Jumat (4/8) sore, perasaan detektif swasta Bangjo tiba-tiba tak karuan. Seorang mantan klien menelpon BangJo yang mengabarkan bahwa perusahaan jamu PT. Nyonya Meneer yang menjadi legenda di Kota Semarang dinyatakan kukut eh Pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang.

Antara percaya gak percaya, sebagai Detektif Swasta, BangJo tidak mudah percaya. BangJo pun langsung menelpon Charles Saerang, owner Nyonya Meneer yang pernah satu perguruan ilmu bisnis dengan BangJo di sebuah padepokan yang tidak dapat disebutkan disini.

Telpon Charles ternyata tidak aktif. BangJo pun kemudian mengontak GM Marcom Nyonya Meneer Lily Siswanto. Sayang, Lily mengaku tak bisa berbicara banyak. Ia sendiri mendapat informasi yang sepotong-sepotong dari orang luar sehingga ia mengirim Tim Legal perusahaan untuk mencari tahu kebenaran kabar pailit itu.

Kalau benar diputuskan Pailit, Nyonya Meneer yang berdiri sejak tahun 1919 ini akhirnya harus menyerah kecapekan di tahun 2017. Bukan perjuangan biasa, harus “berdiri” bertahan selama hampir 100 tahun.

BangJo yang membuka buku sakti sejarah Kota Semarang berhasil mendapatkan sekilas sejarah jamu Nyonya Meneer. Ini sejarah singkatnya asli seko pusat.

Nyonya Meneer, adalah perempuan keturunan Tionghoa yang memiliki nama Lauw Ping Nio yang lahir di  Sidoarjo tahun 1895. Nama Meneer yang disandangnya bukan karena ia adalah istri seorang meneer Belanda, melainkan berasal dari nama beras menir, yaitu sisa butir halus penumbukan padi. Saat masih berada dalam kandungan, ibunya mengidam dan memakan beras ini sehingga anak ketiga dari lima bersaudara ini kemudian diberi nama Menir. Karena pengaruh bahasa Belanda, kata menir akhirnya ditulis menjadi “Meneer”.
Nyonya Meneer memulai usahanya di Jalan Pedamaran 92 Semarang, hingga kemudian berkembang pesat menjadi skala nasional.

Dengan bantuan keempat anaknya, yakni Hans Ramana, Lucy Saerang, Marie Kalalo, dan Hans Pangemanan, Jamu Nyonya Meneer berhasil memproduksi sedikitnya 254 merek meliputi 120 macam produk berbentuk pil, kapsul, serbuk, dan cairan dan terbagi dalam tiga jenis, untuk perawatan tubuh, kecantikan, dan penyembuhan.

Nyonya Meneer meninggal dunia di tahun 1978, menyusul kepergian putranya Hans yang meninggal terlebih dahulu pada tahun 1976. Operasional perusahaan kemudian diteruskan oleh generasi ketiga yakni kelima cucunya.

Sayangnya, di saat usia Perusahaan mencapai angka 70 tahun, konflik keluarga terjadi dimana muncul perseteruan di antara kelima orang cucu pewaris tahta perusahaan yang belakangan berubah nama menjadi PT. Nyonya Meneer itu.

Imbasnya, ratusan karyawan kurang diperhatikan. Konflik kedua terjadi sejak tahun 1989 hingga 1994, yang berujung pelepasan saham anggota keluarga pada 1995. Kini perusahaan murni dimiliki dan dikendalikan salah satu cucu Nyonya Meneer yaitu Charles Saerang. Sedangkan keempat orang saudaranya memilih untuk berpisah setelah menerima bagian masing-masing.

Tahun 2016, gelombang krisis melanda PT. Nyonya Meneer. Ribuan buruh dan pekerja mengalami keterlambatan gaji dan honor hingga berlarut-larut sehingga membuat para buruh melakukan unjuk rasa dan akhirnya tahun ini secara hukum dinyatakan Pailit.

Kurang luwih ngono ceritone lur. Piye rosomu, ndelok buruh-buruh akhire kelangan gawean, padahal kudu nafkahi anak bojo. Mugi-mugi diparingi kekuatan super. Kowe yo tetep kudu kuat ngladeni bojomu meski ora ngombe jamu. (Aji Srengenge)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here