“Sampai mati saya akan tetap tinggal di sini. Saya sudah cukup senang hidup di Perko (emperan toko),” tuturnya.

Dia bernama Sugiarto atau akrab disapa Mbah Baito (80). Ia menjadi salah satu penduduk pribumi yang menelan pil pahit di tengah laju kereta peradaban zaman. Bagaimana tidak, rumah tempat tinggalnya yang terletak di Kampung Basahan, Kelurahan Sekayu Semarang Tengah atau Jalan Bojong (Sekarang Jalan Pemuda Semarang), kini nyaris punah. 
Saat ini, bekas pekarangan rumah milik Mbah Baito telah berjejal gedung-gedung bertingkat.

Tetapi kakek renta itu tidak mau berniat sedikitpun untuk meninggalkan kampung halamanannya tersebut. Dia tetap memilih bertahan hidup dengan gerobak kesayangannya untuk memunguti sampah.  

Siapa sangka, Mbah Baito sang pemulung itu dulunya penduduk asli di Kampung Basahan. Tapi sekarang ia malah justru menjadi warga penghuni emper toko (Perko). Tanah dan rumahnya terjual akibat ‘rayuan’ para investor yang datang. 

Keberadaan Kampung Basahan sampai saat ini memprihatinkan. Bagaimana tidak, lokasinya kian tragis diapit antara Hotel Novotel dengan Semarang Theater. 

Tercatat sejak tahun 2005 silam, Kampung Basahan tinggal tersisa sebanyak dua Kepala Keluarga (KK). 

Mbah Baito sendiri saat ini tidak mempunyai KK atau tempat tinggal. Sehari-hari ia hanya tinggal sebatangkara sebagai penghuni emper toko. Ia hidup dari penghasilan sebagai pemungut sampah. Dua warga lain yang masih mempunyai KK, yakni Pujiati (71), Ngasimah (55). Rumahnya beralamat di Kampung Basahan RT 05 RW 03 Kelurahan Sekayu, Semarang Tengah. 

Saat ini, kampung ini hanya berbentuk lorong sepanjang 70-an meter, sebagai jalan pintas antara Jalan Pemuda ke Jalan Piere Tendean. Kurang lebih memiliki lebar 1,5 meter. Kelurahan Sekayu sendiri merupakan salah satu wilayah tertua di Kota Semarang, sebab banyak sejarah saat Semarang memulai sejarah. 

Dari ketiga penduduk Kampung Basahan yang tersisa, hanya Mbah Baito yang masih tinggal di Kampung Basahan tersebut. Sedangkan dua warga lainnya telah pindah di daerah Ngaliyan. Rumahnya yang masih berdiri di kampung itu dikontrakkan.

Mbah Baito mengaku tidak mau meninggalkan tanah kelahirannya itu. Meski sebenarnya, ia telah diajak pindah ke daerah Mangkang oleh anaknya. Namun demikian, ia tetap ngotot tinggal di tempat itu. Kakek sebatangkara ini bisa jadi generasi terakhir di Kampung Basahan. “Sampai mati saya akan tetap tinggal di sini. Saya sudah cukup senang hidup di Perko (emperan toko),” tuturnya.

Sempat menitikkan air mata, saat Mbah Baito mengingat masa Kampung Basahan masih menjadi kampung normal. “Dulu, di tempat ini banyak anak-anak bermain gobak sodor, gundu dan kalau malam ada warga yang jaga di pos kamling,” kenangnya.

Namun sekarang pemandangan itu sudah benar-benar langka. Bahkan mustahil bakal terjadi kembali. Ia hanya bisa menyaksikan perkampungan yang nyaris mati. Setiap hari yang terlihat hanya aktivitas lalu-lalang orang-orang tak dikenal. Selebihnya adalah tatapan kosong.

Cerita masa kecil itu telah menjadi kenangan. “Entahlah, dulu saat tanah saya akan dibeli oleh cukong, tiba-tiba saya ya mau saja. Mungkin karena butuh uang dan membelikan tanah untuk anak-anak sehingga akhirnya melepaskannya,” ujarnya.

Mengenai sejarah singkatnya, Mbah Baito menjelaskan, Kampung Basahan bukan berasal dari kata “basah” karena air atau sering terjadi rob dan banjir. Namun pada mulanya ada seorang tokoh besar atau ulama penyebar agama Islam bernama Kiai Basah Sentot. Dia adalah murid Sunan Kalijaga. “Beliau yang Babat Alas di kampung ini bersama sejumlah muridnya,” ungkap dia.

Diperkirakan, kampung ini berdiri seiring dengan zaman perang Diponegoro. Kiai Basahan kemudian mendirikan gubug-gubug yang kemudian menjadi rumah-rumah hingga menjadi perkampungan. “Sebutan Kampung Basahan sendiri yang memberi adalah para santri pengikut Kiai Basahan,” beber kakek pemungut sampah yang digaji Rp 70 ribu per-bulan oleh RW setempat. 

Dalam perkembangannya, jalan utama yang terletak di Selatan atau tembusan gang kampung itu dulu bernama Jalan Bojong sekarang Jalan Pemuda. Sepanjang Jalan Bojong dulu terdapat pusat kesenian bernama Kamarhola yang kemudian berganti menjadi Gris.

Di tempat itulah, aktivitas kesenian di Kota Semarang berpusat. Diperkirakan, masa aktif sejak sebelum Indonesia merdeka hingga tahun 1960-an. Kesenian yang sering mengisi di antaranya adalah Wayang Orang Ngesti Pandowo. Selain itu, di kawasan tersebut dulunya juga berdiri gedung pertujukan bioskop Mitropool, perpustakaan, dan balai wartawan. Diperkirakan, posisinya sekarang telah ditempati Mal Paragon. 

Mbah Baito sempat bercerita, Semarang adalah Kota Kenangan. Kota yang cepat berubah. Sewaktu remaja ia sering nongkrong di Prapatan Stenteling yang sekarang diberinama Simpang Lima. (Jabal Nur) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here