Masih banyak fakta sejarah penting yang selama ini tidak banyak diketahui publik. Tokoh-tokoh tersebut memiliki peran penting dalam sejarah adanya Lambang Negara Garuda Pancasila. Salah satunya peran tokoh pelukis bernama Dullah. 
Dullah merupakan seorang pelukis di Istana Negara. Ia memiliki corak lukisan realistik. Ciri khas dan kegemarannya melukis jenis portrait berbentuk wajah, serta komposisi banyak wajah. Dia juga murid dari dua tokoh pelukis terkenal yakni S. Sudjojono dan Affandi. Meski demikian, karya lukisan Dullah tak pernah mempunyai kesamaan dengan karya dua gurunya itu. 

Selama kurang lebih 10 tahun sejak awal tahun 1950-an, Dullah dipercaya menjadi pelukis di istana. Tugas hariannya memperbaiki lukisan-lukisan yang rusak dan penyusun buku koleksi lukisan Presiden Soekarno. Hasil karya lukisan Dullah kebanyakan bertema-tema perjuangan, sehingga ia dikenal sebagai pelukis revolusi. 

Begitu juga saat Sultan Hamid II merancang sketsa Lambang Negara Rajawali Garuda Pancasila. Dullah merupakan seorang yang dilibatkan untuk melukis lambang negara tersebut sejak awal. 

“Setiap ada evaluasi tentang sketsa gambar Rajawali Garuda Pancasila, Sultan Hamid II menyerahkan hasil evaluasi ke Dullah untuk dilakukan perbaikan,” ungkap Turiman yang meneliti Lambang Negara RI Garuda Pancasila. 

Sketsa gambar Rajawali Garuda bentuk pertamanya menyerupai manusia setengah burung. Saat melewati evaluasi, sketsa manusia setengah burung itu dikritik karena dianggap seperti makhluk mitologi, atau khayalan. Kepala burung rajawali ‘gundul’ dikritik karena menyerupai lambang negara milik Amerika. 
Ekor burung yang semula 7 buah, dievaluasi dan kemudian diubah menjadi 8 ekor. Perubahan terakhir, yakni cengkeraman kaki rajawali garuda yang semula mencengkeram dari belakang, kemudian diubah menjadi mencengkeram di depan. 

“Semua hasil evaluasi kemudian ditampung oleh Sultan Hamid II, setelah itu diserahkan kepada Dullah untuk disempurnakan,” imbuhnya. 

Turiman menyebut, Sultan Hamid II lebih tepatnya adalah sebagai seorang Perancang Lambang Negara RI Garuda Pancasila, karena ia mengumpulkan masukan-masukan dari sejumlah tokoh. 

Setelah lukisan Garuda Pancasila hasil revisi itu serta perbaikan terakhir selesai, dibuatlah skala ukuran untuk menjadi laporan resmi. 

Tanggal 5 April 1950, Sultan Hamid II Menteri Negara Zonder Forto Polio dijemput untuk keperluan penyidikan oleh Jaksa Agung di Hotel Des Indes yang kemudian dikenal dengan “Peristiwa Sultan Hamid II” atau setelah dua bulan penyelesaian pembuatan Lambang Negara RIS.

Tanggal 10 Juli 1951, Dewan Menteri mengadakan rapat mengenai pengaturan lambang negara, yaitu racangan Peraturan Pemerintah yang mengatur lambang negara berdasarkan Pasal 3 ayat (3) Undang­-Undang Dasar Sementara 1950. 

“Baru pada tanggal 17 Agustus 1951, lambang negara tersebut dimasyarakatkan pemakaiannya di seluruh negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.

Gambar Lambang Negara Garuda Pancasila rancangan Sultan Hamid II mendapat disposisi oleh Presiden Soekarno pada 20 Maret 1950, yang kemudian dilukis kembali untuk terakhir kalinya oleh Dullah. (JN/Bangjo.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here