Cewek Panggilan (3)

Kesibukan kota tetap saja menyimpan realitas yang kadang tidak masuk akal. Kota Semarang pun menyimpan banyak sisi lain. Melihatnya cenderung miris dan sulit dipercaya.

Kalau wanita seksi dengan pakai mini, rambutnya semiran pirang kemudian bekerja sebagai pemandu karaoke itu biasa terjadi. Tapi ada juga mahasiswi berjilbab yang berasal dari kampung dan terkesan lugu, eh memiliki aktivitas sampingan sebagai penghibur tamu hotel.

Intelijen Bangjoco sempat memergoki kisah nyata ini. Dia adalah mahasiswi semester 4 salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Semarang. Sebut saja LS, 22, aslinya Kendal. Lahirnya bulan April.

Kesehariannya, oleh teman-teman kampusnya, LS dikenal sebagai mahasiswi anggun, kalem, dan cantik. Dikisahkan, Lis sejak awal perkuliahannya di Semarang, menjalin hubungan asmara dengan seorang mahasiswa berinisial R, 24, pria asal Pati, mahasiswa di kampus yang sama.

Namun kisah asmara itu kandas dalam waktu tidak lama. Kurang enam bulan, R dan LS menjalin hubungan asmara. Hancurnya hubungan asmara itu saat R mengetahui atau mendengat informasi bahwa LS yang berjilbab itu ternyata bekerja sebagai pemandu karaoke. Tepatnya di Resosialisasi Argorejo, atau sering dikenal lokalisasi Sunan Kuning, Semarang Barat.

Batapa kagetnya, R menerima informasi itu. Seketika darahnya naik, perasaan R hancur berkeping-keping. Sebab, selama ini R “serius” menjalin hubungan tersebut. R dengan menahan perih mendalam, berusaha menelusurinya lebih jauh.

Celaka, buah penelusuran itu malah mendapati bahwa LS telah hamil 2 bulan. R sendiri mengaku tidak pernah ‘gitu-gitu’ sama LS. Rasa tidak percaya bercampur geram menyelimuti perasaan R. Pahit banget. Usut punya usut, LS dihamili oleh T, 23, warga Demak.

T sendiri merupakan seorang operator karaoke di Lokalisasi Sunan Kuning. Entah kenapa, LS yang berstatus memiliki pacar, malah diam-diam menjalin hubungan dengan pria kenalannya yang bekerja sebagai operator karaoke itu. LS diketahui telah 4 bulan bekerja di rumah karaoke “W” di Sunan Kuning gang 3.

R pun tak menunggu lama untuk segera mengambil keputusan. Hubungan asmara yang selama ini dibangun dibubarkan. LS sempat menangis dan menyampaikan permintaan maaf kepada R. Tapi kenyataan itu membuat R tak bisa memaafkan.

LS dalam kesempatan itu mengakui kesalahannya, dan menceritakan awal mula terjerumusnya ke dalam dunia malam. Salah satu faktor utamanya adalah persoalan ekonomi. Menginjak perkuliahan, LS mengaku bingung untuk mencukupi kebutuhan hidup.

LS sendiri berasal dari lingkungan keluarga tidak mampu. Sebab, ayahnya di Kendal hanya bekerja sebagai tukang tambal ban. Makanya dia harus berusaha keras mencari uang untuk mencukupi biaya kuliah. Anehnya, LS terjun ke dunia malam itu karena diperkenalkan oleh wanita berinisial M, yang merupakan Bu Lek-nya sendiri. Dia adalah seorang pengusaha karaoke di Sunan Kuning.

Kesehariannya, LS berangkat dari kos sekitar pukul 19.00, dengan masih mengenakan jilbab, berjaket, bawa tas, pakaian dan dalaman kaos ketat. Namun sesampai di TKP, LS kemudian melepas jilbabnya.

Semua teman-teman kos tidak ada yang mengetahui apa yang dilakukan Lis di luar kos setiap malam. Jam kerja pokok mulai pukul 20.00-01.00. “Dia tugas pokoknya melayani pelanggan karaoke, nyanyi, dan minum para pelanggan yang datang. Termasuk apabila ada yang pesan untuk ‘tidur’ di hotel,” ungkap R.

Sebagai pemandu karaoke, LS rata-rata mendapat bayaran Rp 200 ribu per-hari. Namun jika melayani ‘panggilan’ untuk menemani tamu hotel, sekali kencan bisa Rp 2 juta.

R mengaku saat kali pertama mendengar penjelasan itu hanya bisa bengong. Saat itu, R pun mengaku kehabisan kata-kata dan hanya menahan kekecewaan mendalam. Termasuk saat LS mengakui telah hamil 2 bulan.

Apa boleh buat, R hanya bisa bersabar atas pengalaman pahit itu. Kini, lanjut R, LS telah keluar dari kuliahnya karena kondisi kandungannya semakin membesar. Beruntung, pria asal Demak yang menghamilinya mau bertanggungjawab untuk menikahinya. (bangjoco-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here