ilustrasi

Yanto bukan guru olah raga, tetapi mengaku punya bakat melatih pertandingan. Sayangnya, bukan pertandingan olah raga antarmanusia, tetapi sabung ayam, alias adu jago.

Tidak tanggung-tanggung. Untuk urusan ayam dia sanggup menghabiskan duit banyak.

Si Jago butuh penanganan khusus. Dia paling berpengalaman kalau urusan “ayam bangkok”. “Saya spesialis ayam bangkok. Saya punya 3 kandang,” katanya kepada Detektif Swasta.

Benar, 3 kandang. Masing-masing kandang, isinya 1 ayam bangkok, terdiri dari 1 ayam bangkok yang sudah jadi, 1 belum jadi (masih dalam perawatan), dan 1 lagi masih kecil alias anakan. Namanya juga usaha, tentu kesungguhan yang menjadi kuncinya.

Menurut Yanto, ayam bangkok kalau dirawat, bisa menjadi ayam aduan. “Selain senang merawat, saya juga senang adu pitik. Pokokmen menguntungkan kalau berhasil memelihara ayam aduan,” katanya sambil menikmat rokok kretek.

Dibilang jalan pintas, bukan. Dibilang pekerjaan utama, nggak juga.

Yanto merawat ayam jago Bangkok, dengan cara membeli ayam asli, bukan hasil persilangan dengan ayam kampung. Dia beli dari group WhatsApp, lalu datang ke penjualnya langsung, dan mencocokkan keaslian ayam itu dengan ciri-ciri yang dia baca di sebuah website. Sayangnya, Yanto tidak menyebutkan, alamat website itu. “Pokoknya, saya ngetik di Mbah Google, lalu ketemu ciri-cirinya.” tepisnya.

“Jadi, Mas Yanto ngerti soal ayam dari Google?” tanya detektif.

“Sebagian. Saya juga belajar dari ahli biologi.” jawabnya.

Menurut Mas Yanto, kalau ngerti soal adu jago, bisa diterapkan ke dalam kehidupan.

“Ini filsafat tingkat tinggi, asli Jawa. Bayangkan, hanya dengan merawat anak ayam bangkok, kalau sudah besar, kita bisa adu jago dan dapat duit,” tutur Mas Yanto.

Menurut dokter Yanto ini, duitnya ya dari taruhan. Kalau jago diabar, pasti ada bandarnya. Modelnya, melalui chat dulu di group WhatsApp khusus. Anggota dibatasi. Nggak boleh ada polisi, apalagi wartawan. “Terus taruhan kita transfer dulu, biar aman, ke rekening bersama. Yang pegang itu “Pemangku”. Dia ini senior yang nggak ikut taruhan, tetapi bisa dipercaya,” bebernya.

Selain itu yang nggak ikut taruhan, masuk pakai “tiket”. Jadi menurutnya ayam mau diabar itu sudah dayat duit banyak. Nanti orang datang, kalau lihat jagonya, dan mau bertaruh ke siapa, tinggal pakai kode. Yang pegang taruhan, ngitung.

Mas Yanto menjelaskan panjang lebar, bagaimana cara mereka ini berkumpul. Caranya pulang juga diatur, biar nggak ketahuan orang sekitar.

Mas Wartawan pingin ngerti, “Terus, hubungannya dengan filsafat kehidupan, bagaimana mas? Soal ayam tadi..”

Mas Yanto menjelaskan, “Ini kaitannya dengan politik, Mas. Coba sampeyan lihat pilihan gubernur nanti.”

Setiap ayam, kata Mas Yanto, punya gaya bertarung masing-masing. Bibit, sangat berpengaruh. Jadi, gaya bertarung itu sesuai garis keturunannya. Kalau dari parpol, tentu berbeda dari yang berlatar-belakang pebisnis. Yang dasarnya dia orang kaya, atau baru-saja kaya, tentu gaya bertarungnya beda.

“Ayam jago itu ada yang bertarungnya ngalung, pukul-lari, selusup, dan pura-pura lemes,” jelas pria berkumis dan nyambi menjadi makelar tanah ini.

Memang, kalau digagas, benar juga. Gaya ngalung itu mengalungkan leher ke leher lawan. Ini semacam “bersentuhan” untuk merasakan, seperti apa stamina dan emosi musuhnya. Mirip orang koalisi. Nggak jarang, politikus yang kemarin berantem, hari ini tampak akrab. Atau sebaliknya. Kelihatannya tersenyum dan foto bersama, tapi hanya menguji kayak apa kekuatan musuhnya ini. Tahu tahu.. jebret! Kena jalunya.

Yang model tarungnya pukul-lari, alias hit-and-run juga ada. Dia nyari kelemahan lawan. Ditunggu sampai ada momen yang tepat, kemudian diperkarakan. Bres! Besoknya didatangi petugas hukum dan polisi, diduga terlibat kasus. Sampai dia terluka, merana, dan dicabik-cabik perasaaannya. Cuma sekali pukul, tapi rasanya.. sakit.

Ada juga yang model tarungnya main selusup. Blusuk sana, blusuk sini. Bilang kalau dia peduli pada rakyat. Ekonomi kita nggak bisa jalan tanpa orang-orang ini. Ngasih sumbangan. Pidato sana-sini. Gunting pita. Jadi pengurus. Minimal, wakil ketua. Setelah itu, bisik-bisik.. dukung saya. Main selusup, itulah gayanya.

Yang gaya bertarungnya pura-pura lemes, lebih ngeri lagi. Kelihatannya dia lemah, tetapi sebenarnya kuat.

Mas Yanto suka gaya bertarung jago yang taktiknya “pura-pura lemes”. Kelihatannya mundur, nggak mau bales njalu, tetapi sebenarnya dia ingin menguras stamina lawan. Kelihatannya nggak “menjawab tuduhan” di berita, tetapi di belakang dia lobi ke para pemain senior. Kelihatannya diam, tetapi di belakangnya punya banyak relawan yang siap tempur. Jenis jago seperti ini, pinter nyamar. Jangankan musuhnya.. kawannya saja nggak bisa menebak sekuat apa dia. Pintar main timing dan menjaga stamina.

Mas Yanto mengaku, dia lebih memahami hidup dan kehidupan, dengan cara adu jago.

Rejeki nggak usah dicari, kalau pas ada yang mau taruhan, uang sejuta sampai lima juta itu kecil. Bahkan kalau punya uang lima juta di tangan, itu juga bisa hilang seketika.

“Kok bisa hilang seketika, memangnya dipakai untuk makan-makan, Mas?” tanya Mas Wartawan pakai jurus “pura-pura lemes”.

Mas Yanto agak lemes menjawabnya, “Nggak, Mas. Diminta isteri. Untuk ngurus anak-anak, sama belanja. Harga-harga sekarang pada naik, Mas. Pakai meteran 900 pulsa listriknya mengerikan.”

Tak lama kemudian, dari balik tirai pembatas ruang tamu dan ruang keluarga, muncul seorang perempuan separuh baya. Jidatnya mengkilat, matanya melotot kepada Mas Yanto. Tidak diragukan lagi, pasti ini isteri Mas Yanto!

“Ngomong apa kowe, Pak!?” tanya perempuan itu.

Nah, jelas ini pasti isteri “beliau”.

Luar binasa. Mas Yanto menunduk, “Ngomong.. filsafat kehidupan..”.

Isteri Mas Yanto memandangi Mas Wartawan, “Sampeyan intel?”.

Mas Wartawan menggeleng.

Isteri Mas Yanto malah mendesak, “Kalau bukan intel, pasti orang leashing?”.

Mas Wartawan menggeleng. Kali ini dia kebingungan.. apa maksudnya?

“Suami saya itu kemarin habis ketangkap gara-gara adu jago. Sampek motor saya jual,” lalu Si Isteri menoleh ke Mas Yanto, “Sekarang ngomongnya filsafat kehidupan, pilgub.. intine adu jago, to!? Raimu, Pak!” .(Putra Khoirudin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here