Ilustrasi

Sedang asyik makan, tiba-tiba terdengar teriakan orang mengejar pengendara sepeda motor, beberapa puluh meter dari perempatan. Dua orang pengendara motor itu dihentikan secara paksa. Terjadi pertikaian.

“Mas, tolong kembali dulu ke perempatan. Kamu harus tanggung jawab,” kata Si Pengejar.
Sepasang pengendara, lelaki dan perempuan itu, terpaksa turun. “Apa salah saya!?”
Si Pengejar naik-pitam, “Masih belum ngaku!? Jelaskan saja di perempatan”.
Perempuan yang membonceng, melihat barang bawaannya, “Celaka..” desisnya.
Si Pengejar semakin curiga, “Nah, kan? Sudah saya duga. Kalian berdua pasti bersekongkol dan pura-pura nggak tahu..”.

Lelaki Pengendara itu bertanya, “Salah kami apa!?” tegasnya, tidak mau kalah tinggi.
Si Pengejar menunjuk ke arah perempatan, “Kalian berdua mau nyalahi orang sini, kan?” desaknya dengan nada mantap.

Memang benar, menurut penuturan warga setempat, terjadi kegelisahan beberapa minggu ini. Banyak warga yang mati secara mendadak. Bukan karena sakit. Semacam, disalahi orang. Saya sempat mendengarkan penuturan itu, dari penjual nasi di angkringan.
“Kamu bukan orang sini, kan? Coba, mana.. saya mau lihat KTP kamu,” tanya Si Pengejar. Beberapa saat kemudian, datanglah 2 orang warga lain, yang menyusul dari perempatan.
“KTP apa ektp?” tanya Si Pengendara.

Kedua warga yang datang, ikut “mengepung” sepasang pengendara itu. Ada yang mencatat nomor plat kendaraannya, sementara yang satunya langsung browsing dan kirim broadcast di WhatsApp.
Bunyinya kira-kira begini:
Akhirnya ketangkap, walaupun tak sengaja. Yang masih melek, tolong segera merapat di Utara perempatan. #hajarbersama

Broadcast dengan hestek itu langsung di-forward ke mana-mana, apalagi ada fotonya, walaupun nggak pakai blitz. Lampu merkuri sudah memadai untuk memperlihatkan kasus yang sedang mereka pecahkan.
Begitu ditanya tentang identitas, Si Pengendara kebingungan. Ternyata, keduanya nggak bawa KTP.

“Saya nggak bawa KTP,” akunya.
“Kalau begitu, ektp!” desak warga.
“Apalagi ektp. Saya sudah ngurus berbulan-bulan di Catatan Sipil, nggak jadi-jadi. Alasannya bermacam-macam. Blanko habis, antrian panjang, mesin error. Pokoknya saya nggak punya ektp. Lagian urusannya apa? Saya kan cuma lewat sini. Jalan umum. Kenapa harus bawa KTP segala?”

Warga yang barusan broadcast WhatsApp, ikut mendesak, “Memang ini jalan umum, Mas.. tapi kan Sampeyan lewat kampung sini. Apalagi jam ronda, di atas jam 12 malam. Sampeyan lewat tepat di saat kami sedang rasan-rasan soal beberapa kematian mendadak yang terjadi di sini.. Dan menurut kesimpulan kami, Sampeyan ada hubungannya dengan kasus-kasus kematian yang terjadi itu. Ngerti!?”

Si Pengendara antara bingung dan marah. Perempuan yang ada di dekatnya, yang nyangklong tas besar dan menenteng tas kresek besar, ketakutan melihat “perlakuan” warga. Namun, Si Perempuan ini justru yang berani menengahi, di tengah ketakutannya.
“Sebentar, Mas-mas.. mari kita bicarakan dulu persoalan ini, dengan cara bicara tenang, satu per satu.. biar jelas duduk-persoalannya. Jangan emosi dulu. Maafkan kawan saya dan saya ini, soalnya, kami diburu waktu, besok mau ada acara.”

Mendengar penuturan yang lembut dan menyejukkan itu, nafas para warga mulai teratur. Nggak terlalu emosional.

Si Pengejar mulai menjelaskan, “Begini, Mbak’e.. Beberapa orang warga di sini, banyak yang meninggal dunia, secara mendadak. Warga berpikir, kasusnya bukan medis, bukan pula karena persiapan kampanye pilkada. Tapi karena disalahi alias diguna-guna orang. Terus, kami semakin gencar menyisir siapa saja yang mencurigakan. Kayaknya, kalau warga sini kok nggak mungkin. Ronda kami perketat. Yang biasanya main kartu, kita ganti dengan doa bersama. Kalau malas doa bersama, ya minimal nonton YouTube dengan siaran yang religius. Biar suasana di kampung ini dibentengi Yang Mahakuasa.”

Mbak Pembonceng manggut-manggut, “Ohh.. begitu.. Terus..?”
Warga yang tadi broadcast WhatsApp menambahkan, “Dugaan terkuat, pelakunya orang di luar kampung kami. Terus, tadi ada kendaraan lewat. Kami nggak peduli kendaraannya kreditan atau sudah lunas, yang jelas.. kami lihat jejaknya.”
“Jejaknya apa, Mas?” tanya Mbak Pembonceng itu.
“Kembang. Ada kembang jatuh dari kendaraan.”
Mbak Pembonceng itu ekspresi wajahnya langsung berubah. Dia meraba tas kreseknya. Ada sobekan kecil.
“Celaka, mas. Syarat-nya ada yang hilang..” bisik Mbak Pembonceng kepada Si Pengendara, kawannya.
Mendengar kata “syarat”, ketiga warga lebih terperanjat. Bergantian mereka mencecar.
“Syarat-nya ada yang kurang? Berarti Sampeyan berdua memang sengaja menjatuhkan? Pakai syarat segala..”
“Jelas kalau sampeyan ini dari dukun. Sekarang ngaku saja.. siapa yang nyuruh.. siapa yang ngasih syarat..”
“Kami nggak takut sama santet! Ayo kita selesaikan ke Pak Ilyas malam ini juga. Saya sudah broadcast WhatsApp.”

Mbak Pengendara tidak takut, “Iya, syarat. Untuk acara besok. Mas-mas ini maunya apa!? Mau anggap kami dukun santet. Kalian melek ya!!! Saya ini memang dukun, tetapi dukun pengantin. Urusan rias dan ritual acara pernikahan besok di gedung itu..” katanya sambil menuding sebuah gedung yang biasa untuk resepsi pernikahan.
Ketiga warga itu saling-pandang.

Mbak Pengendara melanjutkan, “Bunga saya itu jatuh! Bunga itu -syarat- untuk upacara pernikahan. Kalau Mas-mas ini mau bukti, ayo gantian sampeyan bertiga saya ajak ndekor di sana. Mau bukti, kan? Tanya sama yang punya hajat mantenan, biar tahu, saya ini mau nyantet apa nggak!”

Mendengar penuturan itu, ketiga warga tadi surut selangkah ke belakang. Ada yang garuk-garuk kepala, ada yang membatin, “Dua orang ini kok nggak ada potongan dukun santet, ya?”, dan yang satu lagi segera mengirim broadcast WhatsApp ke group warga kampung itu. “Salah orang. Ternyata dukun manten. Yang mau penjelasan, merapat.” hastag #Salahwong

Tanpa banyak bicara, Si Pengendara menstarter motornya, “Ayo, Mbak. Nerusin dekor, sudah ditunggu kawan-kawan. Biar besok pagi acaranya lancar.”
“Njenengan yang bonceng. Biar saya yang di depan. Numpakmu kurang banter,” Mbak Dukun Pengantin itu sekarang yang pegang kendaraan, langsung tancap gas. Mungkin dia mantan pembalap motor yang gagal, pindah haluan menjadi perias manten.
Ketiga warga itu meminta maaf dan kembali ke poskamling dekat perempatan.
Mereka lupa minta nomer hape mbaknya yang dukun pengantin itu. (Putra Khoirudin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here