangga depan rumah buka.( Nasib..melas..kasus sepi, klien podo rak cocok)
Setelah beli pulsa, nomor pengirim video dikontak langsung diangkat. Pengirim video tersebut mengaku bernama Ratya Mardika…bukan Rakyat Merdeka (koran harian) lho.
Kepada BangJo, Ratya yang mengaku warga Perumahan BSB Semarang ini sengaja mengirim pesan video kepada BangJo untuk disebarkan ke publik, khususnya warga Kota Semarang. Menurut Ratya, video ini bukan untuk membuat resah atau menakuti masyarakat, tapi untuk menantang orang-orang yang mencoba berbuat rusuh di Kota Atlas, khususnya yang memakai isu SARA dan intoleransi.
Ketika ditanya BangJo dapat kekuatan dari mana, Ratya njawab nek seko alami, dari kecil lahir sudah punya kelebihan anti bacok dan anti badai. Sedangkan samurai yang dipegangnya katanya merupakan barang dari kakeknya yang masih memiliki trah Mushashi yang kemudian diwariskan dari ayahnya yang mantan Highlander.
Selidik punya selidik, Ratya yang merupakan akuntan pajak ini ternyata merupakan Ketua Garda Nasional Patriot Indonesia (GANASPATI), yang sempat andil membubarkan acara pembentukan FPI di Kota Semarang dan menolak kehadiran Ustad Felix Shauw ke Semarang, beberapa waktu lalu.
Liat kekuatan yang dimiliki Ratya, kite-kite wong Semarang biasa nyebute CokNdal alias Bacok Mendal ndaa.(Aji Srengenge)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here