SEMARANGAN – Inovasi pertunjukan musik-puisi kali ini dihelat secara unik dan apik. Di sebuah gedung teater dengan panggung seluas 15×9 meter serta didukung sound system berkapasitas 4000 watt, puisi-puisi indah karya Jalaludin Rumi, dikemas berbalut musik rock. Mereka berusaha memadukan unsur bunyi alat musik tradisional seperti gamelan dengan sejumlat alat-alat musik modern.

Komposisi perpaduan alat musik tersebut sebagai upaya menciptakan alur mistisisme bunyi yang bergerak lembut menciptakan kesunyian hingga memasuki jeritan-jeritan gitar distorsi.

Pertunjukan bertajuk “Dunia Rumi” tersebut diprakarsai oleh kelompok pegiat seni Teater Metafisis Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Tidak tanggung-tanggung, pertunjukan dihelat secara berturut-turut, yakni di gedung teater Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang pada Selasa 29 Desember dan Taman KB pada 31 Desember 2015 lalu. Tentu, karya ini meramaikan iklim kesenian di Kota Semarang di ujung tahun 2015 dan menyambut tahun baru 2016.

Lurah Teater Metafisis Yazid Mubarok mengatakan, alasan memilih Rumi dalam pertunjukan tersebut karena Rumi merupakan sosok dunia yang memiliki bahasa mudah, indah, serta ‘bebas’ dari lokalitas. “Bahasa Rumi mudah dipahami, disukai oleh banyak apresian puisi,” kata Yazid, belum lama ini.

Dikatakannya, Metafisis mengangkat teks Rumi untuk membaca kemanusiaan dan Indonesia, bukan mentransfer lokalitas Rumi dari Turki. Maka dalam pertunjukan tersebut, lanjut Yazid, tidak menampilkan pakaian dan tarian Rumi sebagaimana yang dikenal publik. “Proses pengerjaan musik-puisi ini dikerjakan oleh sutradara Emenz dan komposer musik Mughice,” katanya.

Dalam pertunjukan tersebut terdapat alur pembacaan puisi dengan memuat gerak teaterikal secara monolog. Sutradara Emenz menambahkan, pertunjukan ini berawal dari penentuan tema puisi (Rumi) kemudian dipilih dalam suatu kerangka tematik.

“Ada chapter kemanusiaan, membuat keadaan surga di manapun, kematian, dan universalitas kebenaran. Baru kemudian disusun menjadi semacam playlist. Berikutnya, mengerjakan komposisi lagu selama 6 bulan, serta menyisipkan monolog dan gerakan,” bebernya.

Sementara komposer pertunjukan Mughice, mengatakan, pertunjukan “Dunia Rumi” dikemas berbalut musik rock. Ia mengaku bosan dengan pertunjukan musikalisasi puisi kebanyakan yang selama ini ditontonnya. Menurut dia, kebanyakan pertunjukan hanya memperlakukan musik sebagai ilustrasi, tidak jarang puisi asal-baca, seperti tanpa didahului apresiasi mendalam atas musik dan puisinya.

Lebih lanjut, pertunjukan ini melewati proses panjang. Bahkan sebelum memulai penggarapan, semua personil digembleng terlebih dahulu melalui workshop musikalisasi puisi. Saat itu menghadirkan narasumber Kasinungan Hanggarjito dan Sigit Sky Sufa, menjelang Ramadhan 1436 H lalu. Keduanya merupakan etnomusikolog dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan pemusik yang sering dikenal bermain di grup Adakalanya. Selain itu juga diisi oleh sastrawan senior Day Milovich.

Dalam workshop tersebut, kata Mughice, para personil mendapatkan cakrawala tentang bermain musik, apresiasi puisi, bagaimana menciptakan lagu, dan manajemen pertunjukan musik-puisi.

“Tidak semua teks yang dibacakan dalam pertunjukan ini berasal dari Jalaluddin Rumi. Namun pertunjukan ini juga menyisipkan monolog (diperankan Suyuti), tentang perjalanan manusia yang kehausan mencari sumber air,” katanya.

Meski memuat unsur gerak teaterikal, dia menegaskan bahwa pertunjukan tersebut bukan teaterikalisasi puisi Rumi. Monolog di dalam pertunjukan ini, lebih berupa ajakan untuk kembali kepada kemanusiaan dalam diri setiap orang. “Teruslah mencari, menuju sumber kehidupan,” pungkas Yazid. (bangjoco-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here