Mengapa muncul gagasan tentang “hati nurani” dalam teks agama-agama? Apa hubungan gagasan ini dengan subordinasi terhadap perempuan? 

— 

the Outer Limits : Pertanyaan bukan Milik Agama ataupun Sains 

— 

Suatu kali, saya menonton-kembali satu episode di serial “the Outer Limits” di YouTube, kemudian berlanjut menonton movie “Hitler : the Rise of Evil”. Serial “the Outer Limits”, gagasan besarnya berkisar tentang alien dan manusia. Ide-ide agama, pengetahuan, dan perilaku manusia dituturkan bukan dalam bentuk peperangan frontal alien versus manusia. 

Seni menuturkan cerita (the art of story-telling) menjadikan serial ini sering memakai sudut-pandang beda dari cerita tentang alien lainnya. 

Serial ini hanya ingin mengajak orang berpikiran terbuka (open mind) tentang pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup: ke mana manusia setelah mati? Bagaimana evolusi terjadi? Apakah jiwa itu sesungguhnya? Apakah perjalanan waktu itu ada? Setiap awal dan akhir serial, ada suara seorang narator yang memberikan prolog dan epilog, tanpa mendikte sudut pandang pemirsa. 

Apakah deretan pertanyaan itu hak-milik (property) sains ataukah agama? Pertanyaan yang dimunculkan dalam ilmu pengetahuan dan agama, dalam serial ini, menjadi sama-sama ditunda, lebih tepatnya: mirip dua sisi mata uang logam, sebelum penonton melihat -dengan- sudut pandang tertentu. 

Misalnya, pertanyaan “mengapa ada lompatan waktu (time leap)?” yang diklaim ilmu pengetahuan secara teoritis bisa terjadi, diceritakan untuk pertanyaan agama: “ke mana manusia setelah mati? apakah jiwa itu?”. Ada pula episode yang menceritakan seorang ibu yang teguh memegang keyakinan, bahwa kelak dia akan hamil, saat melahirkan menjadi remaja, lalu mati demi bayinya itu yang diturunkan dari alien. Maka terjadilah. 

Asal dan Pengertian “Hati Nurani” 

Setelah menonton-ulang salah satu episode di serial “the Outer Limits” ini, saya beralih ke movie “Hitler : the Rise of Evil” (HRE)yang menceritakan kegigihan Hitler untuk berjuang atas nama Jerman. Hitler, memang antisemit, sejak muda dia sangat membenci Yahudi. Ketika ada anak buahnya menyarankan dia menggunakan hati nurani, Hitler berujar, “Hati nurani. Itu bikinan Yahudi!”. 

Mengapa ada ide tentang “hati nurani” dalam agama-agama? 

Ide “hati nurani” (conscience) digulirkan orang-orang Yahudi di kitab mereka, lalu dibicarakan pula oleh Kristen dan Islam. Hati nurani, dikenal orang Yunani dengan istilah “syneidesis”, dalam bahasa Latin adalah “conscientia”, berarti “pengetahuan pendamping” atau menurut C. J Vaughan berarti kecakapan untuk “pengetahuan bersama dengan dirinya sendiri” (Romans, 1880, hlm 40). 

Hati nurani tidak hanya terkait kesadaran (consciousness) dan penginderaan (sensation), sebab bisa menjadi “penghakiman” (begitu kata Alkitab di Kristen) atas hal yang dilakukan dengan sadar. Perjanjian Baru, sebelum Abad LXX, “syneidesis” tidak dikenal. Para ahli mengaitkan ini dengan gagasan Helenistis, bukan bahasa Ibrani. Pemakaiannya, ramai terjadi pada Abad 6-7 sM dalam teks surat menyurat. Islam mengenal istilah “qalb” (“hati nurani”, bukan “hati”).  Pengertian “qalb” yang paling keren, datang dari Imam al-Ghazali. 

Dalam “Ajaibul Qulub”  dijelaskan sebagai: segumpal daging dan lathifah rabbaniyah. Dalam “Ihya’ Ulumuddin”, karya Imam al-Ghazali, kata “qalb” (hati nurani), aql (rasio, akal), “nafs” (diri), dan “ruh” (ruh) sering menjadi sinonim untuk menyebut “lathifah rabbaniyah” atau daya halus Tuhan. “Hati nurani”, bagi Imam al-Ghazali merupakan: daging fisik, metode menemukan kebenaran logis, mewakili diri seseorang, sekaligus ruh. 

Tuhan Yahudi, Cerita tentang Perempuan, dan Problematisasi “Hati Nurani”

Seandainya gagasan tentang “hati nurani” tidak ada dalam agama-agama di dunia, tentu keadaan tidak seperti sekarang. 

Gagasan “hati nurani” diterapkan untuk siapa? Obyek paling representatif untuk membicarakan “hati nurani”, tentu saja perempuan. Paling bisa dilihat dalam “perempuan”, sebab membicarakan hati nurani berarti berbicara tentang: emosi, akal, indera, pengetahuan, keyakinan, “kejadian manusia”, kelahiran bayi, watak manusia, dll., itu membicarakan perempuan. 

Mari berbalik sebentar, sebelum ke perempuan, untuk membincang gagasan tentang “Tuhan” menurut agama Yahudi. 

Gagasan tentang “Tuhan” menurut Yahudi adalah: gagasan Tuhan dalam sosok “pagan” (berhala sembahan). 

Cerita ini diperkuat dengan narasi penyembahan sapi emas di masa Musa. Kebudayaan “pagan” ini kelak bisa ditemukan dalam kebudayaan Kristen. Konsep “menyembah” adalah tindakan berjarak: A menyembah B. Orang Yahudi pula yang paling sering protes terhadap keadaan mereka, meminta nabi-nabi mereka untuk “membuktikan”, “mendatangkan”, dan “menampakkan-diri”. 

Tuhan yang dikenal dalam periode ini, masih berada di proyek mitologi, nongkrong di langit, dan diperlakukan -secara- manusia, menurut manusia. Tuhan lebih sering tampil kejam, bolak-balik di kondisi “mengampuni” atau “menghukum”. Protes semacam ini, kelak akan menghasilkan protes lebih dahsyat, mengkerucut menjadi “science”, ilmu-pengetahuan. “Conscientia”, menjadi “scientia”. (d)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here