***

Kesulitan mengamankan sebuah perkampungan? Atau pasar? Urusan mudah. Saya bisa. 

Ini setelah saya ikut kumpulan maling. Yang membuat sebuah perkampungan, pasar, termasuk kantor, menjadi tidak aman itu penyebabnya cuma satu: maling. 

Sayangnya, membasmi maling itu nggak mudah. Kalau diadakan diskusi cara menangkap maling, adanya justru penugasan yang berbuntut pada korupsi dan pemborosan anggaran. Kalau mau pakai cara rahasia, dari operasi tangkap tangan sampai perburuan rahasia, hasilnya bisa salah-tangkap atau salah sergap. Mengintai kelamaan, malingnya malah lolos. 

Lha terus piye, penake? 

Mungkin kamu bertanya, “Apakah hanya maling yang harus kita atasi kalau ada situasi tidak aman?”. 

Biar lebih percaya, sebaiknya saya bercerita sedikit. Nama dan alamat, saya rahasiakan, agar keadaan lebih aman. 

Suatu hari, secara tidak sengaja, saya berada di perkumpulang para maling. Kelas satu. Omzet mereka sudah M alias miliar. Jangan heran. Mereka ngumpulnya di gedung mewah. Resmi. 

Kemudian, saya bisik-bisik kepada EO (event organizer) yang menjadi host acara itu. Mungkin bisikan saya nggak jitu. Bukannya mendapatkan jawaban, Mbak EO itu menempelkan jari telunjuknya di bibir. Aku dikon meneng. 

Acara dimulai. 

Raja Maling bercerita, bahwa perkumpulan tahunan ini, dalam rangka mengevaluasi kinerja permalingan di kota. 

Maling yang kerjaannya hanya ngelindur di malam hari, mangkir dan bolos di siang hari, itu akan menurunkan penghasilan Serikat Maling Pelopor Antar Kota (disingkat menjadi: SEMPAK). Intinya, mari menjadi maling yang disiplin dan tangguh. 

“Maling punya peluang menjadi teladan bagi para pegawai di negara ini, dalam hal semangat bekerja dan efisiensi waktu. Bayangkan, hanya bermodal kunci segitiga, dia bisa nyikat puluhan motor yang baru di-leashing dari dealer dan merepotkan para polisi.” demikian kata Raja Maling. 

Para wartawan membenarkan keadaan ini. Betapa efisien para maling dalam bekerja. 

Soal solidaritas, jangan ditanya. Kalau ada kawan sakit, mereka menjenguk. Tidak jarang, dikasih ucapan, “Segera sembuh. Kita akan foya-foya.”. Dikasih minuman berlabel depkes biar bisa mendem. Piye kon ora seneng, jal. Kalau ada yang disekolahke (dikurung, dipenjara), keluarga mereka dapat jaminan. Yang penting, menjadi anggota SEMPAK. 

Soal gaji, jangan ditanya. Mereka tidak mengandalkan gaji. Disebut gaji kalau punya prestasi. 

Belajar langsung di alam-raya, njegur nek ndalan. Jauh sebelum dunia pendidikan membikin alternatif sekolah alam raya dan belajar langsung di tengah masyarakat, para maling sudah mempraktekkan itu sejak lama. Teori maling harus dipraktekkan langsung di tengah masyarakat. 

***

Uraian Raja Maling ini, membuat para anggota SEMPAK semakin bersemangat. Para peserta, terdiri dari rampok, copet, begal, semuanya mengacungkan tangan ingin bertanya. Raja Maling mendongakkan muka dan mempersilakan. 

Rampok bertanya, “Saya pernah dihukum gara-gara membacok orang. Waktu itu, saya kelaparan dan nggak punya apa-apa. Begitu dikasih belati, saya intai mangsa, lalu saya bacok. Bagaimana solusinya biar nggak brutal saat menjalankan tugas?”. 

Raja Maling tersenyum, “Itu solusinya mudah. Perbaiki motivasi kamu dalam bertindak. Kamu merampok itu bagian dari kesejatian seorang maling. Langkah awal. Jadi, niatnya harus diperbaiki. Jangan merampok karena kamu lapar. Maling itu pekerjaan mulia. Lapar atau tidak lapar, lakukan perampokan. Pilih mangsa dengan bijak. Kalau kamu merampok karena lapar, jadinya ya main bacok. Itu merugikan diri sendiri. Ada pertanyaan lain?”. 

Rampok Cepethe yang baru keluar dari penjara tadi, menyadari kesalahannya dan mengangguk-angguk, “Luar biasa, Mas Raja Maling ini..” katanya pada kawan sebelahnya. 

Kawan sebelahnya, seorang pencuri, sedang mengacungkan tangan juga, mau bertanya. Raja Maling yang murah hati, memberinya kesempatan bertanya. 

Pencuri itu bertanya, “Saya pernah mau mencuri properti kantor. Kebetulan, kantor saya banyak barang elektronik. Harganya lumayan. Kalau barang baru bisa dijual, untung saya sekitar 60%. Tetapi, ketahuan kawan saya. Dia mau melaporkan saya. Bagaimana tips jitu agar taktik ini bisa saya jalankan di kantor. Saya pencuri, baru meniti karir di dunia pencuri, khusus perkantoran. Terima kasih.”

Raja Maling sudah bisa menebak dari kantor mana. Siapa nama kepala kantornya. Bahkan nomer hapenya. Tahu semua. Yang menyenangkan, Raja Maling tetap tersenyum dan memberikan solusi jitu. 

“Ingat, kawanku.. mencuri itu tidak bisa dilakukan semua orang. Butuh nyali yang luar biasa. Tapi kadang, tidak bisa dilakukan sendirian. Tahu kenapa? Karena mencuri itu bagian dari budaya manusia yang dianggap tidak ada. Kita harus lestarikan mental maling. Bahkan kita perlu tularkan budaya maling. 

Kesalahanmu adalah menganggap mencuri itu bisa dilakukan seorang diri. Itu sudah nggak trend. Mencuri itu perlu kekompakan, sinergi, berkelompok. Apalagi di kantor. Pertama, kamu buat dulu MOU dengan kawan-kawanmu, secara tidak tertulis. Mereka kamu kasih bagian. Pak Kepala juga dikasih. Pemeriksa pembukuan dikasih. Dengan begini kamu akan kuat dan tak tergoyahkan. Kamu bisa mencuri di depan Kepala Kantor, bahkan di depan televisi.” 

Pencuri tadi menitikkan airmata, merasa mendapatkan pelajaran rahasia, ilmu linuwih dari Raja Maling. Mbak EO yang ada di samping saya, ngasih kode ke Raja Maling. 

Tak lama kemudian.. 

Raja Maling mengumumkan siapa yang berhak mendapatkan penghargaaan tahunan untuk beberapa kategori: Maling Terlama, Maling Paling Disegani, Maling Paling Sering Masuk Televisi, Maling yang paling tidak dianggap maling, dll. Semuanya dapat hadiah dan tepuk tangan. 

Acara berikutnya adalah seminar permalingan yang dilanjutkan dengan makan-makan. Keesokan harinya, di kota itu, orang-orang semakin menyadari, betapa budaya maling sangat mengakar dan nilai-nilai positifnya perlu dilestarikan. 

Pekerjaan kantor menjadi lebih efisien, kalau mau belajar dari para maling yang selalu memperhitungkan detik-demi-detik saat beroperasi. Kesetiakawanan bisa membuat para pegawai tidak menyalahkan kawannya jika ada yang dituduh sebagai koruptor. 

Terlepas dari begitu banyak kontroversi setelah pertemuan para maling itu, yang jelas, orang semakin susah mendefinisikan: sak jane wong iki maling apa ora? Saat melihat televisi, membaca koran, setiap melihat ada berita tentang korupsi dan kejahatan yang merugikan sampai miliaran rupiah, para penonton dan pembaca lebih banyak diam. 

Mereka tidak tahu, apakah mereka itu maling sungguhan atau tidak. (d)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here