Lelaki itu bernama Jenar. Sosok remaja yang memiliki hobi stamps collector (pengumpul prangko) dan pengguna jasa kantor pos. 

Menginjak dewasa, saat ia berstatus mahasiswa, Jenar bekerja sebagai jurnalis media cetak ternama di Semarang. 

Ada ratusan lembar surat tulisan tangan lengkap dengan amplop dan prangko berderet di kamar kosnya. Ia memang selalu merawat tradisi komunikasi menggunakan surat tulisan tangan. Baik surat dari teman-teman SMP, keluarga, hingga teman kuliah. 

Sepucuk surat bertahun 1987 semasa ia masih duduk di bangku SMP masih diabadikan. Sebagian yang lain menjadi hiasan di sebuah papan menempel di tembok kamar.  

Meski Jenar tetap menggunakan smartphone, tapi ia tetap saja tak meninggalkan aktivitas berkirim surat. “Suka saja,” kata dia yang tak suka beralasan panjang lebar.

Bahkan hingga sekarang, Jenar masih sering menulis surat menggunakan kertas dan tinta warna hitam. Minimal sebulan sekali, ia masih berkirim surat melalui kantor pos. Padahal sekarang zaman surat elektronik (Surel) atau email. 

Ia menyakini bahwa surat bukan hal penting dalam perjalanan hidup. Tetapi surat diyakini menjadi barang berharga di kemudian hari. Bukan tanpa alasan, sebagian di antaranya adalah perjalanan kisah asmara selama ia menjalin hubungan asmara dengan sejumlah wanita sejak masih ABG. 

Cuplikan kisah kecil sepanjang hidupnya masih tersimpan rapi di lembaran surat tersebut. Kata-kata dalam surat itu tak selalu romantis sebenarnya, kadang malah lucu dan polos. 

“Dear, apa kabarmu di sana? Izinkan aku menyapamu melalui goresan pena ini….” begitu pembuka surat dalam salah satu suratnya yang jadul itu. 

Rupanya, surat itu dikirim oleh teman perempuan semasa SMP di Semarang. “Dia dulu duduk di bangku sebelahku. Sekarang bekerja di perusahaan telekomunikasi di Jakarta,” kata Jenar. 

Meski tak romantis-romantis amat, setidaknya surat-surat jadul itu menjadi bagian cerita yang cukup berkesan. Bahkan mungkin baginya sulit tergantikan dengan media elektronik. Sampai sekarang, Jenar masih tetap menjaga reputasinya sebagai “pemuda jadul”. Tak suka foto selfie dan nyetatus di media sosial. Ia juga selalu berkomunikasi dengan kekasihnya yang tinggal di Jakarta menggunakan surat pos. 

Minimal sebulan sekali, Jenar masih deg-degan menunggu tukang pos menyambangi rumah kontrakannya di daerah Pamularsih Semarang. Padahal sudah ada email, BlackBerry Messenger (BBM), Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, SMS, line, maupun video call. “Saya punya semua media sosial itu, tapi tidak bisa meninggalkan surat tulisan tangan,” katanya. 

Menunggu kabar atas datangnya surat itu sebuah seni kebahagiaan luar dalam. Baginya, surat pos menjadi tradisi ‘klangenan’ dan tidak bisa diganti peran dengan pesan kilat macam SMS, WA, email ataupun video call. 

“Menulis surat adalah aktivitas kehati-hatian, karena tidak boleh salah. Kalau salah, harus ganti kertas,” katanya. 

Generasi muda sekarang cenderung meninggalkan aktivitas menulis surat dan mengirimkan melalui kantor pos. “Saya punya komunitas pertemanan yang selalu mengirim surat. Ucapan ulang tahun, menikah, hingga surat lebaran, maupun berbagi cerita harian melalui surat,” katanya. 

Mungkin, Jenar adalah satu dari seribu anak muda yang masih mencintai kantor pos. Sedangkan anak muda lainnya menjadi pengikut teknologi. Ia tetap asyik menulis di atas kertas, di saat netizen berisik berdebat soal agama, mengeklaim ‘Saya Pancasila’, ‘Saya Indonesia’, terkesan paling Bhineka dan seterusnya di media sosial. Tetapi ia lebih menikmati debar-dada saat menunggu datangnya ‘Pak Pos’ menyambangi depan pintu kamar kosnya.

Mungkin, Jenar menjadi anak muda yang jauh dari jangkauan budaya ‘kagetan’. Tak mudah takjub atas munculnya sosok viral yang ujug-ujug terkenal. Tapi ia tak mempermasalahkan di saat ibu-ibu gemar pamer menu makanan di instagram. 

Mungkin, kertas-kertas surat milik Jenar menjadi saksi bisu yang nyaris mati digilas peradaban smartphone yang gesit, cepat dan membunuh itu. (jabal nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here