Ada kisah menarik dari pria paruhbaya bernama Turiman Fachturahman Nur. 

Dia seorang dosen Fakul­tas Hukum Universitas Tanjungpura Ponti­anak yang kala itu sedang menyelesaikan program doktor (S3) di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. 

Di sebuah teras rumah kos-kosan sederhana, tepatnya di kawasan Jalan Pleburan, Kota Semarang, tak jauh dari Han’s Coffee, ia menceritakan kisah yang luar biasa dahsyat dan berat. Bagaimana tidak, ceritanya itu tentang sengketa sejarah Lambang Negara Indonesia Garuda Pancasila.

Bahkan, Turiman selama hampir 15 tahun, sejak 1999 silam, terpontang-panting menelusuri dokumen-dokumen penting lambang negara Garuda Pancasila tersebut untuk penelitan. Ia hanya ingin meluruskan sejarah tentang Lambang Negara Garuda Pancasila yang selama ini dinilai salah kaprah. 

Masa rezim Orde Baru misalnya, buku-buku sejarah di sekolah menyebut pembuat Lambang Negara Garuda Pancasila adalah Muhammad Yamin. Padahal, itu salah. Dokumen-dokumen yang dimiliki Turiman menyebut fakta bahwa perancang lambang negara RI Garuda Pancasila adalah Sultan Hamid II Alkadrie, asal Kalimantan Barat. 

Turiman menceritakan secara runtut sembari menunjukkan bukti-bukti dokumen mengenai asal muasal terciptanya Lambang Negara Garuda Pancasila. 

Hasil penelitian pertama, Turiman menuangkannya di dalam Tesis Sejarah Hukum Lambang Negara Republik Indonesia, hingga ia meraih gelar magister hukum di Universitas Indonesia (IU). Isi penelitian yang dibimbing oleh Profesor Dimyati Har­tono itu telah divalidasi dan dibuktikan di Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Indone­sia pada 11 Agustus 1999 silam.

Turiman mempertahankan secara yuridis dengan data-data akurat mengenai siapa pencipta Lambang Negara Garuda Pancasila. Tidak berhenti di situ, ia kemudian melakukan lanjutan penelitian yang kedua di program doktor (S3) di Undip Semarang, yakni mengkaji dari sudut semiotika. 

Menurut Turiman, bukti-bukti yang dikumpulkan tidak ada yang bisa membantah, ataupun alasan yang menghalangi bahwa Lambang Negara Republik Indonesia Garuda Pancasila adalah hasil karya Sultan Hamid II. Kendati demikian, sejarah itu selama ini justru dikaburkan. 

Nama Sultan Hamid II selaku peran­cang Lambang Negara Indonesia malah ditenggelamkan. Bahkan tokoh yang telah berjasa bagi negara ini justru pernah dipenjarakan karena dituduh sebagai tokoh makar.

“Padahal berkat kar­yanya beliau, dinding istana dan kantor-kantor pe­merintahan di republik ini menjadi ber­wibawa dengan lambang Garuda Pancasila,” kata Turiman. 

Sejarah mengenai Sultan Hamid II dan Lambang Negara RI Garuda Pancasila ini sebenarnya mulai tersibak tahun 2000-an, sebelumnya ditutupi oleh sejarah penguasa di zaman itu. 

Meski sejarah mengenai siapa perancang Lambang Negara Garuda Pancasila itu telah diketahui, tetapi sampai sekarang belum ada pengakuan secara resmi oleh pemerintah. “Bahkan Sultan Hamid II mewasiatkan kepada anak-cucunya agar tidak memajang lambang negara sebe­lum negara mengakui hasil karyanya,” ungkap pria kelahiran Pontianak 8 Desember 1962 itu. 

Sultan Hamid II merupakan sultan ke delapan dari Kesultanan Qadriyah Pontianak. Lahir 12 Juli 1913 dengan nama lengkap Abdurrahman Hamid Alkadrie, Putra Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, Sultan VII Kesultanan Pontianak. Ayahnya adalah pendiri kota Pontianak.

Di kisaran tahun 1950-an, Sultan Hamid II diadili karena ditangkap dan dituduh makar. 

Sultan Hamid II divonis 10 tahun penjara dipotong masa tahanan 3 tahun. Pada tahun 1950 dia ditangkap, baru diadili pada tahun 1953. Pada 1958 Sultan Hamid II sudah keluar dari penjara karena mendapat remisi kelakuan baik.

Pada 30 Maret 1978, pukul 18.15 WIB, Sultan Hamid II wafat di Jakarta. Sultan Pontianak ke-7 itu meninggal dunia ketika sedang melakukan sujud saat saat salat maghrib. Sultan Hamid II dimakamkan di Pemakaman Keluarga Kesultanan Qadriyah Pontianak.

Hingga kini, tak banyak orang Indonesia yang mengetahui siapa Sultan Hamid II ini. Padahal ia merupakan perancang Lambang Negara Garuda Pancasila. Saat ini, Sultan Hamid II sedang diajukan sebagai Pahlawan Nasional oleh Yayasan Sultan Hamid II. (JB/bangjo.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here