Apa yang terjadi jika Thomas Raffles jeng-jeng di Pulau Jawa sembari membawa smartphone?

Reportase Thomas Raffles dan Sejarah Jawa 

Membaca History of Java karya Thomas Raffles memang menyenangkan, di sana dicantumkan gambar, foto, dan catatan perjalanan Raffles saat Inggris menguasai Jawa. Tentu buku 2 jilid setebal 479 dan 291 halaman ini, tidak ditulisnya sendirian, dia mengerjakannya bersama asistennya. Raffles hanya berumur 45 tahun kurang 2 hari. Waktunya digunakan untuk penelitian, mengurus rekam-jejak perjalanan, mengatur pemerintahan di Jawa, dan mengerjakan proyek Singapore karena kekecewaannya atas penyerahan Jawa kembali ke kekuasaan Belanda.
Raffles tidak menemukan Candi Borobudur pada tahun 1814, dia hanya menindak kabar adanya penemuan candi kuno di Magelang (Borobudur) yang sudah lama ditemukan masyarakat, lantas datang ke Magelang. Raffles pula yang menyemai konflik kekuasaan di Yogyakarta dengan mengasingkan Sultan Hamengkubuwono II ke Pulau Pinang (1812), digantikan Sultan Hamengkubuwono III (ayah Raden Ontowiryo, yang kelak dikenal sebagai Pangeran Diponegoro yang berperang 5 tahun saja namun membuat VOC bangkrut dan menyemai gerakan tarekat dan pesantren di Jawa).

Raffles dalam catatan perjalanannya, mengumpulkan koin wayang gebog (mata uang Jawa) dan membawa perangkat gamelan slendro-pelog ke Inggris. Waktu itu belum ada televisi yang meliput kesenian di Jawa. Raffles menganggap orang Jawa tidak punya sifat “amok” (chaos), dia mengkritik para sejarahwan Belanda yang menganggap temperamen orang Jawa mudah marah.

Kesan orang Jawa pemarah, terjadi hanya pada kalangan budak (slave), itu terjadi karena ketidakadilan yang diterapkan selama penjajahan Belanda. Raffles pula yang menerapkan landrente (sewa tanah) di Jawa, namun tidak terlalu menguntungkan dibandingkan kebijakan tanam paksa (cultuur stelsel). Terlepas dari semua itu, Raffles mencatat dengan baik apa-apa yang terjadi di Jawa selama Inggris berkuasa. Dia menuliskan hasil panen berikut harganya, kondisi geografis Jawa, asal mula penduduk, cara orang Jawa membuat batik dan kerajinan kayu, dialek, cerita yang berkembang, dll. Buku ini tidak hanya mengajak bernostalgia tentang Jawa di masa itu, buku ini juga mengajarkan bagaimana menuliskan sejarah. 

Saya tidak membayangkan Jawa seperti apa, sebab terlalu banyak orang yang ingin ketenangan ekologis dan eksotisme Jawa di masa lalu dikembalikan ke masa sekarang. Saya lebih tertarik pada kegigihan Raffles menuliskan perjalanannya. Apa yang terjadi jika seorang Raffles membawa smartphone dan terhubung ke Twitter dan Facebook. Dia bisa berjalan-jalan sambil memotret detail temuannya (tidak hanya menggambar sketsa patung Dewi Durga dan sketsa lokasi Candi Borobudur), dia bisa upload rekaman audio wawancara, ataupun menyajikan data dalam bentuk infografik yang mudah dipahami orang. Tinggal klik, share, semua orang menikmati data saat itu. 

Sejarah dalam Telepon Genggam 

Sebenarnya, aktivitas seperti Raffles ini telah dilakukan kawan-kawan pemakai jejaring sosial. Mereka menuliskan kronologi di timeline status Facebook dan menuliskan apa yang sedang terjadi di Twitter, atau menceritakan sedang di mana dengan Path. Semua orang menuliskan sejarahnya sendiri di jejaring sosial. 

Betapa mudahnya, sekarang ini setiap orang, atau sebuah kota, mulai menuliskan sejarah sendiri. Saya sering meninggalkan Facebook karena tidak bisa mencari banyak hal di Facebook, ini karena pengaturan privacy Facebook terlalu rumit, bahkan fasilitas search Open Graph Facebook belum diterapkan secara menyeluruh kepada semua pemakai. Namun dari bantuan group, event (acara), dan halaman, dengan bantuan beberapa akun hantu hasil meminjam dari teman, saya mengukur pengelolaan informasi dan bagaimana geliat orang-orang di sebuah kota. 

Pertanyaan sederhana: seberapa gencar data yang di-share di jejaring sosial itu menceritakan sejarah sebuah kota? 

Saya tidak berbicara tentang sejarah “masa lalu” yang penuh imajinasi dan pengandaian dari literatur yang itu-itu juga. Saya berbicara tentang menuliskan sejarah “sekarang” secara bersama-sama. 

Setiap membuka Twitter, coba luangkan waktu untuk search (mencari) kata kunci (hashtag) terkait kota atau daerah tertentu. Jakarta, misalnya, menyumbang twit 2,5% dari seluruh twit di dunia. Berita yang selama ini dikonsumsi publik, kebanyakan berasal dari Jakarta (koran, televisi, dan media online), terutama dari blok Palmerah. Dalam tempo 2 bulan terakhir, bisa ditebak, seperti apa warnanya: capres tiada henti. Sekarang disusul pula euforia paket religi bulan Ramadhan 1435 H. Sebaliknya, kawasan tenang internasional seperti Borobudur, hashtag #borobudur di Twitter, kebanyakan masih seputar upload foto instagram. Borobudur seperti kota dengan sejarah yang sudah “selesai”, padahal di dalamnya aktivitas kesenian tradisional, seni rupa, dan event, Borobudur tidak pernah berhenti, namun di Twitter masih sepi. 

Media Sebatas Teks dan Gambar 

Berapa pula prosentase content audio dan video yang diposting dibandingkan keseluruhan content di jejaring sosial, terkait sebuah kota? Masih sedikit. Anda bisa telusuri sendiri, seberapa banyak website yang “berani” memasang insert audio rekaman wawancara dengan narasumber? Itu sebabnya orang semakin percaya pada sejarah yang dituliskan televisi karena televisi mampu membuat kesan “reality show” dari kekuatan audio-video. Script, koordinator penonton, klise tontonan, dan advertorial, bisa memaksa orang menitikkan airmata, atau terkesan pada senyum seorang koruptor. Orang menjadi penikmat media sebatas teks dan gambar ilustrasi. Content audio dan video dalam berita-berita di media online, belum menjadi keharusan. 

Kesaktian Telepon Genggam 

Padahal, telepon genggam sekarang sudah sakti. Aktivasi geotag dalam sebuah potret, bisa langsung menandai dari mana foto itu diambil. Orang bisa share apa saja tentang event, termasuk catatan-catatan kecil yang ditulis orang yang mengalami. Sudah banyak orang yang makan, tetapi jika “saya” memberitakan, mengalami, dan menyaksikan peristiwa, maka kejadian sekecil apapun akan menjadi istimewa. Setiap hari, saya berjalan-jalan dengan isteri, ke Menoreh, ke tempat dan acara yang masih sedikit diinformasikan di jejaring sosial, dengan satu optimisme mendasar : ini adalah sejarah hidup yang layak dituliskan. Biarlah besok orang lain memutuskan : untuk apa kenangan ini harus dituliskan. Jutaan “saya” menuliskan sejarah hidup dengan jejaring sosial ini yang akan menjadi pertimbangan penulis sejarah manapun untuk menuliskan sejarah sebuah kota serta akan mempengaruhi keputusan orang lain. Termasuk keputusan politik dan percintaan orang lain. 

Sudahkah Anda tuliskan sejarah kota dalam perjalanan hidup hari ini? (d)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here