Cewek Panggilan (2)

Dalam penelusuran itu, detektif bangjoco memilih salah satu wanita seksi dari empat yang disediakan oleh satpam berinisial PJ itu. Wanita ramping berambut hitam lurus bertinggi kurang lebih 160 cm itu memperkenalkan diri dengan nama Tantri. Usianya 24, asli kelahiran Semarang.

Setelah transaksi ‘oke’, pria berinisial PJ tersebut dengan sigap telah menelopon operator sebuah hotel untuk memesan kamar. Perlu diketahui, jika pelanggan sudah memesan kamar atau sudah berada di dalam kamar hotel, maka wanita panggilan tersebut akan diantarkan dan menyambangi ke kamar pemesan. Namun jika pelanggan belum memesan kamar, maka PJ bersedia memesankan kamar. PJ juga bisa memesankan kamar sejumlah hotel berbeda hanya melalui telepon.

Setelah bertemu dengan PJ di Jalan Rinjani tersebut, detektif bangjo.co kemudian dipersilakan menuju sebuah Hotel ‘B’ kamar nomor 207 yang terletak di daerah Gajahmungkur Semarang. Kamar-kamar di hotel tersebut memang didesain mirip blok-blok perumahan. Sehingga pemesan bisa berkeliling mencari alamat kamar sambil mengendarai motor atau mobil. Ada petugas sekuriti hotel yang menunjukkan arah.

Begitu alamat kamar sudah ditemukan, pemesan langsung dipersilakan masuk. Termasuk motor/mobil bisa dimasukkan ke dalam garasi berpintu rolling door. “Mau short time, apa long time pak?” tanya petugas hotel tanpa basa basi.

Setelah memilih ‘short time’, atau ‘long time’, saat itu pula pembayaran sewa kamar dilakukan. Jadi, pembayaran sewa dilakukan di depan kamar tersebut, atau tidak dilakukan di tempat pendaftaran penerimaan tamu di lobi hotel.

Setelah menyelesaikan administrasi kamar, Tantri datang diantarkan menggunakan mobil Toyota Kijang Innova, kemudian menyusul masuk di dalam kamar hotel tersebut. Kurang lebih 1 jam, detektif bangjo.co mengajak Melia berbincang akrab. Ia tidak keberatan menjelasakan seluk-beluk dunia malam di Semarang. “Saya baru satu bulan kerja seperti ini,” kata wanita yang mengaku tinggal di Ngesrep Semarang ini.

Tantri mengakui menjadi panggilan karena terpaksa. Sebab terhimpit kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam praktiknya, pekerjaan wanita panggilan itu dikelola oleh seorang mucikari yang biasa disebut Mami. Sehingga pendapatan dari bekerja sebagai wanita panggilan itu menggunakan sistem bagi hasil.

Dijelaskannya, dia memiliki tarif per-kencan Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Namun demikian, Tantri mengaku, dari tarif tersebut, ia hanya mendapat bagian Rp 180 ribu sampai Rp 200 ribu saja. Sedangkan sisanya dikelola oleh manajemen Mami. “Ada jaringan yang menjadi perantara. Perantara itu dapat bagian dari Mami. Ini memang khusus untuk layanan tamu hotel,” katanya.

Mengenai siapa pelanggan yang sering memesan layanan plus untuk tamu hotel tersebut? Tantri mengaku biasa melayani berbagai macam profesi. Mulai anggota polisi, TNI, dokter, pengusaha hingga karyawan swasta. Namun demikian, kata Tantri, biasanya para pelanggan tidak mau menyebutkan apa pekerjaannya. “Saya tahu setelah kenal beberapa kali. Udah jadi langganan,” katanya.

Dalam sehari biasanya melayani berapa laki-laki? Trantri mengaku tidak bisa memastikan. Sebab, ia tidak setiap hari mendapatkan panggilan. Satu jam berlalu, Tantri terlihat curiga dan bertanya kenapa tidak ‘langsung main saja?’ Bahkan ia mulai merasakan hal aneh. “Selama saya menjadi wanita panggilan, semua pria hidung belang langsung tubruk. Tidak pakai lama. Baru kali ini saya mendapat tamu aneh,” katanya.

Tantri yang mulai curiga itu berusaha mengusut dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. “Pasti mas mahasiswa yang sedang melakukan penelitian skripsi ya?” tanya Tantri penasaran.

Bangjo.co pun berusaha menjelaskan bahwa kedatangannya di kamar hotel tersebut hanya ingin mencari suasana baru dan teman ngobrol. “Tapi kenapa harus rela membayar mahal, terus di sini hanya ngobrol aja? Ini sudah beli lho mas?” ujar mengejar pertanyaan.

Setelah berusaha dijelaskan secara detail, Tantri yang hanya mengenakan pakaian mini berkain tipis tanpa dalaman itu pun mulai mencair bercerita lain hal. Bangjo.co membantu menyalakan korek dan menyulut sebatang rokok yang telah dipegang oleh Tantri.

Sebuah rumah di daerah Ngesrep, cerita Tantri, dijadikan sebagai tempat ‘kantor’. Rumah tersebut memang sengaja disediakan untuk basecamp para wanita panggilan. Sedikitnya dihuni sebanyak 7 wanita, masing-masing; Anisa, Dewi, Chintia, Yunia, Shilfania, Rosania, dan Arbita. Mereka paling muda 17 tahun, paling tua 25 tahun.

Ketujuh wanita tersebut, kesehariannya memiliki rutinitas bekerja sebagai SPG, karyawan minimarket dan beberapa lainnya menjadi pemandu karaoke. “Mereka memiliki jadwal disesuaikan dengan pekerjaannya, misalnya kerja SPG yang disesuaikan dengan jadwal,” katanya.
Di rumah tersebut, mereka juga difasilitasi mobil dan sopir pribadi yang bisa mengantarkan dari hotel ke hotel. (bersambung/bangjo.co/01)

11 KOMENTAR

  1. wah mantap infonya, kapan2 boleh dicoba nih. sudah lama gk nyuci senjata hehehe takut karatan kalo gk diasah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here