Setu Abduh Hadi (23) saat menjalani pemeriksaan di Mapolsek Genuk, Semarang. (foto : Detektif Swasta)

 

Uji ilmu anti mainstream , begitu perumpamaan yang cocok bagi Setu Abdul Hadi (23), pemuda imut berkacamata asal Tegal, Jawa tengah yang mendadak terkenal. Bukannya menikmati masa liburan sambil berfoto selfie, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini malah nekat uji kemampuan ilmunya. Tak tanggung-tanggung, lingkungan universitas lain pun jadi jujukan mahasiswa IPA Fakultas Matematika dan IPA itu.

Pagi, Rabu (12/7) sekira pukul 08.00 WIB, Setu diam-diam membaur sebagai calon mahasiswa baru di Universitas Sultan Agung Semarang (Unissula). Setu menyusup untuk mengikuti Ujian penerimaan mahasiswa FKG dan Farmasi Fakultas Kedokteran Unisulla tahun ajaran 2017-2018. Awalnya petugas pemeriksa kartu ujian tak mencurigai gelagat aneh Setu. Namun, bau khas dataran Sekaran, Gunung Patinya tercium setelah kartu ujian dan identitas miliknya tidak sama. Bingung bukan kepayang, Setu pun gelagapan diserang beragam pertanyaan. Petugas panitia ujian pun lantas membawanya ke Mapolsek genuk untuk diperiksa.

Belakangan diketahui ternyata Setu merupakan joki ujian atas nama Satrio Purno Prabowo, warga Tanah Merdeka Jakarta. Setu mengaku mendapat imbalan yang cukup fantastis jika kalau kliennya lulus ujian.
“Kalau lolos dapat 20 juta. Saya dibujuk dsuruh bantuin,” kata Setu.

Dijelaskan Setu, Awalnya ia diminta tolong menjadi joki oleh dua orang bernama Andre dan Ririn yang dikenal lewat aplikasi Whatsapp. Setu juga diminta mengirimkan fotonya oleh Ririn dan pagi tadi mereka bertemu di parkiran Unisulla.

“Di mobil ada lima orang. Sebelum tes saya dikasih kartu ujian sudah ada foto saya,” imbuh Setu .

Sementara itu, Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Unisulla, Amir Purnawan mengatakan Setu tertangkap saat akan melakukan tes CBT (Computer Base Test) dimana kartru tes dan identitasnya tidak sama. Dijelaskan Amir seharusnya kartu tes tidak mungkin dipalsu karena prosedur yang sudah ditentukan. Sehingga jika ada joki yang menyematkan fotonya dalam kartu, akan langsung ketahuan. “Kita minta sebut tanggal lahir tidak hafal, asal sekolah juga tidak tahu. Kemungkinan besar kartunya palsu, biar polisi yang membuktikan, ” ungkap Amir.

Hingga kini, kasus tersebut masih didalami pihak kepolisian termasuk terkait jeratan hukum.  Sementara itu, terpisah,  Rektor Unnes, Prof Dr Fathur Rokhman MHum menyatakan akan mengambil sikap tegas.  Apa yang dilakukan Setu bisa jadi masuk pelanggaran berat dan ancaman sanksi paling tinggi yaitu drop out.

“Sanksi diberikan kalau proses hukum sudah selesai. Kalau terbukti, itu pelanggaran tingkat berat, bis sampai ke DO,” tegas Fathur Rokhman. *

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here