​​Semarang tumbuh subur menjadi hutan kabel.

Kota Semarang memang kian sibuk. Kota yang terus bersolek untuk melakukan perbaikan pelayanan. Belakangan dikenal sebagai kota yang mampu menggerakkan pembangunan massal melalui program kampung tematik dengan wilayah 177 kelurahan. 

Kota Semarang juga menjadi salah satu kota di Indonesia yang getol menerapkan konsep smart city atau ‘kota cerdas’. Menyusul kota besar lain seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya yang telah terlebih dahulu menerapkan smart city. 

Tetapi Kota Semarang juga menjadi contoh baik untuk hal buruk, dalam hal penataan jaringan kabel. Baik PLN, telekomunikasi, maupun utilitas lainnya. Kabel-kabel berseliweran di atas jalan raya, ruko bertingkat, maupun permukiman padat penduduk. 

Persoalan kabel semrawut ini menjadi persoalan yang telah mengakar sejak lama. Mungkin pemerintah belum sempat menata, sehingga kota ini tumbuh subur menjadi hutan kabel.

Meski wacana penerapan Ducting atau penataan jaringan kabel bawah tanah dengan konsep Ground Breaking Ducting Fiber Optic pernah muncul. Namun hal ini tak kunjung terealisasi. 

Adanya kabel-kabel ini sangat berbahaya. Terlebih saat cuaca ekstrim, hujan deras disertai angin kencang. Kerap, insiden pohon tumbang menimpa kabel-kabel bertegangan tinggi itu. Tak jarang pula Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang tersesat di hutan kabel ini. Seperti halnya yang terjadi di dekat Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran (BPLP) Semarang Jalan Singosari-Pleburan Semarang, Senin (16/5/2017).

Kabel-kabel telekomunikasi yang melintang di atas jalan raya rupanya kendor. Celaka, BRT yang melintas itu nyangkut di kabel tersebut. Bus itupun terpaksa mogok karena tersesat masuk belantara hutan kabel yang ruwet bin semrawut. Tentu ini memalukan dunia persilatan, mengingat penumpang BRT yang berharap pelayanan maksimal, terpaksa harus turun hanya karena bus yang ditumpangi tersendat kabel. 

Itulah sebab mengapa kota ini sudah saatnya menggagas dan merealisasikan penerapan Ducting untuk penataan kabel bawah tanah. 

PLN maupun Telkom boleh saja berdalih bahwa tiang-tiang listrik dan jaringan kabel telah ada sejak sebelum rumah warga dibangun. Lantas mereka memilih membiarkan nyawa-nyawa terancam di ujung kabel. (Jabal Nur/Foto: Gholib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here