Mendadak harga cabe melangit. Banyak masyarakat menjerit. Ini terjadi berkali ulang setiap tahun. Pemerintah pun tak mampu berkutik. Sejumlah pihak seringkali mengkambing-hitamkan ataupun menuding presiden sebagai biang kerok. Termasuk faktor apa-apa saja yang menjadi penyebabnya.

Mulai faktor distribusi yang panjang hingga faktor cuaca. Lha kalok faktor distribusi yang panjang karena adanya permainan tengkulak atau mekelar, sak jane ya gampang. Seharusnya pemerintah bisa mengambil sikap tegas. Sikat aja to, kan pemerintah punya kuasa memberantas hal-hal seperti itu. Tetapi kalau faktor cuaca, lain lagi karena udah takdir.

Meski itu menjadi urusan pemerintah, tetapi kita sebagai rakyat yang tangguh harus memiliki inovasi secara kreatif. Jangan hanya perkara cabe, terus kemudian mati kelaparan. Kan enggak..

Seperti halnya yang dilakukan puluhan siswa SMP Sultan Agung 4 Semarang, beberapa hari lalu. Mereka santai ketika harga cabe melangit. Kemudian mereka beramai-ramai menanam bibit cabe di halaman sekolah. Mereka dibimbing oleh gurunya untuk bisa menamam dengan cara yang baik dan benar. Kepala Sekolah, Nur Kholis menegaskan bahwa generasi muda sekarang harus bisa menumbuhkan rasa cinta menanam.

Wah, bener juga ya. Sebab setelah mengenal dan bisa menanam. Pasti akan mencintai kegiatan bercocok tanam.
Pak Nur Kholis juga berharap, kegiatan menanam seperti itu bisa diterapkan di rumah. Ia menegaskan bahwa budaya produktif menanam akan selalu membawa aspek manfaat di kemudian hari. Sebagaimana pepatah Jawa “Sapa Nandur Bakal Ngunduh”. Secara harfiah, berarti siapa yang menanam, maka ia akan menuai. Tapi jangan menanam benih cinta di rumah tangga orang lain yah….

Salah satu siswi, Anindita mengatakan dengan menanam cabai sendiri, nantinya ia akan bisa memetik hasil. “Kalau menamam cabe sendiri, pas harga cabe mahal, kita enggak bingung beli cabe pak,” ungkap Anindita yakin betul.

Kegiatan seperti itu postitif dan tidak alay. Sebab, mereka mampu menyikapi persoalan yang terjadi secara bijak. Ini lebih baik daripada harus mengeluh di media sosial. Mungkin hal ini juga bisa ditiru di lingkungan rumah tangga. Luangkan sejengkal tanah di teras atau halaman untuk menghasilkan tanaman secara produktif. Pakai pot juga bisa.

But Away.. Sebagian pedagang di Pasar Johar Semarang berani menurunkan harga dari Rp 100 ribu, menjadi Rp 15 ribu rupiah per kilo lho. Tapi syaratnya harus makan di tempat… wkwkwkwk #jinguk (DM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here