Pagi buta, 14 November 2016, ketika adzan subuh di speaker masjid baru saja selesai. Kalvin Prasetyo melangkah pelan mendekati gembok usang di sel tahanan Mapolsek Semarang Utara. Ini misi rahasia yang ia simpan semalaman suntuk tanpa tidur. Hanya satu kata dibenak: kabur!

Baru beberapa hari Kalvin ditahan atas sangkaan melakukan pencurian, ia sudah tak kuat menahan rindu kepada kekasihnya, sebut saja Lia. Kalvin kemudian celingukan ke kanan dan kiri. Didapati petugas penjaga sel sedang tidur lelap di ruangan lain. Pelan-pelan, ia bersama temannya, Dedi, mencongkel gembok yang menempel di pintu jeruji besi.

Dasar sel tahanan kelas Polsek yang hanya dilengkapi gembok tua, menjaga dua ‘tikus kecil’ saja kerepotan. Kalvin sebelumnya sempat mengamati dan melihat petugas polisi menetesi gembok tersebut menggunakan oli. Ia yakin betul kalau gembok itu rusak. Benar, keduanya dengan mudah bisa membobolnya.

Sembari berjalan jinjit, Kalvin dan Dedi bergegas mengambil langkah seribu. Mereka keluar dari ‘polsek neraka’ tersebut, kemudian mencegat taksi. Sopir taksi diminta membawanya ke arah timur Kota Semarang. Tak punya tujuan pasti, mereka lantas meluncur ke arah Purwodadi. Ia berusaha mencari tempat sembunyi di rumah teman.

Namun demikian, ia kembali lagi ke Semarang bermaksud menemui kekasihnya. Sesampai di Kota Lumpia, ia mencari kekasihnya ke mana-mana, tetapi tak ketemu. Di sisi lain, ia tak tenang karena tentu saja wajahnya diburu polisi.

Belum sempat bertemu Lia, Kalvin bersama Dedi segera pergi ke Bekasi bermaksud menjauhkan diri dari makhluk bernama reserse yang gentayangan memburu.

Tepatnya di sebuah rumah kos milik temannya, Kalvin bersembunyi. Tetapi sial betul, Reserse Mobile Polrestabes Semarang tetap saja mengendus. Dunia begitu sempit bagi Kalvin. Peluru panas tiba-tiba menembus kaki keduanya. Kalvin dan Dedi pun kembali dibekuk di sebuah rumah kos di Jalan Rawa Bugel, Bekasi Utara, Selasa (17/1/2017) pukul 02.00.

Keduanya kembali mimpi buruk di lantai sel tahanan polisi. Tapi kali ini mereka harus menginap di Markas Polrestabes Semarang. Mereka menunggu disidangkan di pengadilan. Dipastikan keduanya bakal menjadi penghuni penjara LP Kedungpane bersama ribuan narapidana lain.

“Gemboknya saya lihat rusak, lalu saya bobol. Selama kabur, saya belum sempat ketemu kekasih. Hanya bisa berkomunikasi melalui telepon,” kata Kalvin.

Kini, dia pasrah menunggu proses hukum. Dia juga hanya bisa menyesal. Tetapi penyesalan selalu datang terlambat. Selebihnya, ia berharap kekasihnya Lia mengetahui keberadaannya sekarang. “Agar mau menjenguk di sel tahanan,” katanya. (ditopangestu/bangjo.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here