Tak banyak yang mengetahui asal muasal penemuan makam Sunan Kuning yang memiliki nama asli Soen Ang Ing, di Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat. 

Makam tokoh penyebar Agama Islam asal Tiongkok itu ditemukan jauh sebelum Indonesia merdeka. Meski tidak diketahui tahunnya secara pasti. Namun diperkirakan makam ini ditemukan beberapa tahun sebelum 1937 silam. 

Kali pertama, makam Sunan Kuning itu ditemukan oleh seorang tokoh sesepuh bernama Saribin. “Eyang Saribin adalah tokoh sesepuh yang dikenal memiliki ilmu linuwih dan banyak murid,” kata juru kunci, Sutomo (67), warga Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 nomor 18 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat.

Menurut Sutomo, berdasarkan cerita leluhur secara turun temurun, penemuan makam bermula saat Saribin tertimpa masalah, yakni kehilangan sebanyak enam ekor kerbau. 

“Dia melihat kandang ayam masih utuh, kandang kambing utuh. Nah, saat mengecek kandang kerbau, ada 6 ekor kerbau hilang,” tutur Mbah Tomo, sapaan akrabnya. 

Saribin kemudian mencari kerbau peliharaannya hingga keluar kota. Selama tujuh hari tujuh malam, kata Mbah Tomo, Eyang Saribin tidak tidur dan tidak makan. 

“Berhari-hari telah berlalu, tapi keenam kerbaunya yang hilang itu ada tanda-tanda ditemukan. Hal itu membuat Saribin hampir putus asa. Sebab, Saribin dikenal sebagai orang berilmu ‘linuwih’ ternyata tidak bisa mencari kerbaunya yang hilang,” katanya. 

Saribin akhirnya memutuskan untuk mencari tempat untuk menyendiri. Sampailah di bukit Gunung Pekayangan yang terletak di Kelurahan Kalibanteng Kulon Semarang Barat itu. Tepatnya di bawah pohon kepoh, Saribin bersemedi. 

“Tempat itu dulunya dikenal wingit, istilah Jawanya jalmo moro jalmo mati, tiyang mlebet mriki mboten bersih, mboten suci pikirane, wangsul sakit sedo. (Orang masuk di sini, kalau tidak memiliki pikiran bersih dan suci, pulang sakit dan meninggal),” katanya. 

Saat bersemedi, Eyang Buyut Saribin menemui kejadian aneh, yakni didatangi suara kereta kencana. Tetapi tidak kelihatan wujudnya. “Kemudian Saribin mendengar suara “Ngger ojo susah, kebomu tak cancang di pohon kesambi”. (Nak, tidak perlu susah, kerbaumu saya tambatkan di pohon Kesambi). Tak lama kemudian kerbaunya ditemukan,” kisah Mbah Tomo. 

Sejak saat itulah, Saribin yang melihat adanya kekuatan ghaib di bukit Pekayangan tersebut. Saat membersihkan semak-semak dan rumput, Saribin menemukan gundukan-gundukan menyerupai batu. Usut punya usut, gundukan tersebut dipercaya sebagai makam. Totalnya sebanyak enam makam. 

Saribin lantas berusaha mencari silsilah tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut, sebelum akhirnya meyakini bahwa tokoh yang dimakamkan di bukit itu salah satunya adalah Soen Ang Ing, seorang tokoh penyebar Islam berasal dari tanah Tiongkok. Sunan Kuning juga diketahui memiliki nama Jawa Raden Mas Garendi, bapaknya bernama Eyang Probo Kadilangu Demak. 

Sejak saat itulah, Saribin menjadi generasi pertama yang menjadi juru kunci di makam Sunan Kuning. Dalam perkembangannya, pada 1937 silam, makam itu dibangun pertama kali oleh seorang wanita pengusaha Cina yang tinggal di Solo, yakni bernama Siek Sing Kang. 

“Mamah Sing Kang ini salah satu murid Eyang Saribin. Perkenalannya, karena Mamah Sing Kang kehilangan emas berlian, kemudian berkeluh kesah kepada Eyang Saribin,” katanya. 

Entah karena ada kekuatan ghaib atau tidak, setelah diceritakan kepada Eyang Saribin, emas berlian milik Siek Sing Kang berhasil ditemukan. “Mungkin sebagai rasa syukur, Mamah Sing Kang kemudian berniat menyumbangkan sebagian uang untuk membangun makam pertama kali pada 1937,” katanya. (jabal nur/bangjo.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here