Tradisi minum teh milik bangsa Cina dan Jepang telah berumur ribuan tahun. Demikian pula tata cara minum kopi di jazirah Arab sana. Guna menikmati teh dan kopi diperlukan prosedur yang njlimet , dan diatur oleh protokol yang ketat. Di tanah Jawa lain lagi ceritanya. Bagi para penggemar minuman keras/ minuman beralkohol, falsafah hidup yang menyebutkan bahwa urip mung mampir ngombe (hidup hanyalah sekedar menumpang minum/ sangat sementara) ditafsirkan menjadi lain. Sehingga maknanya menjadi bahwa hidup hanyalah untuk sekedar minum (miras).

Banyaknya korban jiwa yang tewas lantaran menenggak miras oplosan, belakangan ini, menjadi salah satu bukti bahwa penggemar miras terus saja bertambah. Dengan naiknya harga miras dua bulan terakhir ini (karena minuman produk lokal seperti congyang, vodka, whisky etc sekarang telah dikenakan cukai), maka konsumen akhirnya beralih mengkonsumsi miras racikan sendiri yang berbahaya bagi kesehatan.

Dalam tradisi Jawa telah lama dikenal suatu pedoman guna mengkonsumsi arak atau ciu yang ”baik” dan ”benar”. Bila pedoman tersebut dipatuhi, niscaya peminumnya tidak akan sampai mabuk, apalagi sampai harus kehilangan nyawanya. Dalam Serat Tata Cara, Padmasusastra, seorang pakar Tradisi Jawa pernah menulis bahwa ukuran minum arak atau ciu itu terdiri dari satu sampai sepuluh sloki/ cawan (gelas kecil).

Paling bagus bila minumnya hanya satu sloki. Karena bisa menambah semangat. Yakni Eka Padmasari. Batas toleransinya adalah gelas kedua, ketiga sampai keempat. Meskipun, mulai gelas kedua, tingkah laku peminumnya dijamin mulai terpengaruh oleh alkohol. Bila diteruskan sampai gelas kelima, keenam, dan terakhir kesepuluh, dipastikan peminumnya akan tumbang/ teler. Yakni Dasa Buta Mati. Bila telah sampai gelas kesepuluh ibarat raksasa yang telah terkapar mati. Bila diteruskan gelas kesebelas, kedua belas, entah apa lagi jadinya.

Jadi bila tidak bisa menghindari alkohol dalam hidup Anda, tidak ada salahnya mempelajari tata cara minum arak versi Padmasusastra seperti di bawah ini. Yang jelas, ingat alkohol tidak baik bagi kesehatan, wanita hamil, bisa menyebabkan impotensi serta bisa menguras dompet Anda. Selamat menikmati. Hiks…

Berikut Tata Cara minum arak versi Padmasusatra yang saya kutip dan saya sadur secara bebas dari internet, yaitu terdiri dari sepuluh tanda sekaligus menunjuk suatu keadaan, sebagai berikut:

1. Eka Padmasari (eka=satu; padmasari=sarinya bunga). Orang yang minum “sadashar” (pembukaan, satu sloki, gelas kecil utk minum di pesta), diumpamakan seperti mengisap sari atau madu bunga.

2. Dwi Amartani (dwi=dua; amartani=merendahkan diri). Minum gelas kedua, orang tersebut sudah bisa disuruh-suruh atau diperbudak.

3. Tri Kawula Busana (tri=tiga; kawula=budak, orang rendahan; busana=pakaian). Maksudnya, tenggakan gelas ketiga, orang tersebut sudah kehilangan kesantunan.

4. Catur Wanara Rukem (catur=empat; wanara=kera; rukem=buah-buahan). Maknanya, pada gelontoran gelas keempat, orang yang mabuk sudah seperti kera makan buah-buahan alias rakus.

5. Panca Sura Panggah (panca=lima; sura=berani; panggah=kesanggupan). Maksudnya, pada minum gelas kelima orang yang mabuk merasa dirinya berani dan sanggup melakukan apa saja.

6. Sad Guna Weweka (sad=enam; guna=bangkit; weweka=penguasaan hati). Artinya, setelah minuman gelas keenam telah masuk kerongkongan, maka penguasaan hati sudah hilang, dan gampang bangkit kemarahannya.

7.Sapta Kukila Warsa (sapta=tujuh; kukila=burung; warsa=hujan). Artinya, pada tegukan gelas ketujuh, orang yang mabuk seperti burung yang kehujanan, badan dan mulutnya gemetaran, serta giginya gemerutuk.

8. Astra Sacara-cara (astha=delapan; sacara-cara=sesuka-sukanya). Maknanya, minuman gelas kedelapan, orang tersebut sudah tak mampu mengendalikan mulut dan omongannya. Dengan mudah mengeluarkan kata-kata kotor dan memaki.

9. Nawa Gra Lapa (nawa=sembilan; gra (singkatan wagra)=tubuh; lapa=lesu). Maksudnya, tenggakan pada gelas kesembilan, tubuh orang tersebut sudah serba lesu, lunglai, lemah. Tidak bisa apa-apa lagi.

10. Dasa Buta Mati (dasa=sepuluh;buta=raksasa;mati=mati). Orang yang telah menenggak gelas kesepuluh sudah seperti raksasa yang mati.

Beno Siang Pamungkas

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here