(foto : ilustrasi)

Meski ISIS tidak masuk Semarang, tapi aksi-aksine akeh sing nyonto. Tidak harus jadi teroris, nyonto aksi ISIS, di Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang ada oknum Aparat berpakaian doreng yang diduga berulah ala ISIS melakukan aksi penyanderaan terhadap mobil seorang pengendara taksi online Grab. Tapi benar tidaknya, silakan ini dibaca.

Diceritakan korban penyandraan KN(40), warga Tlogosari Semarang kepada Detektif Swasta  BangJo. Kejadian yang terjadi pada Selasa (11/7) lalu, diawali dari KN menerima orderan penumpang dari Hotel Siliwangi Semarang ke Bandara Ahmad Yani, sekitar pukul 10.00 WIB. Sampai di Bandara dan menurunkan penumpang, aplikasi yang di HPnya merk Cina, tiba-tiba bunyi “tut” tanda ada orderan penumpang di area bandara. Takut mengurangi poin performa, KN pun terpaksa menerima orderan tersebut. Namun tak sampai 1 menit penumpang masuk mobilnya, KN dihampiri dua petugas berseragam loreng, untuk langsung menurunkan penumpang. Ia pun kemudian dibawa ke Ruang Provost Pos Lanumad Bandara Ahmad Yani.

“Belum ada 1 menit penumpang masuk, saya dihampiri dua petugas berseragam doreng. Penumpang saya disuruh naik taksi lain, saya dibawa ke pos,” kata KN.

Didalam pos KN dihujani beragam pertanyaan. Petugas yang juga menyita surat kendaraan beserta SIM miliknya karena dianggap melanggar aturan dimana tidak boleh mengangkut penumpang di bandara. KN pun dengan sangat menyesal mengaku salah dan meminta maaf untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi. Oleh manajemen Grab ia memang sudah diwanti-wanti untuk tidak mengangkut penumpang di zona merah, khususnya di Bandara dan Stasiun.

“Saya akui saya salah meski tadinya lupa karena orderan pesanan di HP berbunyi. Mau saya tolak nanti poin saya berkurang. Salah memang saya salah”, terangnya.

Meski sudah minta maaf beberapa kali, Petugas berseragam doreng itu tampaknya masih ingin menghukum KN. Ia diminta membuat surat pernyataan dalam bentuk print seketika itu juga sehingga KN pun terpaksa jalan kaki beberapa kilometer untuk mencari rental komputer membuat surat pernyataan. Saat surat diberikan, Petugas masih saja tidak terima dengan alasan isinya tidak sesuai dengan kemauan Petugas. Sebagai hukuman, mobil KN disandera Petugas.

“Setelah kembali ke pos surat saya tidak diterima, katanya isinya harus sesuai dengan kemauannya (petugas). Padahal surat saya maknanya lebih luas. Terpaksa saya pulang tanpa mobil saya,” keluhnya.

Dihari berikutnya, merasa telah diperlakukan tidak adil, KN pun sempat melaporkan hal ini ke Pomdam 4 Diponegoro. Menerima aduan KN, petugas jaga pun menemani KN untuk mendampingi mengambil kendaraan miliknya.

“Sesampainya di pos saya masih ditunjukan surat aturannya. Saya tidak terlalu ingat, pokoknya ditandatangani beberapa perusahaan taksi,” jelas KN

Setelah merevisi surat pernyataan menggunakan tulisan tangan, mobil dan surat-surat kendaraannya dibebaskan. Namun penderitaannya belum berakhir. Sebelum pulang, KN masih dikerjai dengan dipaksa menggembosi sendiri ban mobil miliknya. Saat itu petugas juga sempat mengambil gambar dengan ponselnya.

Dari cerita KN, Detektif BangJo tak mau percaya begitu saja. BangJo pun melakukan konfirmasi ke PT.Angkasa Pura Bandara Ahmad Yani Semarang. Dengan teknologi canggih satelit melalui HP anti air dan anti badai, BangJo berhasil menghubungi General Manager Angkasa Pura Bandara Ahmad Yani Semarang, Maryanto. Kepada BangJo, Bapak Maryanto tidak mendengar adanya drama penyanderaan taksi online yang terjadi di area kerjanya. Namun dia mendukung dekat sikap tegas Petugas doreng karena sudah ada kesepakatan antara pihak Bandara, dengan Taksi umum, taksi online, Koperasi Lanumad serta Dinas Perhubungan, yang melarang taksi online dan taksi umum mengambil penumpang dari Bandara Ahmad Yani. Taksi online dan umum diijinkan mengambil Penumpang dari radius 200 meter area Bandara.

“Kalau kejadian mobil disandera saya belum mendengar. Tapi kalau tindakan Petugas, saya mendukung karena sudah ada kesepakatan kalau taksi online dan umum dilarang mengambil penumpang dari Bandara. Diperbolehkan setelah berjarak 200 meter dari area Bandara”, ungkap Pak Maryanto.

Dari keterangan Maryanto, BangJo masih belum puas. BangJo pun mencoba mencari konfirmasi pihak Aparat Lanumad Bandara Ahmad Yani. Alhasil, BangJo menghubungi Kasi Pam Lanumad Ahmad Yani Mayor CPN Tarwadi yang mengatakan hal yang sama dengan Pak Maryanto.

“Lho itu kan sudah kesepakatan bersama. Surat kesepakatannya saya juga menerima tembusan dari pihak Koperasi Lanumad yang mengelola armada Taksi Bandara. Kalau sudah disepakati semua, ada yang melanggar ya kita tindak. Beruntung itu ditahan 1-2 hari, bisa saja kita tahan sampai sebulan”, kata Pak Mayor Tarwadi.

BangJo baru lega. Karena aksi sandera-menyandera mobil yang mirip teroris ternyata ada sebab akibat. Kalau sesuatu hal yang sudah disepakati itu dilanggar, ya pasti ada sangsinya. — Percaya tidak Percaya, Bagaimana anda menyikapinya — dadi kelingan acara Misteri dulu di salah satu stasiun TV Swasta. (DM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here