​Citra buruk itu menyebut “Sunan Kuning” sebagai pusat lokalisasi terbesar di Kota Semarang. Padahal Sunan Kuning merupakan tokoh penyebar Islam asal Tiongkok.

Orang Semarang sudah tentu mengenal akrab dengan daerah ‘Sunan Kuning’. Tetapi bicara ‘Sunan Kuning’, kebanyakan pikiran orang langsung terlintas kepada lokalisasi fenomenal yang terletak di daerah Kalibanteng Kulon, Semarang Barat. Tempat hura-hura, mabuk, karaoke, dan bergelimang wanita seksi. 

Selama ini ada pemahaman yang keliru. Sebab, daerah ‘Sunan Kuning’ adalah makam seorang tokoh penyebar Agama Islam asal Tiongkok yang memiliki nama asli Soen Ang Ing. Sedangkan tak jauh dari makam tersebut, terdapat lokalisasi yang dinamakan Argorejo, berdiri sejak 1966 silam. 

Ironisnya, makam tokoh penyebar Agama Islam ini ternodai atas keberadaan lokalisasi Argorejo itu. Sebab dalam perkembangannya, orang-orang dengan enteng menyebut “Lokalisasi Sunan Kuning”. 

Tak banyak orang yang mengetahui tentang asal muasal Sunan Kuning alias Soen Ang Ing. Ia juga memiliki nama Jawa yakni Raden Mas Garendi. Makamnya terletak di atas Bukit Pekayangan Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, berbatasan sisi barat Lokalisasi Argorejo.

Makam Soen Ang Ing itu hingga kini terawat dengan baik dan cukup megah. Untuk menuju ke makam tersebut, pengunjung harus melewati gang-gang Lokalisasi Argorejo. Sesampai di ujung Gang Argorejo sisi barat, terdapat pembatas portal, kemudian masuk gang Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat. 

Kurang lebih 50 meter setelah masuk gang, tepatnya di kiri jalan terdapat gapura dan undak-undakan anak tangga. Peziarah bisa menyusuri undak-undakan tersebut. Di kanan-kiri terdapat makam milik warga, kemudian di atas bukit terlihat gapura kedua dengan arsitektur khas Tiongkok. Memasuki areal makam, terdapat tiga bangunan rumah mini. 

Rumah pertama di sebelah kanan, diperuntukkan bagi peziarah yang hendak istirahat atau menginap. Sedangkan rumah kedua terdapat tiga makam tertulis nama Kyai Sekabat, Kyai Djimat, dan Kyai Modjopahit. Konon, ketiganya merupakan murid sekaligus pembantu setia Sunan Kuning. 
Sedangkan rumah ketiga merupakan bangunan utama yang dilengkapi dengan teras mirip pendopo. Di dalam bangunan utama terdapat tiga makam, yakni Makam Soen Ang Ing, dan makam yang tertulis Sunan Kalijaga serta makam bertulis Sunan Ambarawa atau Syekh Maulana Maghribi Kendil Wesi. 

Ketiga makam tersebut diberi rumah-rumahan kecil lengkap dengan kelambu dominasi warna merah. Di dekat makam terdapat ornamen patung khas Cina. Sedangkan di dinding tampak gambar silsilah Walisongo. 

“Nama asli Sunan Kuning adalah Soen Ang Ing. Beliau adalah tokoh penyebar Agama Islam dari daratan Tiongkok,” kata juru kunci, Sutomo (67). 

Makam Sunang Kuning kerap dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah Indonesia. Mulai dari Jawa Timur, Solo, Pasuruan, Jombang, Kediri, Surabaya, Kalimantan, Jakarta, Aceh, dan lain-lain. Sayangnya, Mbah Tomo tidak mengetahui hubungan antara Sunan Kuning dengan makam yang tertulis Sunan Kalijaga dan Sunan Ambarawa atau Syekh Maulana Maghribi Kendil Wesi tersebut. 

“Para Waliyullah memang dikenal memiliki banyak jejak, maupun petilasan. Bahkan tidak menutup kemungkinan, tokoh Waliyullah memiliki banyak makam,” katanya. 

Makam Sunan Kuning tercatat pernah diteliti oleh seorang pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Akhriyadi Sofian. Ia meneliti sejarah perkembangan Sunan Kuning dari tahun 1966 hingga 1984.

Tidak hanya itu, penulis Remy Silado dalam buku 9 Oktober 1740: Drama Sejarah, dalam catatan seorang Tionghoa di Semarang, Liem Thian Joe, juga menyebut bahwa Sunan Kuning memiliki nama populer Raden Mas Garendi.

Versi Remy Silado, Sunan Kuning berasal dari kata Cun Ling yang artinya bangsawan tertinggi. Sunan Kuning disebut sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam peristiwa Geger Pacinan (1740-1743). 

Dalam Geger Pacinan 1740-1743, Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC, R.M. Daradjadi menyebut Raden Mas Garendi bersama Kapitan Sepanjang (Khe Panjang) dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) mengobarkan perlawan sengit terhadap VOC di wilayah kekuasaan Mataram. Perlawanan ini disebut sebagai pemberontakan terbesar yang dihadapi VOC selama berkuasa di Nusantara.

Para pemberontak Jawa-Tionghoa menobatkan Raden Mas Garendi sebagai raja Mataram bergelar “Sunan Amangkurat V Senopati Ing Alaga Abdurahman Sayidin Panatagama” pada 6 April 1742 di Kabupaten Pati Jawa Tengah. Dia juga dianggap sebagai “Raja Orang Jawa dan Tionghoa”.

“Makam ini pertama kali dibangun pada tahun 1937 oleh seorang wanita pengusaha Cina yang tinggal di Solo, bernama Siek Sing Kang,” kata Mbah Tomo. 

Kemudian direhab lagi pada 1997 dan 1998 oleh warga keturunan Cina, Liem Tjong Tat warga Wotgandul Barat. Sayangnya, Mbah Tomo mengetahui kapan makam tersebut pertama kali ditemukan. “Tidak ada leluhur yang menceritakan tahun kapan makam ini ditemukan. Tapi yang jelas dibangun pertama kali pada 1937,” katanya. (jabal nur/bangjo.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here