Di film “Jumper”, seseorang punya kemampuan melompat ke tempat manapun yang dia tahu. Sarapan di Paris, makan siang di piramida mesir, lalu memotret salju di Kutub Utara. Aktivitas itu bisa dilakukan dalam hitungan detik karena kesaktiannya. 

Teknologi Mobile untuk Hidup Nomad 

Hidup nomad, selalu berpindah dan tanpa sebaris alamat tetap, sekarang banyak dilakukan manusia modern dengan teknologi komunikasi mobile. Mereka bisa bekerja di mana saja dan dari manapun.

Harap dicatat, teknologi komunikasi mobile memang dirancang agar orang bebas berpindah sambil tetap bekerja, berkomunikasi, dan hidup. Pada sisi lain, banyak profesi yang mendukung orang hidup nomad.

Anda mungkin seorang penulis artikel, penyunting dan penjual buku online, reporter antarkota, dosen terbang, event organizer, seniman dan musisi yang sering touring, sales promotion girl, pembicara seminar, administrator website, dll. Tidak harus berprofesi sebagaimana daftar di atas. Teknologi komunikasi mobile, membuat orang semakin bisa berdekatan saat (secara geografis) berjauhan.

Alamat Geografis ke Alamat Digital

Komunikasi di ponsel, terkait pekerjaan, sekarang bukan lagi “Kamu tinggal di mana?”, melainkan, “Posisimu sedang di mana?”.

Alamat seseorang, yang hidup nomad, tidak lagi alamat geografis, melainkan sudah digital, seperti nomer telepon, email, atau akun jejaring sosial. Hubungi “saya” di situ, bukan di sini.

Nomad dan Tuntutan Spiritualitas 

Hidup nomad, bukan sekadar tuntutan profesi. Beberapa orang, memilih menjadi nomad karena tuntutan keyakinan hidup maupun spiritualitas. Anda tentu ingat, bagaimana manusia pramodern melakukan perjalanan kesukuan, membuka lahan baru, untuk kelangsungan hidup komunitas. Setiap melampaui kawasan baru, mereka beradaptasi, bertahan-hidup (survive), mengembangkan teknologi pertanian, berburu, dan berperang.

Kaum Gypsy percaya, ke manapun mereka pergi, mereka menginjak satu tanah satu bumi, tidak harus menamai gunung, dataran, ataupun laut. Pandangan “satu bumi” ini mengatasi ketidakmampuan masyarakat pramodern dalam pemetaan geografis berskala global. Yahudi merupakan contoh baik untuk negara (bukan hanya komunitas) yang selalu nomad. Mereka tidak menetap, menyebar ke mana-mana. Orang China juga terkenal bisa berpindah-pindah hidup ke mana saja. Singkatnya, tidak ada kehidupan nomad tanpa kepercayaan transendental tentang pandangan bahwa manusia berpijak pada satu bumi yang sama.

Kehidupan nomad, bukan tipe kehidupan “bertahan” dan statis. Orang-orang nomad, menyukai penjelajahan dan selalu menyukai tantangan.

Pada dasarnya, kehidupan nomad sebelum teknologi komunikasi mobile ditemukan, adalah mobilitas yang dilakukan secara berkelompok, tidak hanya individu yang menjelajah, berpindah, sendirian.

Berbeda halnya dengan kehudupan nomad di era digital, di mana keberpindahan diukur dari kemampuan individual dalam hal profesi. Seseorang harus berpindah, karena alasan profesi. Dia menyiapkan diri dengan kemampuan dasar berupa penguasaan teknologi. Singkatnya, semangat “kesukuan” (berkelompok), sekalipun itu alasan profesi, sudah tidak terjadi. Adanya, individu yang menjalankan pekerjaan, dengan bantuan teknologi komunikasi mobile.

Tren Pencarian Berdasarkan Lokasi 

Tren pencarian (di internet) berdasarkan lokasi, juga telah terjadi sejak 2012. Orang tidak sekadar mencari “informasi tentang sesuatu” di Google. Mereka bisa mengabarkan “saya sedang di sini” melalui piranti yang berfitur GPS (global positioning system), sehingga dengan mudah pula, kawan lain bisa mencari siapa saja teman yang ada di dekat “saya”.

Sebuah peta digital, bisa bermuatan foto, informasi, ataupun foto akun lain yang sedang bertebaran di peta itu. Bahkan sebuah foto bisa menyimpan informasi termuat (metadata) yang menunjukkan lokasi pengambilannya. Tren pemakaian situs Path, yang ramai di Twitter adalah salah satu tren, betapa manusia bebas berkeliaran dan menandai lokasi “sekarang”.

Sulit mencari seseorang sekarang ini, namun orang bisa mengabarkan (melalui smartphone) sedang di mana sekarang.

GPS, Emoticon, dan Komunikasi Tradisional 

Apa yang terjadi jika ada sebuah situs bersejarah, yang mengasyikkan jika dicapai dalam bentuk perjalanan “menemukan”, namun diringkas menjadi koordinat peta digital yang bisa dijangkau siapa saja? Tidak ada lagi “pencarian” dan “perjalanan”. Apa yang terjadi jika pelukan untuk seorang kekasih, sudah diganti dengan emoticon? Ungkapan orang akan cenderung sama. Apa yang terjadi jika bangunan komunikasi tradisional, dilumpuhkan dengan bentuk-bentuk komunikasi fabrikan penuh sapaan sama, bernama jejaring sosial?

Jejaring sosial akan menjadi Larry Page, mantan CEO Google, memilih keluar dari Google karena dia memprediksi, mesin-pencari terbesar ini, berikut produk-produknya, akan merosot pendapatannya. Menurut Larry Page, Google bisa besar hanya karena 2 hal: para pemakai baru internet dan perkembangan teknologi komunikasi mobile.

Para pemakai sudah semakin cerdas, semakin mobile. Sekarang dikenal istilah wearable internet, di mana koneksi internet bisa dikenakan (sebagai pakaian), orang bisa ke mana saja, sambil tetap terhubung dengan internet.

Epilog

Setelah teknologi komunikasi mobile semakin canggih, seperti apakah budaya nomad modern nanti? Bukan tidak mungkin, akar kekuatan struktur masyarakat tradisional di Dunia Ketiga, kelak akan terkikis perlahan karena kehadiran budaya nomad modern, berdasarkan pemakaian ponsel. Sudahkah Anda berpindah-pindah hari ini? (d)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here